Free

Swasembada Sebatas Janji, Harga Gula Kian Meninggi

Meski Ramadan masih sekira 2 pekan lagi, harga gula telah membumbung. Sementara angka impor yang tinggi menunjukkan pencapaian swasembada gula Presiden Jokowi masih sebatas janji.

Fatkhul Maskur

25 Feb 2024 - 15.46
A-
A+
Swasembada Sebatas Janji, Harga Gula Kian Meninggi

1688393206760_38_Buruh menurunkan muatan gula pasir dari kapal Pinisi yang dikirim dari Sulawesi Tenggara, di Pelabuhan Paotere Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (24/11/2020). - Foto Paulus Tandi Bone/Bisnis

Bisnis, JAKARTA-Meski Ramadan masih sekira 2 pekan lagi, harga gula telah membumbung. Sementara angka impor yang tinggi menunjukkan pencapaian swasembada gula Presiden Jokowi masih sebatas janji.

Badan Pangan Nasional (Bapanas) melaporkan harga gula konsumsi di pasar ritel per Ahad (25/2/2024) telah mencapai Rp17.940 per kg, meningkat dari posisi awal bulan di level Rp17.760.

Padahal, harga gula konsumsi pada awal 2023 hanya di kisaran Rp14.340 per kg. Pada tahun pertama pemerintah Joko Widodo (2014), harga eceran gula konsumsi rata-rata hanya di kisaran Rp11.783 per kg.

Direktur Eksekutif Asosiasi Gula Indonesia (AGI) Budi Hidayat jauh-jauh hari telah mewanti-wanti risiko harga gula kian melonjak pada 2024. Harga gula bisa tembus Rp20.000 per kilogram saat Lebaran.

"Ya, maksimal [harga gula] Rp20.000 [per kilogram] saat Lebaran," ujar Hidayat saat ditemui seusai menghadiri National Sugar Summit, Rabu (13/12/2023).

Lagi-lagi, solusinya importasi. Dia meyakinkan risiko itu bisa dihindari saat pasokan gula impor segera tiba di Indonesia.

Menurutnya, sejak akhir tahun lalu, sejumlah importir pun mulai kembali aktif mendatangkan gula dari luar negeri, sebelumnya sempat terhambat akibat pelemahan kurs Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS).

"Beberapa [importir] ini sudah tender, PTPN saya dengar sudah tender, kalau gitu bisa enggak sampai Rp20.000 lah [harga gula], kalau [import] segera datang. Kalau sudah dateng enggak naik lagi harganya," jelas Hidayat.

Awal 2024, pemerintah kembali memutuskan importasi gula, yang mana sepanjang 2024 ditetapkan sebanyak 5,4 juta ton.

Baca Juga: 

Sederet Alasan Kemenperin Pangkas Kuota Impor Gula Mentah 2024

Siasat Industri Mamin Merespons Kenaikan Harga Gula  

IMPOR GULA

Pemerintah akan mengimpor 5,4 juta ton gula pada 2024 usai diputuskan dalam rapat terbatas yang dipimpin oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.

Perinciannya, sesuai dengan neraca komoditas, alokasi impor 2024 untuk gula konsumsi sebesar 708.609 ton (setara gula kristal putih/GKP), dan gula pemenuhan bahan baku industri 4,77 juta ton.

“Kemarin diputuskan sudah dari Pak Menko [Menteri Koordinator Airlangga Hartarto],” kata Menteri Perdagangan (Mendag) Zulkifli Hasan dalam konferensi pers capaian kinerja 2023 dan outlook perdagangan 2024, Kamis (4/1/2024).

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag Budi Santoso mengakui, kuota impor gula konsumsi turun sekitar 200.000 ton dibandingkan tahun sebelumnya sekitar 900.000 ton. Selain itu, realisasi impor gula konsumsi pada 2023 baru sekitar 56%.

“Hampir sama, enggak jauh beda [kuota impor], ya 900.000 [ton] sekian,” ujar Budi.

BPS melaporkan realisasi impor komoditas gula (kode HS17) sepanjang 2023 sebanyak 5,63 juta ton (US$3,36 miliar), lebih rendah dibandingkan dengan tahun sebelumnya 6,48 juta ton (US$3,45 miliar).

Meski demikian, impor gula pada tahun lalu telah mencapai hampir dua kali lipat impor gula pada tahun pertama pemerintahan Presiden Joko Widodo.  

Pada 2014, impor gula Indonesia tercatat 3,28 juta ton (US$1,57 miliar). Kala itu, harga eceran gula konsumsi rata-rata juga lebih murah 32% dibandingkan dengan harga per Desember 2023 yang mencapai Rp17.270 per kg.

Baca Juga: 

Prediksi Manis Produksi Gula

Impor Garam Membludak, Industri Makanan Masih Kurang Banyak

JANJI SWASEMBADA

Padahal, pada awal pemerintahannya, Presiden Joko Widodo menjanjikan swasembada pangan, termasuk gula, dalam tiga tahun sejak 2015.

“Dimulai dengan beras, kemudian nanti jagung, kemudian gula, tahun berikut kedelai, terus daging, semuanya," ujar Presiden pada acara Pembukaan Munas HIPMI XV 2015 di Bandung (12/1/2015).

Amran Sulaiman, Menteri Pertanian (2014-2019), menjelaskan tujuh komoditas yang dikejar agar tidak impor, yakni padi, jagung, kedelai, bawang, cabai, gula, dan sagu. “Jagung mudah-mudahan 2018 target Bapak Presiden tidak impor lagi, kemudian gula dan sapi kita kejar.”

Nyatanya, target itu tak terkejar. Impor gula justru terus merangkak naik sepanjang era pemerintahan Presiden Joko Widodo. Bahkan, pada tahun terakhirnya Presiden Joko Widodo membuka krak impor gula dalam jumlah yang jauh lebih besar.

Sementara itu, luas areal perkebunan tebu dan produksi tebu nasional mengalami penurunan. Berdasarkan Outlook Komoditas Perkebunan Tebu 2022, luas area panen tebu pada 2014 yang mencapai 477.123 hektare itu terus menurun menjadi hanya 430.504 hektare pada 2022.

Pada periode yang sama, produksi tebu yang mencapai 2,58 juta ton pada 2014 terus menurun menjadi hanya 2,34 juta ton.

Sementara itu, tingkat produktivitas perkebunan nyaris tak membaik. Pada 2014, produktivitas areal perkebunan tebu mencapai 5,41 ton per hektare, dan pada 2022 ditaksir berada di level 5,45 ton per hektare.

Baca Juga: 

Optimisme Mentan Amran Membalik Banjir Impor Jagung

Pabrik Pati Jagung Cargill Beroperasi Bahan Baku Jadi Tantangan

Alih-alih memperluas areal budidaya untuk meningkatkan produksi tebu, Presiden Joko Widodo justru kembali menjanjikan swasembada gula pada 2028.

“Pencapaian swasembada gula untuk kebutuhan konsumsi diwujudkan paling lambat pada 2028,” tulis Jokowi dalam Perpres No.40/2023 tentang Percepatan Swasembada Gula Nasional dan Penyediaan Bioetanol sebagai Bahan Bakar Nabati (Biofuel). (Ni Luh Anggela)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Ibeth Nurbaiti

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.