SPEKTRUM : Pasar Tanah Abang, Dulu, Kini, & Nanti

Setiap hari ribuan orang menggantungkan hidupnya di sini, mulai dari sektor formal hingga informal dengan perputaran uang miliaran rupiah.

Indyah Sutriningrum

22 Sep 2023 - 07.13
A-
A+
SPEKTRUM : Pasar Tanah Abang, Dulu, Kini, & Nanti

Indyah Sutriningrum

Hari-hari ini Pasar Tanah Abang menjadi perhatian menyusul munculnya keluh kesah dari pedagang yang merasakan kian turunnya transaksi di pusat grosir tekstil terbesar di Asia Tenggara itu. Kian maraknya transaksi digital dituding menjadi salah satu penyebabnya.

Pasar Tanah Abang sebagai pusar grosir adalah salah satu saksi berputarnya ekonomi riil di Indonesia. Setiap hari ribuan orang menggantungkan hidupnya di sini, mulai dari sektor formal hingga informal dengan perputaran uang miliaran rupiah.

Teriakan penjaga kios yang menawarkan dagangannya, hingga lalu lalang para kuli angkut berbaur menjadi satu orkestrasi kegiatan bisnis yang dinamis.

Pusat tekstil Tanah Abang menempati areal seluas 2,6 hektare dengan luas bangunan 11.154 meter persegi. Tempatnya di jantung Kota Jakarta dapat dicapai dengan transportasi pribadi, dan umum, mulai dari angkot, Transjakarta, hingga kereta komuter.

Berdasarkan catatan sejarah, Pasar Tanah Abang atau Pasar Tenabang pertama kali didirikan oleh seorang pejabat VOC yaitu Yustinus Vinck pada 1735. Pada 1926 pemerintah membangun kembali Pasar Tanah Abang. Namun selama penjajahan Jepang, keberadaannya terbengkalai.

Pada 1973 Pasar Tanah Abang diremajakan kembali. Namun, dalam perjalanannya, Pasar Tanah Abang mengalami beberapa kali kebakaran, di antaranya pada 1974, 1975, dan 2003. Bahkan, kebakaran yang terjadi pada 19 Februari 2003 itu merusak sedikitnya 2.400 kios di Blok A, C, D, E.

Pembangunan gedung baru pascakebakaran menjadikan Blok A dan Blok B tampil lebih modern dan mampu menarik lebih banyak pengunjung untuk belanja. Keberadaan Pasar Tanah Abang pun mampu menyihir para pembeli dari dalam negeri dan pelancong dari negeri Jiran.

Kemacetan lalu lintas yang terjadi di seputaran Tanah Abang pun tidak menyurutkan orang untuk berbelanja. Suasana desak-desakan juga tidak menjadi halangan bagi pembeli untuk berbelanja terutama pada peak season.

Di sisi lain, teknologi digital secara perlahan mulai merebak dan mempengaruhi cara berbelanja di Tanah Air. Ditambah dengan pandemi Covid-19, memukul telak sektor ritel termasuk Pasar Tanah Abang. Sementara itu, transaksi online kian meroket.

Setelah pandemi dinyatakan berlalu, para pedagang kembali menata usahanya. Di tengah upaya untuk mengembalikan masa kejayaan, Tanah Abang juga harus menghadapi era digital yang kian masif. Selain e-commerce, social commerce kian merebak dengan berbagai live shopping yang dilakukan oleh para selebritas dan pemengaruh.

Sebagai pusat perekonomian yang menjadi hajat hidup orang banyak, keberadaan Tanah Abang patut menjadi perhatian serius. Tanah Abang adalah satu contoh saja, masih banyak sentra-sentra bisnis yang mungkin bisa bernasib sama. Apalagi ke depan, generasi milenial, Z dan Alpha yang hari-harinya tak lepas dari gawai akan menjadi pemain utama di berbagai sektor kehidupan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Asteria Desi Kartikasari

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.