Suku Bunga BI Tak Berubah di Tengah Inflasi Produsen

Bank Indonesia menahan suku bunga acuan tetap 3,5 persen di tengah tren kenaikan inflasi harga produsen.

Maria Elena & Sri Mas Sari
Nov 18, 2021 - 1:55 PM
A-
A+
Suku Bunga BI Tak Berubah di Tengah Inflasi Produsen

Kantor Bank Indonesia/Reuters

Bisnis, JAKARTA – Bank Indonesia memutuskan suku bunga acuan tak berubah untuk kesembilan kalinya meskipun inflasi harga di tingkat produsen merayap naik. Keputusan itu diambil atas dasar fokus bank sentral mendukung pemulihan ekonomi.

Rapat Dewan Gubernur BI yang berlangsung 17-18 November memutuskan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) tetap 3,5 persen, level terendah sepanjang sejarah yang diperkenalkan bank sentral sejak Februari 2021. Bersamaan dengan itu, suku bunga deposit facility tetap 2,75 persen dan suku bunga lending facility 4,25 persen.

Di sisi lain, inflasi harga produsen berada dalam tren kenaikan sejak kuartal IV/2020. Badan Pusat Statistik merekam inflasi produsen mencapai 7,3% (year on year) pada kuartal III/2021, padahal kenaikan pada kuartal I/2021 hanya 3,1% (yoy).

Inflasi paling tinggi terjadi terutama pada subsektor pertambangan; perkebunan; industri pengolahan dan pengawetan daging, ikan, buah-buahan, sayuran, minyak dan lemak; industri karet, plastik dan hasilnya; serta industri pupuk.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan inflasi di tingkat produsen belum berpengaruh pada inflasi di tingkat konsumen. Bank sentral cenderung mempertimbangkan indeks harga konsumen dalam menyusun kebijakan. Inflasi harga konsumen sepanjang tahun berjalan (Januari-Oktober) 0,9% atau masih di bawah sasaran BI.

“Meski terjadi kenaikan permintaan, ketersediaan penawaran agregat masih memadai sehingga tidak terpengaruh ke inflasi konsumen, juga ke inflasi inti atau inflasi fundamental,” jelasnya.

BI tetap pada perkiraan inflasi pada akhir tahun akan sesuai sasaran pada kisaran 2 persen hingga 4 persen.

Pemerintah menyoroti tren kenaikan inflasi global yang terjadi karena pemulihan ekonomi, gangguan rantai pasok dan kelangkaan energi. Presiden Joko Widodo dalam rapat paripurna kabinet, Rabu (17/11/2021), meminta jajarannya untuk mewaspadai, mengkalkulasi, dan mengantisipasi dampak inflasi global.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjelaskan kenaikan inflasi harga produsen di beberapa ekonomi utama, baik negara maju maupun berkembang, membuat Presiden membahasnya dalam rapat. Di Eropa, kenaikan harga produsen mencapai 16,3 persen, di China 13,5 persen, di Amerika Serikat 8,6 persen, dan di Korea Selatan 7,5 persen. 

"Kenaikan harga produsen ini kemudian bisa menyebabkan kenaikan harga di tingkat konsumen atau yang kemudian diukur menjadi inflasi. Ini yang kemudian kita akan waspadai," katanya.  

Menurutnya, kenaikan harga produsen di AS yang mendorong inflasi konsumen hingga 6% akhirnya membuat Federal Reserve melakukan pengurangan (tapering) stimulus mulai bulan ini untuk menjangkar inflasi.

Sri Mulyani mengatakan pemerintah akan terus memperkuat fondasi ekonomi dengan harapan akan memberikan kesiapan yang lebih baik dalam menghadapi dinamika global. Menurutnya, Indonesia harus menjaga pemulihan permintaan tanpa membawa dampak inflasi berlebih. Saat ini muncul risiko gangguan suplai (supply disruption) ketika perekonomian nasional tumbuh.  

"Apabila demand lebih cepat dari supply-nya, ini membentuk demand side inflation. Kegiatan manufaktur untuk [menopang] sisi suplai sangat penting," katanya.

Sektor manufaktur, sambungnya, memang menunjukkan sinyal pemulihan yang baik, yang ditunjukkan oleh purchasing managers' index (PMI) manufaktur yang berada di posisi 57,2 pada Oktober. Meskipun begitu, laju permintaan yang lebih tinggi tetap harus diwaspadai.  

Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman mengatakan tingkat inflasi global yang meningkat akibat gangguan rantai pasok dan krisis energi telah memaksa bank sentral di beberapa negara untuk menaikkan suku bunga kebijakan tahun ini.

Dia memperkirakan BI kemungkinan akan mengurangi pelonggaran kuantitatif terlebih dahulu sebelum menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin menjadi 4 persen pada semester II/2022.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede melihat BI paling cepat mulai melakukan tapering pada pertengahan 2022 sebagai antisipasi penguatan dolar AS dan inflasi. Langkah BI untuk menaikkan suku bunga acuan pun akan mempertimbangkan inflasi akibat pemulihan konsumsi domestik dan disrupsi rantai pasok global.

SOKONG PEMULIHAN

BI memprakirakan perbaikan ekonomi domestik terus berlangsung secara bertahap meskipun dibayangi gangguan rantai pasok dan keterbatasan energi global.

"Keputusan ini [mempertahankan suku bunga] sejalan dengan perlunya menjaga stabilitas nilai tukar dan sistem keuangan, di tengah prakiraan inflasi yang rendah dan upaya untuk mendukung pertumbuhan ekonomi," ujar Perry.

Pertumbuhan ekonomi kuartal III/2021 tercatat 3,51 persen (yoy), lebih lambat dari laju kuartal sebelumnya yang mencapai 7,07% (yoy) seiring dengan pembatasan mobilitas untuk mengatasi varian delta Covid-19. Perkembangan itu ditopang oleh kenaikan ekspor yang terus berlanjut di tengah perlambatan konsumsi rumah tangga dan investasi.

BI memperkirakan kinerja ekonomi meningkat pada kuartal IV/2021, didukung oleh perbaikan kinerja ekspor, kenaikan belanja fiskal pemerintah, serta peningkatan konsumsi dan investasi. Perry mengatakan optimisme ini didasari oleh kenaikan indikator hingga awal November, seperti mobilitas masyarakat, penjualan eceran, ekspektasi konsumen, PMI manufaktur, dan realisasi ekspor dan impor.

Perry mengatakan pertumbuhan ekonomi diprakirakan meningkat lebih tinggi pada 2022, didorong oleh mobilitas yang terus meningkat sejalan dengan akselerasi vaksinasi, pembukaan sektor-sektor ekonomi yang lebih luas, dan stimulus kebijakan yang berlanjut,

BI juga terus mengoptimalkan seluruh bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan serta mendukung upaya perbaikan ekonomi lebih lanjut.

Ekonom Faisal mengatakan relaksasi pembatasan aktivitas publik di tengah penurunan kasus harian Covid-19 memungkinkan mobilitas publik dan aktivitas bisnis meningkat, sehingga akan meningkatkan permintaan. Pemulihan ekonomi akan makin cepat pada kuartal IV/2021.

Namun, risiko di pasar keuangan dan stabilitas nilai tukar rupiah menurutnya perlu diantisipasi karena cenderung meningkat setelah the Fed melakukan tapering mulai bulan ini.

Editor: Sri Mas Sari

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar