Free

SPEKTRUM : Membuat Malaikat Maut Lembur

Malaikat maut harus lembur dini hari itu. Di bawah hujan yang deras, tak kurang dari 157 nyawa harus dicabutnya dalam waktu bersamaan.

Reni Lestari

28 Feb 2024 - 07.40
A-
A+
SPEKTRUM : Membuat Malaikat Maut Lembur

Malaikat maut harus lembur dini hari itu. Di bawah hujan yang deras, tak kurang dari 157 nyawa harus dicabutnya dalam waktu bersamaan. Malam masih pekat, sekitar pukul 02.00 di Kampung Cilimus dan Kampung Pojok, Cimahi, Jawa Barat, 21 Februari 2005, ketika muncul ledakan besar yang terdengar mematikan.\n

Saat ini, jika Anda menelusuri peta Kota Cimahi, sudah tidak ada lagi Kampung Cilimus dan Kampung Pojok di atasnya. Keduanya terhapus dari peta beserta semua nyawa yang mungkin masih menggantung di alam mimpi pada dini hari itu.

Hari-hari ini, kita mengenang tragedi itu sebagai peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN). Episentrum ledakan berada di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwigajah seluas 25 hektare, dengan gunungan sampah mencapai 22 meter kala itu, kira-kira setara seperempat tinggi Monas. Dampaknya yang masif, karena jarak dari kedua kampung hanya sekitar 750 meter.

Ledakan gas metana di dalam tumpukan sampah disertai curah hujan yang tinggi memicu longsor gunungan sampah, menggulung segala kehidupan di sekitarnya. Segera setelah peristiwa nahas itu, TPA Leuwigajah ditutup, dan tidak lagi difungsikan setelah 20 tahun beroperasi.

Tahun ini, HPSN memasuki peringatan ke-19, sayangnya dengan situasi pengelolaan sampah dan kesadaran masyarakat yang sepertinya tidak banyak berubah. Lihat saja kondisi tumpukan sampah di Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat, yang telah mencapai 40 meter, kira-kira setara gedung 16 lantai.

Akhir pekan lalu, di tengah kegiatan river clean up di salah satu sudut bantaran Sungai Ciliwung di Bogor bersama komunitas World Clean-up Day (WCD) Indonesia, saya disapa warga dengan pernyataan yang cukup mengejutkan. Seorang pria paruh baya berkata “Sekolah tinggi-tinggi, kok mau-maunya mungut sampah!”

Saya hanya bisa menjawab sekenanya sambil meringis dalam hati. Meskipun tidak bisa menggambarkan pandangan masyarakat secara umum, pria itu mungkin mewakili sebagian dari kita yang masih abai terkait dengan sampah hasil rumah tangga yang bisa membawa petaka.

Tumpukan sampah yang bergumul di parit-parit Ciliwung juga menjadi potret nyata bahwa kita masih memperlakukan sungai sebagai tempat sampah bersama. Saya baru menyebut satu nama sungai. Ada ribuan sungai, dan puluhan ribu anak sungai di Indonesia, yang sebagiannya bernasib serupa dengan Ciliwung, mengalir untuk membawa sampah sampai ke hilir.

Apabila kebiasaan-kebiasaan lama tetap dilestarikan, waktu yang akan menjawab bahaya apa yang menanti di depan sana. Tentu kita tidak ingin kembali menjadi penyebab malaikat maut harus lembur lagi, seperti ketika Leuwigajah meledak dulu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Nindya Aldila

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.