Strategi Berbalik Untung Bank Amar

Per kuartal I/2023, emiten bank digital AMAR berhasil membalikkan kinerja dengan mencatatkan laba bersih. Hal ini dianggap dapat menjadi modal perbaikan terutama kinerja dari perbankan digital dan kolaborasinya dengan pemegang saham baru Investree.

Rinaldi Azka

18 Jul 2023 - 15.45
A-
A+
Strategi Berbalik Untung Bank Amar

Bisnis, JAKARTA - Bank digital, PT Bank Amar Indonesia Tbk. (AMAR) mencatatkan pertumbuhan signifikan pada perbankan digitalnya serta dinilai siap masuk ke pasar UMKM.

Hal itu terlihat dari jumlah pengguna aktif dan pengunduhan aplikasi bank Amar. "Per 31 Desember 2022 perbankan digital AMAR telah mencatat pertumbuhan signifikan dengan peningkatan pengguna aktif sebesar 513 persen dan peningkatan pengunduhan sebesar 317 persen," demikian keterangan Bank Amar pada Jumat (14/7/2023).

Sejalan dengan itu, proporsi dana murah (CASA) perseroan juga mengalami peningkatan. Presiden Direktur Amar Bank Vishal Tulsian mengatakan beban bunga perseroan, terutama dari deposito berjangka, bisa ditekan.

"Kami berhasil menurunkan beban bunga sebesar 61,4 persen yoy menjadi Rp18,54 miliar pada kuartal pertama 2023," ujarnya.

Sementara itu, pendapatan operasional lainnya mengalami pertumbuhan yang signifikan sebesar 61,8 persen yoy menjadi Rp93,092 miliar.

Dari sisi pinjaman, Amar Bank memiliki platform bernama Tunaiku. Sepanjang tahun lalu, perseroan berfokus meningkatkan layanan Tunaiku dan produk lainnya. Jumlah penyaluran pinjaman Tunaiku mengalami pertumbuhan tahunan rata-rata sebesar 84 persen dari 2015-2022 dan diharapkan akan terus berkembang.

Pada 2022, sebesar 49,38 persen dari total pinjaman AMAR dialokasikan untuk sektor mikro. Sementara, segmen UKM masing-masing hanya berkontribusi sebesar 0,04 persen dan 4,44 persen dari total pinjaman yang diberikan. 

Dalam kolaborasinya dengan Investree sebagai pemegang saham minoritas diharapkan dapat meningkatkan nilai Amar Bank dan menciptakan peluang ekspansi yang signifikan di sektor SME, yang memungkinkan AMAR untuk memperluas ekosistemnya dan meningkatkan aktivitas pemberian pinjaman secara signifikan. 

Baca Juga : Pentingnya Segmentasi UMKM Demi Pendanaan Fintech

Sementara itu, Kepala Riset NH Korindo Sekuritas Indonesia Liza Carmelia Suryanata dalam risetnya memproyeksikan pertumbuhan rasio dana murah atau CASA Ratio sebesar 22,44 persen dan perkembangan simpanan AMAR hingga 2025.

Menurutnya, kolaborasi dengan Investree memberikan potensi segmen UMKM. Investree sebagai pemegang saham minoritas diharapkan dapat meningkatkan nilai Amar Bank dan menciptakan peluang ekspansi yang signifikan di sektor UMKM, yang memungkinkan AMAR untuk memperluas ekosistemnya dan meningkatkan aktivitas pemberian pinjaman secara signifikan. 

"Pada tahun 2022, sebesar 49,38 persen dari total pinjaman AMAR dialokasikan untuk sektor Mikro, sedangkan segmen UKM masing-masing hanya berkontribusi sebesar 0,04 persen dan 4,44 persen dari total pinjaman yang diberikan. Angka ini menunjukkan adanya potensi besar untuk pengembangan bisnis, terutama dalam hal penyaluran kredit kepada segmen UMKM," terangnya.

Baca Juga : Simpanan Minimum untuk Jadi Nasabah Prioritas BCA hingga

Sementara itu, dari produk Tunaiku, sebagai platform pinjaman digital, dan Senyumku, sebuah aplikasi perbankan digital yang saat ini telah disatukan dan berubah nama menjadi Amar Bank, terus berperan sebagai kekuatan pendorong di balik penetrasinya ke pasar Indonesia. 

Terlepas dari pemberian pinjaman yang berhati-hati, strategi ini terbukti bijaksana karena memungkinkan AMAR untuk memprioritaskan efisiensi. Pendekatan ini telah berhasil, dengan menghasilkan perubahan positif pada hasil laba bersih pada kuartal pertama tahun 2023 dan diharapkan dapat berkelanjutan dan stabil dalam beberapa tahun mendatang. 

"Jumlah penyaluran pinjaman Tunaiku mengalami pertumbuhan tahunan rata-rata sebesar 84% dari tahun 2015-2022 dan diharapkan akan terus berkembang," urainya.

Liza dalam risetnya merekomendasikan beli untuk AMAR, dengan target harga sebesar Rp392. Target harga ini naik sebesar 39 persen dari harga penutupan Rp284 pada 6 Juli 2023.(Arlina Laras)

Baca Juga : Kesiapan Para Bank Lunasi Obligasi Jatuh Tempo Juli 2023 

-----

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnisindonesia.id tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Rinaldi Azka
Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.