Tanjung Priok Macet Gegara Sistem IT, Pengusaha Logistik Merugi

Pelabuhan Tanjung Priok mengalami kemacetan total akibat gangguan IT yang dialami Jakarta International Container Terminal (JICT). Kalangan pengusaha logistik mengalami kerugian besar akibat kondisi ini. Di sisi lain, Pelindo berdalih kejadian ini akibat adanya upaya peretasan pada sistem operasi.

Rayful Mudassir

18 Nov 2022 - 12.13
A-
A+
Tanjung Priok Macet Gegara Sistem IT, Pengusaha Logistik Merugi

Aktivitas bongkar muat peti kemas di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (22/6/2022). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis, JAKARTA - Kegiatan bongkar muat barang untuk ekspor maupun impor di Jakarta International Container Terminal atau JICT Pelabuhan Tanjung Priok dilanda masalah akibat gangguan pada terminal operating system (TOS). Pengusaha logistik dan forwarder alami kerugian imbas kejadian ini. 

Gangguan sistem operasi di JICT berlangsung sejak Kamis (17/11/2022) dini hari hingga hari ini. Kalangan pengusaha logistik memprotes keras situasi tersebut lantaran mengganggu seluruh rencana distribusi dan pengapalan.

Pengusaha harus merogoh kocek lebih dalam menghadapi situasi ini. Mau tidak mau terhentinya arus barang berakibat pada bertambahnya waktu tunggu bongkar muat kontainer. Belum lagi, pelaku ekspor berpotensi ditinggal kapal akibat keterlambatan tersebut. 

Ketua DPW Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) DKI Jakarta Adil Karim mengatakan salah satu kerugian yang dialami oleh pelaku logistik yakni masih berjalannya biaya penitipan atau inap kontainer (demurrage and detention), kendati operasional terminal tak berjalan lancar.

BACA JUGA: Tok, Tarif Kontainer Domestik Tanjung Priok Bakal Naik

"Sebab seluruh biaya-biaya itu kini menjadi bengkak. Belum lagi kerugian [immaterial] di mana para petugas kami di lapangan antre menunggu layanan sejak kemarin hingga hari ini. Kami minta Manajemen Pelindo dan JICT jangan lepas tangan atas kondisi ini," kata Adil dalam siaran pers, Jumat (18/11/2022).

Amburadulnya sistem layanan di JICT telah menyebabkan kerugian besar bagi pelaku usaha dan perekonomian nasional. Untuk itu, ALFI mendesak Otoritas Pelabuhan (OP) Tanjung Priok agar lebih proaktif dengan diskresi untuk bisa mengalihkan layanan kapal dari JICT ke terminal lainnya demi kelancaran arus barang.

"Jangan sampai kondisi seperti ini berlarut-larut. Ini bahaya untuk stabilitas perekonomian," ujar Adil.

Selain biaya inap kontainer, Adil mengungkap sejumlah kerugian yang dialami oleh pelaku logistik maupun pemilik barang akibat gangguan operasional di JICT. Contohnya, barang ekspor yang telah siap masuk pelabuhan terpaksa tidak bisa closing dan berisiko tertinggal kapal sehingga biaya ekspor membengkak.

Kemudian, barang impor yang sudah mengantongi surat perintah pengeluaran barang atau SP2 disebut tidak bisa keluar gate out terminal. Hal itu lantaran sistem di pintu keluar juga eror dan peti kemas harus terkena tambahan biaya storage di container yard (CY) terminal.

Aktivitas bongkar muat peti kemas di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (22/6/2022). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

"Katanya bisa manual, tetapi faktanya banyak perusahaan anggota kami saat melakukan layanan pembuatan kartu ekspor maupun impor tidak bisa dilakukan, bahkan yang sudah memegang kartu ekspor ataupun impor di JICT juga tidak bisa melakukan pemasukan maupun pengeluaran barang. Ini sudah amburadul semua sistem layanannya kalau seperti ini," tegasnya.

Ketua Umum Dewan Pemakai Jasa Angkutan Laut Indonesia (Depalindo) Toto Dirgantoro, mengatakan bahwa imbas gangguan sistem IT terminal menyebabkan pengelolaan peti kemas kini dilakukan secara manual. 

"Kami sudah koordinasi dengan Otoritas Pelabuhan [OP Tanjung Priok] terkait dengan langkah-langkah yang harus dilakukan yakni pelayanan dengan cara manual," jelas Toto, Jumat (18/11/2022).

Alhasil, terdapat beberapa bea tambahan yang timbul akibat delay dari arus keluar masuk barang di JICT. Namun, pihaknya telah meminta kepada OP Tanjung Priok untuk membebaskan bea-bea tambahan tersebut. 

Saat ditanya terkait dengan kerugian yang dialami, Toto belum bisa mengungkap secara pasti berapa nilai kerugian yang dialami pengguna jasa akibat gangguan sistem IT di JICT. "Kami terus komunikasi dengan OP karena mereka yang bertanggung jawab pada kelancaran arus barang," jelasnya.


AUDIT DAN EVALUASI

Malfungsi sistem IT JICT ikut menyita perhatian Otoritas Pelabuhan Tanjung Priok. Otoritas bakal melakukan audit dan evaluasi terhadap sistem operasi IT dari terminal milik PT Pelindo (Persero) tersebut. 

Kepala Otoritas Pelabuhan Tanjung Priok Wisnu Handoko menduga penyebab gangguan sistem operasi di JICT karena adanya peretasan.

"Terhadap kondisi ini pihak OP bersama instansi terkait akan melakukan audit dan evaluasi terhadap keandalan sistem IT dan pelaksanaan SOP penanganan darurat," ujarnya, Jumat (18/11/2022).

Hingga siang tadi, Wisnu menyebut bahwa sistem belum dapat berjalan secara penuh dan masih terus dalam perbaikan. Wisnu memperkirakan masih dibutuhkan beberapa jam ke depan untuk pemulihan menyeluruh karena sebagian data masih diinput secara semi manual.

Untuk mengantisipasi kemacetan di luar Pelabuhan, saat ini telah dilakukan mitigasi dengan memutar antrean di gerbang JICT dan Koja masuk ke pos 9 dan memutar di jalan dalam pelabuhan.

Otoritas meminta pengelola terminal untuk memberikan kompensasi berupa pemberian air minum, makanan ringan hingga makanan berat kepada pelaku logistik di lapangan. 

OP juga mengimbau agar operator terminal bisa memberikan kebijakan yg lebih fleksibel terkait bea-bea layanan kepelabuhanan yg terlambat akibat kondisi darurat terutama bagi yang sudah memiliki E-Ticket.

"Saat ini pihak terminal terus melakukan koordinasi bersama instansi Bea Cukai dan Karantina agar dapat mengantisipasi antrean kelengkapan dokumen kepabeanan dan karantina yang proses verifikasinya masih harus dilakukan secara manual selama masa perbaikan TOS berlangsung," tekannya. 


DIRETAS

Di sisi lain, Pelindo secara gamblang menyebut sistem layanan pada TOS di JICT diretas, sehingga menyebabkan kepadatan arus lalu lintas di kawasan pelabuhan Tanjung Priok. 

Direktur Utama Pelindo Arif Suhartono menuturkan perseroan berupaya memulihkan sistem layanan tersebut. JICT diminta untuk menggunakan sistem pengaman teknologi yang lebih kuat agar tidak merugikan sistem operasi dan pengguna jasa ke depannya. 

Menindaklanjuti terganggunya sistem layanan tersebut, JICT telah melakukan mitigasi agar operasional tetap berjalan. Arif tak menampik adanya gangguan yang berimbas kepada tersendatnya operasi pengguna jasa, tetapi secara garis besar masih dapat terpantau dengan baik. 

Arif menyebut kejadian berupa sistem yang diretas memang bisa terjadi pada sistem manapun. Namun, hal itu bukan menjadi alasan bagi Pelindo untuk mencari pembenaran. Saat ini, pihaknya berfokus sedang memulihkan secara cepat sistem IT tersebut. 

"Kami meminta ke JICT memastikan pagarnya lebih kuat," ujarnya, Kamis (17/11/2022).(Dany Saputra & Anitana Widya Puspa)

Editor: Rayful Mudassir
Kembali ke Atas
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.