TAJUK RENCANA : Mengevaluasi Portofolio Investasi

Indeks harga saham gabungan atau IHSG menutup rapor kuartal pertama tahun ini dengan pertumbuhan gradual. Indeks komposit hanya naik 0,22% ke level 7.288,81, jika dibandingkan dengan pengujung perdagangan tahun lalu yang berakhir di level 7.272,79.

Redaksi

1 Apr 2024 - 08.21
A-
A+
TAJUK RENCANA : Mengevaluasi Portofolio Investasi

Hampir seluruh sektor saham pekan lalu terjerembab, kecuali sektor keuangan yang menguat 0,91% dan sektor barang konsumsi primer yang tetap mencetak pertumbuhan 0,64%. - Foto BID

Bisnis, JAKARTA—Indeks harga saham gabungan atau IHSG menutup rapor kuartal pertama tahun ini dengan pertumbuhan gradual. Indeks komposit hanya naik 0,22% ke level 7.288,81, jika dibandingkan dengan pengujung perdagangan tahun lalu yang berakhir di level 7.272,79.

IHSG seharusnya mampu mencatatkan performa yang lebih apik setelah sempat menembus rekor baru di level 7.433,32 pada 14 Maret 2024. Akan tetapi, kinerja indeks dalam 2 pekan terakhir berfluktuasi tajam dengan kecenderungan melemah.

Pekan lalu, misalnya, indeks komposit anjlok sebanyak 0,83%. Penurunan IHSG sepekan terseret oleh pelemahan sembilan indeks sektoral. Sektor transportasi dan logistik terkoreksi paling dalam dengan penurunan 8,76%, diikuti oleh sektor perindustrian minus 2,38%, serta sektor properti dan real estat yang melemah 2,36%.

Hampir seluruh sektor saham pekan lalu terjerembab, kecuali sektor keuangan yang menguat 0,91% dan sektor barang konsumsi primer yang tetap mencetak pertumbuhan 0,64%. Kedua sektor itu juga menunjukkan performa yang solid sepanjang satu kuartal dengan penguatan masing-masing sebesar 4,87% dan 0,32%.

Di samping sektor keuangan dan barang konsumsi primer, sektor saham energi juga tetap menarik untuk dikoleksi. Kendati sempat melemah 0,58% pada pekan lalu, sektor saham energi tetap mengakumulasi kenaikan 1,03% dalam 3 bulan pertama tahun ini.

Kami memandang bahwa ketiga sektor saham tersebut masih bakal memberikan potensi gain pada kuartal II/2024. Sektor saham konsumer dengan karakteristik defensifnya perlu tetap dipertahankan di portofolio investasi. Begitu pula dengan saham-saham di sektor keuangan dan energi yang dipandang memuat prospek yang kuat ke depan.

Sektor energi bakal memberikan potensi kenaikan harga menjelang periode cum dividend sejumlah emiten, salah satunya PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) yang belakangan harga sahamnya terdiskon cukup dalam.

Yang paling menarik tentu saja sektor saham keuangan yang konsisten menunjukkan kinerja yang bertumbuh. Di sisi lain, valuasi saham sektor keuangan juga masih relatif menarik. Sektor keuangan selalu bisa menjadi tumpuan karena memiliki fundamental yang kokoh untuk menghadapi situasi ekonomi yang sarat ketidakpastian saat ini.

Kami menilai kinerja pasar ke depan masih dibayangi banyak sentimen. Dengan begitu, IHSG bakal terus bergerak volatil sehingga pemodal perlu cermat memperhatikan sejumlah faktor seperti valuasi dan risiko dari saham-saham yang beredar di Bursa Efek Indonesia.

Investor asing juga diyakini bakal lebih selektif menempatkan dana di pasar saham Indonesia. Otoritas bursa mencatat investor asing membukukan nilai jual bersih sebesar Rp390,5 miliar pada sesi perdagangan terakhir pekan lalu.

Namun, jika dihitung dari awal tahun, pemodal nonresidensial justru mencatatkan nilai beli bersih senilai Rp26,28 triliun. Angka itu bisa saja melemah karena potensi asing melepas koleksi sahamnya hingga Mei mendatang. Selain libur panjang pada bulan ini, fenomena sell in May pada bulan depan bakal jadi sentimen negatif ke bursa ekuitas dalam negeri.

Kita tentu menyadari bahwa kinerja pasar ke depan bakal terus dihantui beragam sentimen mulai dari inflasi yang menanjak, tensi geopolitik yang belum mereda, perang dagang, hingga perlambatan ekonomi global.

Namun, ekspektasi atas dimulainya rezim suku bunga murah melalui potensi pemangkasan suku bunga acuan pada akhir kuartal II/2024 oleh the Fed diharapkan membawa pengaruh positif.

Tak hanya ke bursa saham, kebijakan the Fed ke depan bakal sangat memengaruhi gairah investasi di pasar obligasi. Seperti diketahui, imbal hasil surat utang pemerintah dan korporasi dalam tren positif sejak awal tahun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Fatkhul Maskur

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.