SPEKTRUM: Mataram Kuno

Memindahkan ibu kota karena beban berat yang dipikul Jakarta memang penting, tetapi menemukan lokasi yang punya potensi kuat menjadi sumber mata pencaharian baru bagi orang-orang juga sama pentingnya.

Sri Mas Sari

9 Des 2022 - 08.49
A-
A+
SPEKTRUM: Mataram Kuno

Presiden Jokowi pada acara Ibu Kota Nusantara Sejarah Baru Peradaban Baru di The Ballroom Djakarta Theater, Jakarta, Selasa (18/10/2022) - BPMI Setpres/Muchlis Jr.

Catatan sejarah memberi tahu kita bahwa Kerajaan Mataram Kuno atau Mataram Hindu memindahkan pusat pemerintahan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur pada abad ke-10. 

Mpu Sindok, raja Kerajaan Medang, menggeser pusat kerajaan dari kawasan Kedu ke sekitar Jombang pada 929 Masehi.

Ada beragam versi tentang alasan yang mendorong pemerintahan wangsa Isyana memindahkan pusat kerajaan. 

Teori van Bemmelen menyebut kepindahan ibu kota kerajaan karena letusan Gunung Merapi yang menyebabkan pralaya Mataram atau bencana yang membuat Mataram luluh lantak. Itu diperkirakan terjadi pada 924 hingga 929 Masehi.

Teori Spuler dan Bagley memperkirakan pemindahan dilakukan untuk menghindari serangan Kerajaan Sriwijaya. Teori lainnya mengemukakan Mataram Hindu menemukan lokasi yang menarik untuk dijadikan pusat kerajaan. 

Teori yang dikemukakan De Longh ini menjelaskan faktor penarik daripada sekadar faktor pendorong kepindahan pusat Medang ke Jatim. Lokasi yang dimaksud adalah kawasan Sungai Brantas. 

Kawasan itu dipilih dengan mempertimbangkan faktor alam dan ekonomi. Di sanalah urat nadi perekonomian Jawa Timur berada, yang menghubungkan pesisir di utara dengan pedalaman di tengah dan selatan. Maka, dibangunlah istana kerajaan oleh Mpu Sindok di sekitar lembah Sungai Brantas. 

Lewat aliran sungai besar itu pula, para pelaut dan pedagang dengan menggunakan perahu dan kapal berbagai ukuran membawa barang dari luar untuk dijual di hulu dan ‘kulakan’ hasil panen dari hulu untuk dibawa ke pelabuhan di utara.

Setelah memindahkan pusat kekuasaan, raja Mataram tidak hanya dapat mengontrol produksi lokal, tetapi juga menguasai pendapatan yang diperoleh dari keluar-masuk komoditas asing ke Jawa.

Dari sini kita merekam bahwa pemindahan pusat kerajaan Mataram Kuno dari Jateng ke Jatim bukan suatu keputusan yang asal-asalan, bukan sekadar meninggalkan legasi, melainkan melalui pertimbangan matang. 

Jelas sekali pemilihan Jatim sebagai pusat pemerintahan baru menimbang aspek-aspek ekonomi, selain faktor geografi . Dan, Brantas memberi secercah harapan untuk kehidupan kerajaan.

Magnet sekuat itulah yang kita tidak dapati dari rencana pemindahan ibu kota negara dari Jakarta ke Kutai Kartanegara dan Penajam Paser Utara yang riuh diperbincangkan hari-hari ini. 

Itu mungkin menjelaskan mengapa hingga kini belum ada satu pun peminat yang menunjukkan komitmen kuat lewat investasi meskipun pemerintah mengeklaim kepeminatan oversubscribed 39 kali dari ketersediaan lahan tahap awal di IKN. 

Barangkali investor tak melihat daya tarik yang cukup. Atau, barangkali investor tak cukup diyakinkan.

Memindahkan ibu kota karena beban berat yang dipikul Jakarta memang penting, tetapi menemukan lokasi yang punya potensi kuat menjadi sumber mata pencaharian baru bagi orang-orang juga sama pentingnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Jaffry Prabu Prakoso

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.