Suku Bunga Naik 50 Basis Poin, Inggris Berada di Gerbang Resesi

Kondisi ekonomi yang muram membuat Bank of England, bank sentral Inggris, akhirnya menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin. Kenaikan suku bunga tertinggi sejak 1997 terpaksa dipilih Bank of England untuk menjinakkan inflasi di Negeri Ratu Elizabeth tersebut.

Saeno
Aug 5, 2022 - 3:48 PM
A-
A+
Suku Bunga Naik  50 Basis Poin, Inggris Berada di Gerbang Resesi

Susanan London Bridge. Bank sentral Inggris menaikkan suku bunga 0,5 persen untuk melawan inflasi,/TASS-4kclips-Shutterstock-FOTODOM

Bisnis, JAKARTA – Great fire atau kebakaran besar yang melanda London, Inggris, pada 1666 telah menjadi catatan sejarah tak terlupakan. Kini, Inggris terancam kebakaran yang lain: resesi namanya. Kondisi ekonomi yang muram membuat Bank of England, bank sentral Inggris, akhirnya menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin. 

Kenaikan suku bunga tertinggi sejak 1997 terpaksa dipilih Bank of England untuk menjinakkan inflasi di Negeri Ratu Elizabeth tersebut.

Dengan kenaikan sebesar 0,5 persen, suku bunga acuan di Inggris berada di level 1,75 persen. 

Tak hanya itu, BoE juga memperingatkan bahwa resesi sudah di depan mata.

Inggris diperkirakan akan mulai memasuki masa resesi pada kuartal keempat tahun ini. Resesi diprediksi berlangsung hingga tahun depan dan akan menjadi resesi terpanjang sejak krisis keuangan dialami Inggris.

Para pejabat bank sentral memperkirakan ekonomi menyusut sekitar 2,1 persen. BoE juga meningkatkan perkiraan puncak inflasi menjadi 13,3 persen pada Oktober di tengah lonjakan harga gas, dan kenaikan harga akan tetap tinggi sepanjang 2023. 

Kenaikan suku bunga acuan BOE, yang kini dipimpin Andrew Bailey, dilakukan untuk mengimbangi gelombang pengetatan dari bank-bank sentral lainnya. 

“Tekanan inflasi telah meningkat secara signifikan. Kenaikan harga gas terbaru telah menyebabkan penurunan signifikan lainnya dalam prospek aktivitas," ungkap BOE dalam pernyataannya setelah keputusan menaikkan suku bunga. 

Bersamaan dengan keputusan tersebut, BOE juga memaparkan rencananya untuk mengurangi kepemilikan obligasi pemerintah yang dikumpulkannya selama krisis.



BoE tampaknya memilih bergerak lebih cepat, agar Inggris tak terus dirajam kepahitan ekonomi. Di saat belum ada perdana menteri definitive pengganti Boris Johnson, bank sentral menjadi otoritas paling penting untuk mengatasi kondisi ekonomi Inggris.

Andrew Bailey tentu tak ingin berlaku seperti Wali kota London  Sir Thomas Bloodworth saat great fire atau kebakaran besar melanda London. Sir Thomas Bloodworth digambarkan sempat ragu untuk memerintahkan pemadaman api. 

Saat pemadaman mulai diperintahkan, seperti tertulis di Wikipedia, angin terlanjur membantu menyebarkan kobaran api hingga ke jantung kota London pada Senin dini hari. 

Kebakaran itu akhirnya memusnahkan sebagian besar wilayah kota, walau tidak berhasil mencapai distrik aristokrat di Westminster, Istana Raja Charles II di Whitehall, dan sebagian besar kawasan kumuh di pinggiran kota.

Meski begitu, kebakaran besar London menghanguskan sekitar 13.200 rumah, 87 gereja paroki, 6 kapel, termasuk Katedral Santo Paulus, dan sebagian besar bangunan-bangunan penting lainnya di London. 

Sekitar 100.000 orang, atau seperenam penduduk London saat itu, kehilangan tempat tinggal karena peristiwa ini. 

Jumlah korban yang tewas akibat kebakaran tidak diketahui dan umumnya dianggap kecil, tercatat hanya enam kematian yang diverifikasi. Namun, muncul teori yang menyatakan bahwa kemungkinan ribuan kematian penduduk miskin dan kelas menengah tidak tercatat karena sebagian besar dari mereka telah hangus tanpa bisa dikenali.

Tragedi besar itu terlalu menyakitkan untuk dikenang. Namun, kini, resesi berpotensi membuat banyak warga miskin di Inggris menderita.

Resesi yang di depan mata jika tidak diatasi dengan tepat akan mendorong Inggris terjerembab dalam jurang stagflasi. 

Diperlukan strategi ekonomi yang tepat dan konsisten agar Inggris keluar dari lorong panjang resesi dan terhindar dari jurang dalam bernama stagflasi.

Jika langkah strategis tak ditemukan, seperti diingatkan lembaga think tank National Institute of Economic and Social Research (NIESR), Inggris tidak bisa menghentikan dirinya meluncur ke lorong resesi yang akan menghantam daerah-daerah paling miskin di negara itu. 

Resesi juga akan memaksa lebih dari satu juta rumah tangga harus memilih antara memenuhi kebutuhan energi atau membeli makanan. 

Lonjakan biaya hidup dan pemotongan gaji bisa membuat lebih dari dua juta keluarga kehilangan alokasi tabungan. Mereka akan terpaksa menggunakan tabungan mereka atau menggunakan dana pinjaman untuk membayar kebutuhan dasar. Jika itu terjadi, menurut prediksi NIESR, inflasi Inggris bisa naik menjadi 11 persen. 

Pada Juni 2022 inflasi harga konsumen (CPI) di Inggris tercatat mencapai level tertinggi 40 tahun sebesar dan bertengger di posisi 9,4 persen. NIESR memperkirakan tingkat inflasi akan melambat, rata-rata 6,9 persen tahun depan. Tingkat inflasi tahunan di Inggris meningkat menjadi 9,4 persen pada Juni 2022 yang merupakan tingkat tertinggi sejak 1982. Sebelumnya, pasar memperkirakan Inggris akan mengalami inflasi sebesar 9,3 persen. 

Inggris sedang menghadapi kondisi yang tidak mudah. NIESR menyebutkan sekitar 5,3 juta rumah tangga tidak akan memiliki tabungan sama sekali pada tahun 2024. Hal itu, secara rasio, akan dialami satu dari setiap lima rumah tangga atau dua kali lipat dari tingkat saat ini. 

Sementara itu, 1,7 juta lainnya hanya akan menyisakan simpanan pendapatan kurang dari dua bulan di bank. Hal itu akan menempatkan mereka sebagai kelompok yang rentan terhadap setiap kejutan (shock) keuangan yang terjadi. 

Selain itu, terdapat sekitar 1,2 juta keluarga yang akan menghadapi kenyataan bahwa  tagihan makanan dan energi (di luar pengeluaran lainnya) lebih besar dari pendapatan mereka.


Tanpa intervensi berupa subsidi, mereka diprediksi akan menjalani hari-hari yang berat selama periode resesi berlangsung. 

"Ekonomi Inggris sedang menuju ke periode stagflasi dengan inflasi tinggi dan resesi memukul ekonomi secara bersamaan," kata Stephen Millard, Wakil Direktur Makroekonomi NIESR, seperti dikutip Bisnis.com dari Bloomberg, Rabu (3/8/2022). 

Diperkirakan jumlah rumah tangga yang hidup dari gaji ke gaji hampir dua kali lipat menjadi 7 juta pada 2024. Angka tersebut termasuk 5,3 juta rumah tangga yang tidak memiliki tabungan sama sekali. 

Peringatan soal kondisi resesi itu merupakan pengingat nyata dari tantangan yang dihadapi dua kandidat yang bersaing untuk menggantikan Boris Johnson sebagai Perdana Menteri Inggris. 

Kesenjangan London dan Wilayah Lain

Para ekonom mengatakan kedalaman krisis akan memaksa pemerintah merespons dan menyarankan tujuan diperlukan, alih-alih pendekatan manajemen keuangan di masa lalu. 

Kondisi ini juga menunjukkan bahwa kesenjangan ekonomi antara London dan seluruh Inggris semakin melebar. Hal itu juga mengindikasikan bahwa Pemerintah Inggris telah gagal "menaikkan level" daerah yang kekurangan secara finansial. 

NIESR menyebutkan bahwa pihak yang paling rentan di Inggris membutuhkan bantuan lebih lanjut untuk menghadapi inflasi harga konsumen diprediksi akan naik hampir 11 persen tahun ini. 

Inflasi harga eceran, untuk ukuran yang lebih luas yang digunakan untuk menetapkan kenaikan tarif kereta api dan biaya bunga pemerintah, akan mencapai 17,7 persen atau tertinggi sejak 1980. 

Millar menilai bahwa Bank of England akan merespons kondisi tersebut dengan menaikkan suku bunga menjadi 3 persen pada tahun depan. 

Mengacu pada proyeksi, angka pengangguran akan naik di atas 5 persen seiring turunnya permintaan. 

"Sekarang terserah Komite Kebijakan Moneter untuk memastikan apakah inflasi turun tahun depan dan [bagaimana] PM baru mendukung rumah tangga yang paling terpengaruh oleh resesi dan tekanan biaya hidup," kata Millard.

Kenaikan Suku Bunga Bank of England Sesuai Prediksi 

Kenaikan suku bunga yang ditetapkan Bank of England sesuai dengan prediksi sejumlah pengamat. Sebelumnya, pada  Kamis (4/8/2022) siang Bank of England (BoE) akan mengumumkan kebijakan moneter baru di Inggris. 

Seperti diunggah di Yahoo Finance, Rabu (3/8/2022) pasar meyakini bahwa BoE akan mengumumkan kenaikan suku bunga setengah poin (0,50) yang jarang terjadi. Dengan kenaikan 50 basis poin itu suku bunga akan bertengger di posisi 1,75 persen dan menjadi suku bunga terbesar dalam 27 tahun.

Inflasi Inggris mencapai 9,4 persen pada Juni. Bank of England memperkirakan inflasi akan mencapai puncaknya menjadi 11 persen sebelum akhir tahun, bahkan prediksi terbaru menyebutkan inflasi bisa mencapai 13 persen. 

Bank of england/bankofengland.co.uk

Pada Desember 2021 BoE telah menaikkan suku bunga sebesar 0,25 poin persentase. BoE telah meningkatkan suku bunga untuk kelima kalinya berturut-turut dalam tujuh bulan terakhir. 

Inggris Raya

Berbicara tentang Inggris, tentu kita tidak hanya berbicara tentang London. Perekonomian Inggris, bersama Skotlandia, Wales dan Irlandia Utara dikenal sebagai Inggris Raya atau Britania Raya.

Britania Raya merupakan negara dengan perekonomian terbesar kelima di dunia berdasarkan produk domestik bruto (PDB) nominal, atau terbesar kesembilan berdasarkan PDB keseimbangan kemampuan berbelanja (KKB), dan urutan ke-22 berdasarkan PDB per kapita, serta menyumbang 3,5 persen dari PDB dunia. 

Pada tahun 2016, Britania Raya merupakan negara pengekspor terbesar kesepuluh di dunia dan negara pengimpor terbesar kelima. Britania Raya juga merupakan negara penerima investasi asing langsung terbesar kedua, dan pemberi investasi asing langsung terbesar ketiga. 

Sektor jasa mendominasi perekonomian Britania Raya dengan menyumbang sekitar 80 persen dari PDB.  industri jasa keuangan merupakan yang paling penting bagi Britania Raya, dan London adalah pusat keuangan terbesar di dunia.

Pound sterling, mata uang Britania Raya, merupakan mata uang cadangan terbesar keempat di dunia setelah dolar Amerika Serikat, euro dan yen.

Kini, semua catatan kehebatan Inggris Raya dipertaruhkan. Seperti dikutip dari bbc.com, Bank of England telah memperingatkan bahwa Inggris akan jatuh ke dalam resesi karena kenaikan suku bunga terbesar dalam 27 tahun. 

Perekonomian diperkirakan menyusut dalam tiga bulan terakhir tahun ini dan terus menyusut hingga akhir 2023. 

Suku bunga naik menjadi 1,75% karena bank sentral harus berjuang membendung kenaikan harga, dengan inflasi sekarang diprediksi mencapai lebih dari 13%. 

Gubernur BoE Andrew Bailey memahami tekanan biaya hidup akan menyulitkan warga Inggris. Tapi, tidak ada pilihan lain. Pilihan sulit harus dipilih, jika tidak menaikkan suku bunga, kondisi ekonomi akan menjadi "lebih buruk". 

Pertumbuhan ekonomi yang rendah dan melonjaknya biaya energi telah memanggang inflasi hingga melenting tinggil Kondisi itu diperparah dampak invasi Rusia ke Ukraina. 

Bank sentral memperingatkan bahwa rumah tangga biasa harus membayar hampir £300 per bulan untuk kebutuhan energi mereka pada Oktober. 

Resesi diperkirakan akan menjadi penurunan ekonomi terpanjang sejak 2008, saat sistem perbankan Inggris mengalami keruntuhan, dan pinjaman terhenti. Meski kemerosotan ekonomi tidak akan sedalam 14 tahun yang lalu, periodenya kemungkinan berlangsung selama masa itu. 

Meningkatkan suku bunga adalah salah satu cara untuk mencoba dan mengendalikan inflasi. Kebijakan itu akan menaikkan biaya pinjaman dan mendorong orang untuk meminjam dan membelanjakan lebih sedikit. 

Hal itu juga dinilai dapat mendorong orang untuk menabung lebih banyak. 

Namun, di sisi lain, banyak rumah tangga akan diperas untuk memenuhi kenaikan suku bunga termasuk beberapa pemegang hipotek. 

Drama suku bunga telah dimulai di Inggris, kita akan menyaksikan babak demi babak pergulatan Inggris di panggung ekonomi. Tentu saja, tak ada yang berharap drama ekonomi Inggris berlangsung muram seperti drama Romeo and Juliet karya William Shakespeare yang berujung tragis.

 

(Aprianto Cahyo Nugroho/Saeno)

Editor: Saeno
company-logo

Lanjutkan Membaca

Suku Bunga Naik 50 Basis Poin, Inggris Berada di Gerbang Resesi

Dengan paket langganan dibawah ini :

Tidak memerlukan komitmen. Batalkan kapan saja.

Penawaran terbatas. Ini adalah penawaran untuk Langganan Akses Digital Dasar. Metode pembayaran Anda secara otomatis akan ditagih di muka setiap empat minggu. Anda akan dikenai tarif penawaran perkenalan setiap empat minggu untuk periode perkenalan selama satu tahun, dan setelah itu akan dikenakan tarif standar setiap empat minggu hingga Anda membatalkan. Semua langganan diperpanjang secara otomatis. Anda bisa membatalkannya kapan saja. Pembatalan mulai berlaku pada awal siklus penagihan Anda berikutnya. Langganan Akses Digital Dasar tidak termasuk edisi. Pembatasan dan pajak lain mungkin berlaku. Penawaran dan harga dapat berubah tanpa pemberitahuan.

Copyright © Bisnis Indonesia Butuh Bantuan ?FAQ