Tanya Kenapa?

Ganjar kalah sebelum Pilpres.

Puput Ady Sukarno

23 Feb 2024 - 08.07
A-
A+
Tanya Kenapa?

Kolase Calon Presiden saat menggunakan surat suara pada Pemilu 2024. - Foto BID

Bisnis, JAKARTA—“Nggonaku sido Idulqurban. Nggonamu piye, Lur?” Begitu chat teman asal Klaten yang tiba-tiba muncul di grup Whatsapp alumni fakultas di kampus saya, beberapa jam seusai pencoblosan Pilpres 2024.

“Kurban piye maksudnya, Lur?,” kata saya menimpali percakapan itu. “Jokowi kelakon nyembelih banteng,” jawabnya disertai emotikon tertawa.

Lantas saya langsung menduga, Jateng tampaknya bakalan bukan lagi kandang Banteng (simbol PDIP), untuk urusan pilpres kali ini karena ada warga Klaten sebagai salah satu daerah basis PDIP saja, bantengnya ada yang mbedhal atau kabur alias tidak solid.

Tak selang lama, hasil hitung cepat (quick count) pun menunjukkan bahwa Ganjar Pranowo-Mahfud Md, capres yang diusung PDIP, kalah di Jateng, yang notabene provinsi kandang Banteng. Meskipun, hasil final resmi dari KPU belum keluar.

Uniknya, pada versi quick count, meskipun pada ajang kompetisi pilpres kali ini, paslon yang diusung PDIP kalah, perolehan suara secara partai, PDIP masih bertengger nomor satu. Artinya, alias legislatifnya masih dikuasai ‘merah’.

Melihat kondisi itu, capres 03 pun merasa perolehan suara dirinya terjadi anomali, sehingga melahirkan dugaan adanya tindakan kecurangan masif, terstruktur, dan sistematis.

Beberapa orang pun melihat hal senada. Namun tidak bagi Simbah Roso, seorang kuli yang mengadu nasib di Jakarta. Dia justru melihat, PDIP yang nekat mencalonkan Ganjar Pranowo di Pilpres 2024 saja anomali.

Dia menilai, Ganjar sudah kalah sebelum bertempur. Betapa tidak, jangankan melawan paslon lainnya, dari internal PDIP sendiri saja terjadi penolakan.

Alasannya, kata dia, sejak nama Ganjar disebut bakal jadi capres PDIP, setahun sebelum pilpres, sejumlah politisi senior partai ‘banteng’ terang-terangan melakukan penolakan. Ada berbagai penyebab, antara lain, mulai dari figur ketokohan yang belum kuat, rekam jejak, sikap personal Ganjar yang dinilai kemaki dan angkuh, hingga dugaan hubungan komunikasi yang kurang harmonis dengan konstituen.

Tokoh yang menolak pun tak main-main. Bahkan, seorang Bambang Wuryanto atau akrab disapa Bambang Pacul, Ketua DPD PDIP Jateng yang bertindak sebagai komandan ‘penjaga’ kandang benteng di Jateng.

Inilah anomali berikutnya karena Jateng adalah daerah tempat Ganjar bertugas sebagai gubernur. Sementara itu, ‘penjaga suara’ di daerah tersebut justru menolak Ganjar. “Anomali?” kata Mbah Roso singkat saat berbincang.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Lembaga Survei Poltracking Indonesia Hanta Yuda, pada sebuah acara televisi memyebutkan bahwa hal anomali tidak hanya terjadi pada paslon 03, tetapi juga pada paslon 01 dan 02.

Menurutnya, pada paslon 01, ternyata suara juga tidak solid. Ada suara dari partai 01 justru lari ke 02. Begitu pula anomali paslon 02 bahwa meski sementara ini Prabowo selaku Ketum Gerindra ternyata tak serta-merta menjadikan suara Gerindra peringkat pertama.

Hanta menilai, bahwa anomali menunjukkan mesin partai tidak terlalu pengaruh dominan terhadap kontestasi pilpres, berbeda kalau di pemilihan legislatif. “Faktor ketokohan lebih dominan untuk konteks pilpres,” ujarnya.

Melihat itu, Mbah Roso pun sependapat bahwa ketokohan masih sangat dominan dalam liga pilpres. Dia pun dengan bijak mengingatkan, kepada seluruh peserta untuk introspeksi diri, lebih dalam dengan rasa, baik secara personal maupun kepartaian, sembari hasil resmi KPU keluar.

Jadi, tanya kenapa?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Fatkhul Maskur

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.