Free

Sriwijaya Air yang Sudah Jatuh Tertimpa Tangga

Kondisi Sriwijaya sebenarnya sudah kritis. Dari sisi operasional, Sriwijaya Air dan entitas anaknya, Nam Air, hanya memiliki masing-masing sekitar 3 hingga 4 pesawat untuk melayani penumpang.

Lorenzo Anugrah Mahardhika

29 Apr 2024 - 20.50
A-
A+
Sriwijaya Air yang Sudah Jatuh Tertimpa Tangga

Bisnis, JAKARTA – Sriwijaya Air tengah mengalami berbagai tantangan. Maskapai kembali terseret ke kepailitan. Di saat yang sama, HL ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi tata niaga timah di IUP PT Timah (TINS) Tbk.

HL diduga adalah Hendry Lie selaku founder atau pemilik maskapai penerbangan PT Sriwijaya Air.

Pemerhati penerbangan Alvin Lie menyatakan bahwa masalah-masalah yang dihadapi Sriwijaya akan makin memperumit upaya maskapai tersebut untuk beroperasi dengan optimal.

Baca juga: Sosok Hendry Lie, Bos Sriwijaya Air yang Jadi Tersangka Korupsi Timah

Sebelum munculnya kasus korupsi yang menyeret HL, tambah Alvin, kondisi Sriwijaya sebenarnya sudah kritis. Dari sisi operasional, Sriwijaya Air dan entitas anaknya, Nam Air, hanya memiliki masing-masing sekitar 3 hingga 4 pesawat untuk melayani penumpang.

Di sisi lain, Sriwijaya Air juga belum lama ini baru lolos dari jerat kepailitan setelah mendapat persetujuan dari para krediturnya untuk restrukturisasi utang melalui sidang penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU).

Dengan adanya kasus ini, Alvin menyebut Grup Sriwijaya Air akan makin sulit memenuhi komitmennya sebagaimana yang disetujui dalam perjanjian PKPU. Jika hal tersebut terjadi, maka perusahaan pun harus mencabut kesepakatan tersebut.

"Dengan adanya pembatalan kesepakatan tersebut [PKPU], maka Sriwijaya Air akan kembali terancam kepailitan. Tentu ini akan berat buat karyawan-karyawan dan juga mitra kerjanya," kata Alvin saat dihubungi, Senin (29/4/2024).

 

 

Berdasarkan catatan Bisnis, perjanjian PKPU tersebut disepakati di Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Rabu (12/7/2023).

Proses PKPU Sriwijaya Air telah resmi berakhir damai. Sebanyak 100 persen kreditur separatis telah menyetujui rencana perdamaian, sementara kreditur konkuren yang sepakat sebanyak 92 persen. Adapun, jumlah utang Sriwijaya Air dalam PKPU tersebut sebesar Rp7,3 triliun.

Kuasa Hukum Sriwijaya Air, Hamonangan Syahdan Hutabarat menyebut sidang PKPU menyepakati tenggat waktu penyelesaian utang debitur kepada para krediturnya cukup beragam mulai dari 8 tahun hingga maksimal 15 tahun.

"Untuk beberapa kreditur yang sifat tagihannya lessor nonaktif, sudah tidak ada mesin, tidak ada pesawat karena sudah ditarik itu [tenggang waktu penyelesaian utang] 15 tahun," kata Syahdan.

Sebelumnya Dirdik Jampidsus Kejaksaan Agung RI Kuntadi menyampaikan HL merupakan sosok yang telah ditetapkan pihaknya menjadi tersangka dalam kasus timah ini.

Baca juga: Pemiliknya Kena Kasus Korupsi Timah, Sriwijaya Air Terancam Pailit?

“Benar, HL memang pernah diperiksa [29 Februari 2024],” ujarnya di Kejagung.

Dia menjelaskan peran HL dalam kasus timah. HL selaku beneficiary owner dan tersangka lainnya Fandy Lingga (FL) sebagai marketing PT Tinindo Internusa (TIN).

Singkatnya, untuk HL dan FL berperan untuk pengkondisian pembiayaan kerja sama penyewaan alat peleburan timah. Terlebih, agar seolah-olah legal, keduannya membentuk dua perusahaan boneka.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Jaffry Prabu Prakoso
Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.