SPEKTRUM: Kapal Tua

Agak ironis ketika membandingkan perkembangan moda transportasi di Tanah Air. Ketika dunia aviasi berbicara pesawat teknologi tinggi hingga wisata ke luar angkasa, atau kereta cepat dan mobil listrik autonomous untuk transportasi darat, transportasi laut masih bicara soal kapal tua.

Thomas Mola

16 Des 2022 - 09.08
A-
A+
SPEKTRUM: Kapal Tua

Thomas Mola

Agak ironis ketika membandingkan perkembangan moda transportasi di Tanah Air. Ketika dunia aviasi berbicara pesawat teknologi tinggi hingga wisata ke luar angkasa, atau kereta cepat dan mobil listrik autonomous untuk transportasi darat, transportasi laut masih bicara soal kapal tua.  

Kapal penumpang sempat menikmati masa jaya sebelum era penerbangan bertarif rendah (low-cost carrier) menyerang. Kala itu, kapal penumpang menjadi salah satu moda transportasi andalan untuk bepergian antarpulau di Nusantara.  

Saya termasuk salah satu orang yang pernah menikmati asyiknya naik kapal dari Maumere menuju Surabaya. Bukan karena tiket pesawat mahal, tetapi memang karena sangat jarang pesawat yang terbang ke Flores kala itu.

Saat  ini, bepergian antarpulau dengan kapal mungkin menjadi alternatif terakhir bagi banyak orang yang tinggal di kota besar. Hal itu tidak berlaku bagi mereka yang tinggal di provinsi kepulauan dan pulau terluar.  

Pelabuhan dan kapal menjadi pilihan pertama sebagai pintu keluar orang dan barang. Akses ke bandara yang jauh, harga tiket pesawat yang mahal, hingga ingin menikmati perjalanan menjadi rupa-rupa alasan yang sering diutarakan.  

Sayangnya, kini banyak kapal penumpang kita sudah tua. PT  Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni), misalnya, masih mengoperasikan KM Umsini yang sudah berusia 38 tahun. Kapal termuda yang dikelola BUMN pelayaran ini ialah KM Gunung Dempo buatan 2008 atau berusia 14 tahun.

Kapal tua juga dimiliki oleh PT ASDP Indonesia Ferry (Persero). BUMN penyeberangan ini memiliki kapal yang beroperasi sejak 1964 atau berusia 58 tahun. Kapal-kapal tua ini mungkin layak menyandang gelar heritage.

Terkait kapal tua, pemerintah dan operator kapal sepakat bahwa kondisi kapal tidak dipengaruhi oleh rezim umur. Keselamatan penumpang disebut menjadi prioritas berkat perawatan rutin setiap tahun dan memenuhi standar keselamatan.

Upaya memenuhi standar keselamatan dan menghadirkan fasilitas hiburan yang memadai di kapal patut diapresiasi. Namun, hal itu tidak menghilangkan fakta bahwa kapal tua bikin penumpang was-was.   

Kapal tua juga tidak menguntungkan bagi BUMN pelayaran dan penyeberangan. Pasalnya, penyusutan membuat kapal lebih lambat dan lebih boros meneguk BBM. Belum lagi bicara spare part yang mungkin sudah tidak diproduksi.  

Fakta masih beroperasinya kapal tua rasanya cukup untuk menunjukkan moda transportasi laut masih sangat   dibutuhkan. Pemerintah seharusnya memberikan perhatian lebih termasuk dengan menghadirkan kapal baru atau yang lebih muda.

Perhatian dan menghadirkan kapal baru itu bukan perihal nostalgia lagu ‘Nenek  Moyangku Seorang Pelaut’, tetapi karena usia (kapal) tidak pernah bohong.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Nindya Aldila

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.