SPEKTRUM : Merawat Ruang Publik

Kemenkominfo mencatat, hingga Selasa 2 Januari 2024 teridentifikasi 203 isu hoaks terkait pemilu, dengan sebaran 2.882 konten melalui platform digital.

Fajar Sidik

9 Jan 2024 - 06.57
A-
A+
SPEKTRUM : Merawat Ruang Publik

Suasana yang lebih bernuansa toksik itu kerap mencemari ruang sosial setiap momen politik tiba. Polarisasi pendukung menciptakan arena debat kusir di berbagai ruang obrolan, dari warung kopi hingga media sosial.

Ya, debat tanpa argumentasi yang jelas masih menjadi semacam racun di masyarakat selama pesta politik berlangsung. Bahkan, muncul banyak rumor dan hoaks yang tidak terverifikasi berseliweran hingga ke ruang privat.

Kemenkominfo mencatat, hingga Selasa 2 Januari 2024 teridentifikasi 203 isu hoaks terkait pemilu, dengan sebaran 2.882 konten melalui platform digital. Paling tinggi 1.325 konten melalui Facebook, 947 konten di X (Twitter), 198 konten di Instagram, 342 konten di TikTok, 36 konten di Snack Video, dan 34 konten di Youtube.

Perang hoaks tersebut seharusnya tidak terulang pada momen Pemilu 2024. Untuk itu, upaya menjalankan pendidikan politik bagi calon pemilih menjadi tugas bersama.

Publik harus mendapatkan edukasi dengan baik agar tidak termakan isu-isu menyesatkan yang menodai semangat demokrasi.

Para agen sosial, tokoh masyarakat, hingga influencer dan buzzer politik sejatinya bertanggung jawab dalam memastikan hajatan pemilu kali ini berjalan lebih baik.

Dalam politik praktis, upaya menggiring opini publik tidak harus dengan kampanye hitam dan melempar kabar bohong yang merugikan secara mental dan material.

Tim sukses, wadah pemikir (think tank), dan penyusun skenario kampanye politik yang merupakan kelompok cerdik pandai, memiliki tanggung jawab moral yang besar dalam mentransformasikan pendidikan politik di masyarakat, serta menciptakan demokrasi berkualitas.

Demikian juga para kandidat capres, diharapkan tidak menampilkan sikap berlebihan dalam menyikapi setiap eskalasi isu yang bergulir. Apalagi, sikap itu dihadirkan langsung di arena debat resmi sebagai panggung beauty contest bagi calon pemimpin negeri.

Ingat, debat bukan hanya soal program dan janji manis kampanye. Mata publik pun memperhatikan betul karakter para kandidat, mulai dari cara berargumen, gerak tubuh, hingga sikap yang ditampilkan di atas panggung turut membentuk persepsi calon pemilih.

Sebagai masyarakat plural, Bangsa ini telah mampu merawat ke­bhi­­nekaan dalam kehidupan sosial. Semangat itu yang harus menjadi modal dalam berdemokrasi.

Tugas penting saat ini adalah menjaga ruang publik yang lebih kondusif. Setiap agen politik harus mampu menghadirkan etika dan praktik berdemokrasi yang jujur dan bertanggung jawab.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Rayful Mudassir

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.