SPEKTRUM : Lelaki yang Terapit

Roger Dawson menyampaikan banyak hal tentang ‘talking-talking’. Salah satu yang saya ingat adalah tentang konsep penekanan waktu.

Leo Dwi Jatmiko

29 Sep 2023 - 06.38
A-
A+
SPEKTRUM : Lelaki yang Terapit

Beberapa hari lalu, saya dan istri saya berboncengan. Melewati jalanan gelap di samping rel kereta Bintaro. Kawasan yang punya catatan kelam tragedi kecelakaan kereta api.

Terus terang, saya dan istri bukannya takut. Justru kami cekikan ketika mendengar obrolan tiga lelaki yang berboncengan di atas sepeda motor saat lampu lalu lintas berwarna merah menyala.

“Sebelum putus, gua maunya talking-talking dulu,” kata lelaki yang duduk terapit dengan nada tinggi.

Saya memperkirakan pria itu sedang jatuh cinta. Hubungan dia dan kekasihnya, mungkin sedang tidak baik-baik saja atau dalam fase yang menjemukan. Alhasil, perlu ada pembicaraan untuk menjaga hubungannya bertahan.

Secara terjemahan kasar, ‘talking-talking’ mungkin artinya mengobrol. Namun, menurut saya, secara lebih dalam, kalimat itu juga dapat diartikan dengan bernegosiasi.

Roger Dawson menyampaikan banyak hal tentang ‘talking-talking’. Salah satu yang saya ingat adalah tentang konsep penekanan waktu. Konsep ini merupakan serapan dari dalil Vilfredo Pareto tentang 80/20.

Konsep awal dari negosiasi penekanan waktu ini adalah 80% dari kekayaan di sebuah negara, berada di tangan 20% masyarakat.

Konsep ini kemudian berkembang maknanya ketika diterjemahkan dalam negosiasi sehingga berbunyi 80% dari kesepakatan terjadi pada 20 menit terakhir yang tersedia.

Artinya, jika tuntutan diajukan pada pada awal negosiasi, peluang kesepakatan terjadi sangat minim. Namun, jika tuntutan diajukan pada pada 20 menit terakhir, mungkin masing-masing pihak akan lebih fleksibel.

Pada serial Peaky Blinders season 2 episode 6 memperlihatkan bagaimana konsep penekanan waktu berjalan.

Saat itu, Thomas Shelby bernegosiasi dengan gangster asal Yahudi tentang pembagian keuntungan dari ekspor. Negosiasi berjalan alot awalnya, hingga ketakutan akan bom yang akan meledak dalam waktu dekat, mencairkan pendirian gangster Yahudi.

Dalam kasus yang lebih nyata, konsep ini mungkin kita jumpai saat toko-toko pakaian di Tanah Abang jelang tutup. Negosiasi menjadi lebih cair, dan mudah tercapai titik temu saat sore hari. Harga menjadi lebih murah atau karena pedagang sudah mendapatkan keuntungan lebih dari cukup untuk dibawa pulang.

Pada kasus lelaki yang terapit, lelaki bonceng tiga seperti yang saya dengar obrolannya, atau apapun itu namanya, apakah terjadi ‘talking-talking’ seperti yang diinginkan, rasanya memang penting untuk mengadopsi pola 80/20.

Boleh jadi, keputusan untuk melanjutkan atau mengakhiri sebuah hubungan, terjadi dalam 20 menit terakhir. Artinya, pria harus lebih banyak mendengar wanita terlebih dahulu sebelum akhirnya mengajukan penawaran menjelang akhir pembicaraan.

Meski tidak ada jaminan mereka akan rukun kembali, minimal sudah mencoba.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Rayful Mudassir

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.