Surplus Tipis Neraca Dagang Otomotif meski Ekspornya Melonjak

Neraca dagang otomotif mengalami tren penurunan surplus, meski kinerja ekspor melonjak tajam dalam beberapa tahun belakangan. Sementara itu, neraca perdagangan industri otomotif di tahun ini menghadapi tantangan.

Jaffry Prabu Prakoso

28 Jan 2023 - 16.39
A-
A+
Surplus Tipis Neraca Dagang Otomotif meski Ekspornya Melonjak

Gelombang pertama pengiriman Xpander baru saja tiba di Bauan International Port, Inc. yang terletak di Batangas. /Mitsubishi

Bisnis, JAKARTA – Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyebut neraca dagang sektor otomotif RI dengan kode HS 87 masih menunjukkan tren positif meski tercatat mengalami penurunan surplus dibanding tahun sebelumnya.

Pasalnya, menurut Ketua I Gaikindo Jongkie Sugiarto, meskipun terjadi penurunan surplus, kinerja ekspor tahun lalu tetap patut diapresiasi.

Sebab, pada 2022, ekspor industri otomotif berhasil mencatatkan 473.602 unit. Realisasi tersebut melesat sebanyak 60 persen untuk mobil utuh atau CBU, sedangkan untuk CKD unit meningkat 5 persen dibanding tahun sebelumnya.


Toyota Innova siap diekspor dari Indonesia. /TMMIN


"Mungkin secara nilai mengalami penurunan, tetapi secara volume naiknya cukup tinggi," kata Jongkie kepada Bisnis, Jumat (27/1/2023).

Seperti diberitakan sebelumnya, neraca dagang produk otomotif yang dihimpun dalam kode HS 87 pada 2022 mencatatkan tren positif dengan mengalami surplus US$1,48 miliar.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah surplus pada 2022 itu tidak lebih baik dari tahun sebelumnya yang berhasil mencetak surplus US$1,93 miliar. Alhasil secara persentase, neraca dagang sektor otomotif itu mengalami penurunan 23,4 persen.

Dalam catatan Bisnis, penyusutan surplus ini terjadi juga pada periode 2021 yang menurun 10 persen. Ini mengingat kinerja pada 2020 jumlah neraca dagang otomotif membukukan surplus US$2,16 miliar.

Baca juga: Mengulik Penyebab Penjualan Suzuki Melambat

Secara rinci, kontributor terbesar ekspor berasal dari kode HS 8703 yang merupakan mobil dan kendaraan bermotor untuk pengangkutan penumpang, termasuk station wagon. Produk tersebut menyumbang nilai ekspor sebesar US$5,5 miliar yang tumbuh 65 persen secara tahunan.

Di sisi lain, impor juga mengalami kenaikan signifikan pada tahun lalu. Kontribusi impor produk otomotif terbesar datang dari produk kendaraan bermotor untuk pengangkutan barang HS 8704 senilai US$2,41 miliar.

Tantangan Tahun 2023

Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyebut ancaman resesi akan berdampak pada neraca dagang sektor otomotif tahun ini.

Baca juga: Kabar Baik! Subsidi Mobil dan Motor Listrik Diketok Februari

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag Didi Sumedi mengatakan bahwa tahun ini permintaan pasar terkait ekspor otomotif diprediksi akan menurun sejalan dengan menyusutnya perekonomian global.

"Tantangannya memang di 2023 ini di mana ekonomi global diprediksi turun yang artinya permintaan akan turun," katanya kepada Bisnis, Jumat (27/1/2023).


Didi juga mengakui terjadi penyusutan surplus pada ekspor kendaraan bermotor dan bagiannya. Namun, menurutnya, tren ekspor masih tumbuh 15 persen.

"Pertumbuhan ekspor kendaraan dan bagiannya di Januari - November 2022 masih positif 1,03 persen walaupun hanya lebih tinggi sedikit dari tren pertumbuhan impornya 1,02 persen," ungkapnya.

Kendati demikian, Didi menyampaikan bahwa tahun ini pemerintah akan terus berupaya untuk mendorong neraca perdagangan melalui diversifikasi pasar tujuan ekspor Tanah Air. (Anshary Madya Sukma)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Jaffry Prabu Prakoso

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.