SPEKTRUM : Tak Ada Seni di Bumi yang Hancur

Saat protes dan demonstrasi damai tak lagi digubris, sejumlah aktivis iklim mengambil langkah ekstrem dengan menyasar karya seni rupa berharga sebagai objek protesnya.

Nirmala Aninda

9 Feb 2024 - 06.50
A-
A+
SPEKTRUM : Tak Ada Seni di Bumi yang Hancur

Saat protes dan demonstrasi damai tak lagi digubris, sejumlah aktivis iklim mengambil langkah ekstrem dengan menyasar karya seni rupa berharga sebagai objek protesnya.

Setidaknya sejak Mei 2022, aktivis lingkungan hidup yang tergabung dalam kelompok seperti Just Stop Oil dan Extinction Rebellion menggunakan kue, sup, cat, dan lem untuk menarik perhatian pengunjung museum.

Dengan melemparkan cat dan makanan ke kaca pelindung lukisan terkenal, para aktivis ingin menyampaikan pesan yang kuat —tidak ada seni di bumi yang hancur.

Upaya perusakan karya maestro abad ke-21 dimulai di Jerman atas inisiatif Letzte Generation. Pada 24 Oktober 2022, sepasang pengunjuk rasa melemparkan kentang tumbuk ke lukisan Claude Monet bertajuk Grainstacks yang bernilai lebih dari US$110 juta.

Serangan lainnya melibatkan anggota Just Stop Oil yang mencoba merekatkan kepalanya ke lukisan Johannes Vermeer, Girl with A Pearl Earring, di Museum Mauritshuis.

Pada 11 November 2022, dua anggota kelompok aktivis iklim Norwegia, Stopp Oljeltinga, mencoba merekatkan tangan mereka ke bingkai The Scream karya Edvard Munch di Museum Nasional Norwegia.

Terbaru, pengunjuk rasa lingkungan hidup melemparkan sup ke lukisan Mona Lisa yang terlindung kaca di Museum Louvre. Riposte Alimentaire mengaku bertanggung jawab atas aksi tersebut sebagai aksi penuntutan hak atas makanan sehat sistem agrikultur berkelanjutan.

Para aktivis iklim ini mengatakan, tujuan mereka bukan untuk merusak seni. Sebaliknya, mereka ingin meningkatkan kesadaran mengenai darurat perubahan iklim dan menarik anggota baru.

Tindakan vandalisme lingkungan tampaknya bertujuan untuk menekan para pemimpin dunia agar mengambil tindakan radikal pada konferensi tingkat tinggi.

Meski bertujuan mulia, aksi ini tentu bukan tanpa penentangan, khususnya dari kurator dan pemilik galeri. Dalam sebuah pernyataan bersama, mereka menyayangkan sasaran protes aktivis yang menargetkan karya seni berharga.

Pernyataan itu juga menggarisbawahi bahwa aktivis yang bertanggung jawab atas hal ini terlalu meremehkan peninggalan sejarah, yang harus dilestarikan sebagai bagian dari warisan budaya dunia.

Walaupun setiap gerakan aktivisme berbeda-beda, kita telah melihat bahwa protes yang damai dan tanpa kekerasan dapat diterima oleh orang-orang yang percaya pada perubahan iklim.

Bagi masyarakat yang tidak simpatik, kemarahan yang tersirat dalam tindakan para aktivis tampak seperti perasaan yang berlebihan. Namun, kemarahan itu berakar pada penderitaan dan kehilangan yang nyata.

Aktivis iklim dengan cermat mementaskan protes mereka dengan menekan dampak pada target. Mereka, bagaimanapun juga, hanya memohon pemangku kepentingan untuk melestarikan dunia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Nindya Aldila

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.