Strategi MIND ID Perkuat Penghiliran Dalam Negeri

BUMN Holding Industri Pertambangan atau Mining Industry Indonesia (MIND ID) tengah mematangkan rencana akuisisi sejumlah tambang lithium di luar negeri. Aksi korporasi ini disusun di saat perusahaan sedang memperkuat upaya penghiliran di dalam negeri.

Rayful Mudassir

25 Feb 2023 - 19.25
A-
A+
Strategi MIND ID Perkuat Penghiliran Dalam Negeri

Aktivitas produksi timah di pabrik PT Timah, Tbk. anggota BUMN Holding Industri Pertambangan atau Mining Industry Indonesia (MIND ID). Dok MIND ID

Bisnis, JAKARTA - BUMN Holding Industri Pertambangan atau Mining Industry Indonesia (MIND ID) tengah mematangkan rencana akuisisi sejumlah tambang lithium di luar negeri. Aksi korporasi ini disusun di saat perusahaan sedang memperkuat upaya penghiliran di dalam negeri. 

Pemetaan itu dilakukan seiring dengan komitmen pemerintah untuk mengamankan bahan baku baterai kendaraan listrik tersebut yang sebagian besar masih impor saat ini. 

“Negara-negara dengan cadangan lithium yang besar, antara lain Australia, Argentina, Chili, dan Bolivia,” kata SVP Corporate Secretary MIND ID Heri Yusuf saat dihubungi, Selasa (21/2/2023). 

Heri menegaskan, holding tambang pelat merah itu sudah menyiapkan sejumlah opsi pendanaan untuk membiayai akuisisi tambang lithium di luar negeri tersebut. Namun, langkah itu masih terus dikaji oleh pemerintah. 

BACA JUGA: Reforestasi MIND ID, 17.267 Hektare Bekas Tambang Telah Disulap

Upaya akuisis diharapkan dapat mengamankan pasokan bahan baku baterai listrik sembari menjaga keekonomian proyek yang menjadi prioritas pemerintah saat ini. 

Berdasarkan catatan MIND ID, industri hulu tambang dalam negeri masih mengimpor lithium hydroxide dari China, Australia, hingga Chili dengan kebutuhan sekitar 70.000 ton setiap tahunnya. 

Selain itu, grafit sebagai salah satu bahan baku baterai kendaraan listrik juga masih diimpor dari China, Brasil, dan Mozambik dengan volume mencapai 44.000 ton per tahun. 

Beberapa mineral logam lain yang ikut diimpor, di antaranya mangan sulfat dan kobalt sulfat yang pembeliannya masing-masing 12.000 ton per tahun. Impor itu mengambil 20 persen dari porsi bahan baku baterai kendaraan listrik yang belum dipenuhi dari tambang mineral logam domestik. 


PENGHILIRAN

Aksi korporasi ini disusun di saat holding plat merah sedang menggencarkan pembangunan smelter dari para anggota. Direktur Utama MIND ID Hendi Prio Santoso memastikan beberapa proyek strategis guna mendukung hilirisasi berlangsung sesuai dengan target yang telah ditetapkan. 

PT Timah Tbk misalnya mengembangkan proyek smelter berteknologi TSL (Top Submerged Lance) Ausmelt Furnace. Melalui pabrik ini, PT Timah mampu mengolah atau meleburkan konsentrat biji timah dengan kadar 40 persen (low grade). 

Proses peleburan lewat teknologi itu diklaim lebih cepat dan lebih efisiensi sekitar 25 persen - 34 persen dibandingkan dengan smelter eksisting.

Sementara itu, PT Antam Tbk juga memastikan smelter feronikel di Halmahera Timur mulai beroperasi pada tahun ini. Diikuti PT Freeport Indonesia yang sedang mengejar progress proyek smelter tembaga terbesar di dunia berlokasi di Manyar, Gresik, di Kawasan JIIPE. 

Proyek smelter timah tembaga tersebut ditargetkan rampung pada akhir tahun 2023 dan akan mulai beroperasi setidaknya pada pertengahan 2024. 

“Diperlukan kolaborasi dan sinergi berbagai pihak untuk bisa mewujudkan cita – cita hiliriisasi di Indonesia guna menambah nilai yang lebih maksimal untuk kemakmuran rakyat Indonesia. Karena MIND ID mengelola sumber daya alam untuk peradaban, kemakmuran, dan masa depan yang lebih cerah," katanya dalam keterangan resmi, Sabtu (25/3/2023)


MINERAL KRITIS

Pemerintah Australia Barat dan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia sebelumnya menandatangani memorandum of understanding (MoU) untuk mengeksplorasi peluang kemitraan mineral kritis untuk menopang industri baterai dan kendaraan listrik. 

Penandatanganan MoU itu dilakukan di Perth, Australia Barat, Kamis (21/2/2023), sebagai tindak lanjut dari komitmen yang dibuat dalam pertemuan B20 dan G20 di Bali pada November 2022 lalu. 

Ketua Umum Kadin Indonesia Arsjad Rasjid mengatakan, kemitraan pada rantai pasok mineral kritis itu bakal meningkatkan daya tawar kedua negara pada pengembangan ekosistem kendaraan listrik global mendatang. 

Adapun, Australia menjadi negara pemasok utama lithium yang menjadi komponen utama pembentuk baterai listrik. Sementara itu, Indonesia dikenal sebagai produsen utama bijih nikel yang menjadi komponen inti penyusun baterai setrum. 

“Kita harus memanfaatkan kesempatan ini untuk bersama-sama mengembangkan pabrik manufaktur baterai di Indonesia dengan memanfaatkan lithium Australia dan investasi yang menguntungkan sehingga dapat merealisasikan potensi cadangan nikel,” kata Arsjad melalui siaran pers, Selasa (21/2/2023). 

MoU itu mencakup upaya mempromosikan investasi dan kerja sama untuk kepentingan bersama Australia Barat dan Indonesia, terutama untuk mengoptimalkan peluang pengembangan mineral kritis dan industri baterai dengan nilai tambah yang tinggi.

Australia Barat dan Indonesia memiliki sejarah kerja sama di sektor sumber daya, dengan beberapa perusahaan tambang Indonesia beroperasi di Australia Barat dan perusahaan-perusahaan Australia Barat melakukan investasi di sektor pertambangan Indonesia. (Nyoman Ary Wahyudi)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Rayful Mudassir
Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.