Spektrum: Petruk Syndrome

The New Petruk memang berbeda. Tampilannya ngelite. Gaya hidupnya serba wah, pakaiannya juga branded dan perlente.

Edi Suwiknyo

4 Jan 2024 - 07.07
A-
A+
Spektrum: Petruk Syndrome

Nomor urut capres. /dok Bisnis

Bisnis, JAKARTA – Tiba giliran goro-goro. Bagian yang paling ditunggu di pertunjukan wayang kulit. Buat yang tidak tahu goro-goro silakan googling sendiri. Mau tak jelasin, agak rumit, sama rumitnya dengan istilah Es Ge I E, yang muncul pada debat beberapa pekan lalu.

Cerita dimulai ketika Semar menuju teras rumahnya. Edang edong edang edong, jalannya pelan, tidak gesit, seperti mentok. Ini bukan body shaming ya, karena karakter Semar memang begitu. Gemoy dan lucu. Gemoy-nya natural, tidak dibuat-buat. Meski begitu, Semar adalah sosok bijaksana, Batara Ismaya, penasihat para kesatria.

Namun akhir-akhir ini Semar sedang gundah gulana. Sitik-sitik melow, ketika ingat muridnya, Petruk. Petruk adalah murid kesayangan. Perawakannya tinggi, kurus, dan hidungnya lancip, mirip Pinokio. Kalau jalan bunyi klutak-klutuk, karena volume otaknya lebih kecil dari ukuran batok kepalanya. Jadi sering geser. Guyon.. ini guyon. Intinya, karakter Petruk itu lucu dan menghibur.

Sifat dan tabiat Petruk berubah drastis sejak Ki Dalang mementaskan lakon ‘Petruk Dadi Ratu’. Ia mendadak populer, dipuja-puji banyak orang. Omongannya pun mulai mirip politisi. Tidak bisa dipegang. Esok dele (kedelai) sore tempe. Mencla-mencle bikin Semar tambah nggresulo.

“Ketenaran dan kekuasaan membuat orang lupa ingatan. Lupa asal-usul. Lupa segala-galanya. Tamak.”

“Kenapa to Kyai Semar?”

“Petruk Ki Dalang, gara-gara sampean, lali semuanya. Dulu saya didik baik-baik. Ane ajarkan aji-aji noto diri. Lamun siro sekti, ojo mateni. Lamun siro banther, ojo ndisiki. Lamun siro pinter, ojo minteri. Tapi, setelah lakon itu dipentaskan dan meledak ke seantero dunia, semua itu diterabas.”

“Sek Kyai Semar, kok ai kek pernah denger, seperti petuah penguasa di negeri seberang.“

“Pak Jokowi, maksudmu? Oh iya, ane ngefans sama beliaune. Makanya tak ajarkan ke Petruk, supaya meneladani sikap Pak Jokowi, yang sumeleh, sepi ing pamrih rame ing gawe. Bisa ngerem nafsu angkara,“ timpal Kyai Semar.

Sejak tenar Petruk memang lupa daratan. Hidupnya seperti di atas awan. Jarang menginjak bumi. Mau apa saja ada, tinggal tunjuk jari. The New Petruk memang berbeda. Tampilannya ngelite. Gaya hidupnya serba wah, pakaiannya juga branded dan perlente. Sosok sederhana, merakyat, dan pakai outfit merek dalam negeri itu hanya dongeng masa lalu.

Kalau kata orang bijak, kekuasaan dan popularitas itu seperti candu. Addicted. Dan, Petruk sedang menikmatinya, mabuk semabuk-mabuknya. “Jij-jij (bahasa londo) adalah mijn slaaf (budakku). Titahku berarti perintah. Perkataanku berarti kehendak-ku,” gumam Petruk.

Petruk bangga betul dengan pencapaiannya. Ia tak peduli dengan asal-usulnya. Ia hapus dan buang masa lalunya ke tong sampah. Siapa itu Semar, Gareng, dan Bagong. Mereka rakyat biasa. Hanya punakawan, pelayan para kesatria. “Dan aku kini kestaria-nya, tuanmu!”

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Yanita Petriella

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.