SPEKTRUM: Pilihan Anak Muda

Berdasarkan data salah satu lembaga survei yang menunjukkan Gen Z usia di bawah 26 tahun memberikan dukungan hingga 65,9% untuk pasangan calon Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka.

Oktaviano Donald Baptista

20 Feb 2024 - 08.35
A-
A+
SPEKTRUM: Pilihan Anak Muda

Bisnis, JAKARTA — Pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka diklaim menjadi pilihan mayoritas pemilih muda pada Pilpres 2024. 

Klaim itu disampaikan Komandan Tim Kampanye Nasional (TKN) Fanta Arief Rosyid Hasan berdasarkan data salah satu lembaga survei yang menunjukkan Gen Z usia di bawah 26 tahun memberikan dukungan hingga 65,9% untuk pasangan calon (paslon) 2.

Pada kelompok Gen Y muda, usia 26–33 tahun, dan Gen Y madya usia 34–41 tahun, paslon 02 disebut tetap dominan dengan dukungan masing-masing 59,6% dan 54,1%. 

“Daya tarik pasangan ini terlihat luas, merentang dari generasi muda hingga kelompok usia yang lebih tua,” kata Arief.

Keunggulan paslon itu pada basis pemilih kaum muda tampak ‘mirip’ dengan catatan Ferdinand “Bong-bong” Marcos Jr. dalam Pemilu 2022 di Filipina.

Berpasangan dengan Sara Duterte-Carpio, putri Rodrigo Duterte, Presiden Filipina sebelumnya, Bongbong menang mutlak pada pemilu dan dilantik menjadi Presiden ke-17 pada 30 Juni 2022.

Hasil pemilu itu menjadi perhatian dunia lantaran ayah Bongbong yang merupakan presiden ke-10 Filipina dicap sebagai diktator. Pemerintahan Marcos Sr. (30 Desember 1965–25 Februari 1986) diwarnai pembunuhan lawan politik, pelanggaran HAM, dan korupsi ketika jutaan rakyat hidup miskin dan negara dililit utang menggunung.

Sejumlah laporan dan analisis pakar menunjukkan bahwa kemenangan Marcos Jr. setelah 36 tahun lalu ayahnya dilengserkan tercapai berkat sejumlah faktor.

Pertama, keluarga Marcos telah menghabiskan waktu menahun untuk memoles citra otoriter Marcos Sr. dengan klaim bahwa periode pemerintahannya menjadi era keemasan Filipina. 

Kedua, masifnya populasi pemilih muda yang tak mengalami langsung kediktatoran Marcos Sr. dan minimnya edukasi sejarah di sekolah. Pendukung Bongbong tak percaya keluarga Marcos telah menjarah uang negara.

Faktor kedua itu mungkin patut diragukan. Namun, Marco Garrido, sosiolog University of Chicago, memberikan jawaban yang mungkin bisa diterima. 

“Keyakinan pada demokrasi liberal mengering. Nostalgia pada era Marcos tak akan masuk akal kecuali diletakkan dalam konteks kekecewaan selama 36 tahun.”

Sejumlah faktor dalam pemilu Filipina itu tentu lekat dengan keseharian di Indonesia. Pengalaman pemerintah yang otoriter dan korup, reformasi yang belum efektif menuntaskan problem mendasar, terutama korupsi, media sosial yang dipenuhi disinformasi, populisme sempit yang terus disuarakan elit konservatif, dan masifnya populasi kaum muda tampak di Indonesia. 

Bukan tak mungkin, kita mengalami hal serupa. Apalagi, generasi muda yang sering kali dicap pragmatis cenderung lekat dengan hal banal yang tengah viral. Alih-alih tak puas pada demokrasi, mereka berfokus pada ‘goyangan’ dan ‘oke gas’.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Jaffry Prabu Prakoso
Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.