Free

SPEKTRUM : Penyetaraan Bangsa-Bangsa

Dalam diskursus publik terkait transisi energi dan perubahan iklim, seringkali mempertemukan strategi dua kubu, negara maju dan negara berkembang. Diskusi kadang menyorot seolah-olah yang dilakukan negara maju jauh lebih baik ketimbang negara berkembang.

Lukas Hendra

9 Nov 2022 - 07.33
A-
A+
SPEKTRUM : Penyetaraan Bangsa-Bangsa

Sketsa Penulis Lukas Hendra Tri Meliyanto

Bisnis, JAKARTA – Dalam diskursus publik terkait transisi energi dan perubahan iklim, seringkali mempertemukan strategi dua kubu, negara maju dan negara berkembang. Diskusi kadang menyorot seolah-olah yang dilakukan negara maju jauh lebih baik ketimbang negara berkembang.

Namun, diskusi telah gagal menyorot bagaimana negara dengan ekonomi besar itu telah berpuluh-puluh tahun lamanya menjaga deru mesin ekonominya dengan memanfaatkan energi fosil. Sementara, negara berkembang yang saat ini masih memanfaatkan energi fosil dalam kebijakan transisi energinya seakan memiliki dosa besar.

Bahkan, tak jarang dengan masih adanya pemanfaatan energi fosil justru dinilai menjadi hambatan bagi pendanaan transisi energi di negara itu. Padahal, kondisi geografis setiap negara berbeda-beda. Pola pikir sistem kelistrikan negara kontinental, tak dapat dibandingkan dengan sistem kelistrikan negara kepulauan.

Di negara kontinental, sistem kelistrikan telah terhubung. Tak jarang ekspor-impor listrik terjadi karena wilayah negaranya yang kecil dengan keterbatasan sumber energi. Berbeda, negara kepulauan mengandalkan sistem terisoler menyusul losses besar bila dihubungkan menggunakan kabel laut berdaya tinggi.

Oleh karena itu, bauran energi negara kepulauan tak dapat dibandingkan dengan negara kontinental. Akan lebih adil bila membandingkan bauran energi pada masing-masing sistem kelistrikan, bukan per negara.

Bila hal ini dibuka ke publik, bukan tak mungkin pemodal, lembaga pemeringkat, maupun penjamin emisi justru tercengang dengan apa yang telah dilakukan Indonesia. Di beberapa sistem kelistrikan telah memiliki bauran energi baru terbarukan dengan komposisi besar. Kendati memang di Jawa, dominasi fosil masih kuat.

Bahkan, penggantian pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) di pulau-pulau kecil dengan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) sejak 2015, telah ditiru oleh negara-negara di Kepulauan Pasifik yang memiliki tipe sama, yakni negara kepulauan.

Menengok perkembangan ini, jelas bahwa tak perlu lagi ada dikotomi negara maju dan negara berkembang dalam implementasi transisi energi. 

Masih adanya pemanfaatan energi fosil seharusnya bukan dipandang sebagai hambatan, melainkan sebagai pasar bagi pemilik modal bahwa negara itu belum sepenuhnya beralih ke energi bersih.

Bila perubahan iklim merupakan masalah global. Transisi energi tak perlu menghitung nilai ekonomis melainkan komitmen global untuk mengalihkan investasi ke negara-negara yang masih memanfaatkan energi fosil dalam jumlah besar. Apapun negaranya, baik negara maju maupun berkembang, guna menekan emisi karbon. 

Di sinilah, ajang tahunan sekelas COP27 di Mesir pada 6-18 November 2022 seharusnya mengambil peran. Tak lain dan tak bukan, adalah menyiapkan skema investasi global di bidang transisi energi, di tengah perlambatan ekonomi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Yanita Petriella

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.