Free

SPEKTRUM: Mencari Sembako

Bulog memproyeksikan ketersediaan beras hanya tersedia sekitar 399.550 ton hingga akhir 2022 jika tidak dilakukan penyerapan atau importasi. Padahal, target stok minimal di gudang diperkirakan pada kisaran 1,2 juta ton. Di sisi lain, Kementan kukuh untuk mencegah importasi beras terjadi.

Pandu Gumilar

29 Nov 2022 - 07.49
A-
A+
SPEKTRUM: Mencari Sembako

Petugas tengah mengecek stok beras Bulog. International Rice Research Institute menyatakan bahwa Indonesia telah mencapai swasembada beras sejak 2019. Lalu gugur setelah membuka keran impor. /Bisnis

JAKARTA – Belakangan polemik impor beras yang menjadi bahan pokok utama rakyat Indonesia kembali mencuat. Momentum impornya pun tepat sebelum pemilu 2024.

Saya jadi teringat momentum 2018 ketika keran impor beras dibuka deras. Jumlahnya pun tidak main-main, sebanyak 1,8 juta ton. Sehingga membuat Direktur Utama Bulog Budi Waseso kala itu pusing sebab banyak stok yang menumpuk.

Sampai dengan Maret kemarin pun, jumlah yang beras impor yang tersisa sampai dengan 50.000 ton. Kalau diibaratkan anak, usia beras itu cukup untuk masuk ke taman kanak-kanak atau playgroup.

Padahal, sebelumnya IRRI (International Rice Research Institute) menyatakan bahwa Indonesia telah mencapai swasembada beras sejak 2019. Pencapaian selama 27 bulan itu mendadak luluh, sebab Badan Urusan Logistik meminta jatah kuota impor.

Bulog memproyeksikan ketersediaan beras hanya tersedia sekitar 399.550 ton hingga akhir 2022 jika tidak dilakukan penyerapan atau importasi. Padahal, target stok minimal di gudang diperkirakan pada kisaran 1,2 juta ton. Di sisi lain, Kementan kukuh untuk mencegah importasi beras terjadi.

Mereka diminta memenuhi kebutuhan 600.000 ton beras ke Bulog hanya dalam 6 hari. Apalagi, Kementerian Pertanian mengeklaim produksi beras surplus 6 juta ton 2022. Maka itu, jika data itu tidak bisa dibuktikan maka DPR akan menyatakan klaim tersebut tidak valid.

Jika keran impor beras akan segera kembali dibuka, apakah ini menjadi sinyal komoditas bahan pokok lain juga akan ikut mengalami hal yang sama? Selain beras, keran impor yang menyala deras biasanya adalah gula dan garam. 

Pada 2018, Indonesia mengimpor gula sekitar 4 juta ton. Di antaranya untuk kebutuhan industri sebesar 3,6 juta ton, sedangkan sisanya adalah konsumsi masyarakat. Berdasarkan catatan Bisnis, Kemenko Perekonomian pun telah memberikan izin impor gula 500.000 ton untuk kebutuhan masyarakat pada 2022. 

Hal itu kemudian dikecam oleh para petani yang menyebut masih ada sisa 1,6 juta ton dari total gula dalam negeri 4,6 juta ton. Adapun konsumsi masyarakat mencapai 3 juta ton per tahun.

Sementara itu, impor garam yang terjadi pada 2018 mulai menunjukkan polemik. Pasalnya, Kejaksaan Agung mengendus adanya malpraktik yang melibatkan impor garam sebesar 3,77 juta ton. Jumlah itu setara dengan Rp2,05 triliun yang melibatkan 21 perusahaan. 

Lembaga Hukum itu menilai proses impor tidak memperhitungkan kebutuhan dalam negeri sehingga stok melimpah ruah.

Benang kusut importasi komoditas yang kerap melilit itu selalu berujung pada perbedaan data antarlembaga. 

Belum ada satu data valid yang bisa menjadi dasar pengambilan kebijakan. Jangankan data, coba deh googling sembako terdiri dari apa? Maka ada banyak definisi yang berbeda.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Jaffry Prabu Prakoso

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.