SPEKTRUM: Jual Beli

Dalam beberapa kasus yang penah diteliti, petugas Pemilu turut terlibat dalam praktik jual beli suara (Umar, 2012).

Stefanus Arief Setiaji

6 Mar 2024 - 05.30
A-
A+
SPEKTRUM: Jual Beli

Ilustrasi pemilu

Bisnis, JAKARTA – Seorang kerabat berkabar bahwa dirinya masuk dalam daftar calon anggota legislatif di tingkat kabupaten/kota yang diusung satu partai politik besar. Dalam daftar internal yang dirilis, kerabat ini ada di nomor urut ke-8 calon anggota legislatif (caleg).

Lantas, dia mengkuti segala mekanisme yang ada di parpol. Seluruh persyaratan administrasi dipenuhi. Ketika pendaftaran caleg dimulai, dia bersama rombongan anggota parpol lain berbondong-bondong ke kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Saat pengumuman daftar calon sementara atau DCS caleg, nama kerabat ini ada di nomor urut ke-5.

Keberaniannya untuk terjun ke dunia politik, terus terang saja patut diacungi jempol. Jika dirunut dari silsilah keluarga, tidak ada satu pun keluarga besarnya yang berkecimpung di politik. Bicara modal uang, sudah dijamin tidak punya.

Satu-satunya modal yang diandalkan untuk bertarung cuma perkawanan semata.

“Saya sudah blak-blakan, kalau saya enggak punya uang, tapi tetap saja saya ditaruh. Nanti kalau dapat suara, dialihkan ke nomor urut ke-2. Itu strateginya. Pokoknya gimana caranya, petahana jangan sampai lolos lagi,” katanya dalam obrolan suatu ketika.

Sayangnya, restu orang tua tidak menghampirinya. Ketika menuju penetapan daftar calon tetap, dirinya memilih mundur.

Akan tetapi, cerita menempatkan sekondan di dalam satu kolom yang sama untuk kepentingan mencari suara, bukanlah kisah baru. Cara ini banyak dimainkan oleh para caleg, terutama yang berkantung tebal.

Mereka sudah tahu celah, titik mana saja dari perolehan suara pemilih yang bisa dialihkan. Kalau perlu, caleg yang punya modal besar ini membiayai seluruh kebutuhan kandidat lain agar jual beli suara bisa dilakukan dengan mulus.

Dalam beberapa kasus yang penah diteliti, petugas Pemilu turut terlibat dalam praktik jual beli suara (Umar, 2012).

Artinya, parpol dan semua orang politik sudah sangat lihai dengan fenomena itu. Apalagi, tokoh-tokoh politik yang malang melintang hingga lebih dari tiga periode duduk di kursi dewan. Mereka sangat memahami, pasar suara mana saja yang bisa dialihkan, dan pihak mana saja yang siap menjualnya.

Ironinya, celah jual beli suara dalam setiap perhelatan pemilu terus menerus dibiarkan. Satu-satunya instrumen yang diandalkan, yakni meningkatkan kesadaran masyarakat.

Sementara itu, masyarakat yang melek politik dan berupaya mencari informasi terhadap kandidat legislatif yang layak, justru parpolnya menutup diri. Seluruh profil dan informasi caleg ditutup rapat-rapat hanya dengan alasan agar informasi pribadi tidak disalahgunakan.

Alhasil, praktik pemilihan wakil rakyat di Republik ini hanya sekadar jadi lingkaran setan. Wakil rakyat yang terpilih sebagian besar stok lawas. Kalau pun muncul wajah baru, ya masih lingkaran keluarganya juga.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Yanita Petriella

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.