Target Pelindo Percepat Pengembangan Kawasan Kuala Tanjung

Sejumlah langkah strategis diambil PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo untuk mempercepat pengembangan Kawasan Industri Kuala Tanjung (KIKT). Apa targetnya?

Fatkhul Maskur

18 Feb 2024 - 19.27
A-
A+
Target Pelindo Percepat Pengembangan Kawasan Kuala Tanjung

Kawasan Industri Kuala Tanjung. Pelindo menjajaki kerja sama strategis dengan tiga pihak untuk memacu pengembangan kawasan ini. - Foto Pelindo

Bisnis, JAKARTA-Sejumlah langkah strategis diambil PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo untuk mempercepat pengembangan Kawasan Industri Kuala Tanjung (KIKT). Apa targetnya?

Kawasan Industri Kuala Tanjung adalah salah satu Proyek Strategis Nasional bidang Pengembangan Kawasan dan Wilayah. Kawasan yang terletak di Kabupaten Batubara, Sumatera Utara, ini dibangun dan dikelola PT Prima Pengembangan Kawasan (PPK), anak perusahaan Pelindo.

Berjarak hanya 1 kilometer, KIKT terintegrasi dengan Pelabuhan Kuala Tanjung di Selat Malaka, yang merupakan jalur pelayaran tersibuk di dunia.

KIKT berjarak sekitar 110 km dari Kota Medan, 152 km dari Pelabuhan Belawan, 43 km dari KEK Sei Mangkei, dan 116 km dari Bandara Internasional Kualanamu.

KIKT memiliki konektifitas yang terhubung langsung dengan Pelabuhan Kuala Tanjung, Tol Tebing Tinggi–Kuala Tanjung, dan jalur kereta api menjadi KIKT sebagai kawasan industri masa depan terbaik.

Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KPPIP) menyebutkan, proyek KIKT berada di bawah tanggung-jawab Kementerian Perindustrian.

Kawasan industri ini dijadwalkan mulai konstruksi 2021, dan beroperasi 2022. Menggunakan skema pendanaan swasta, KIKT diproyeksikan membutuhkan investasi senilai Rp4,5 triliun.

“Tahun lalu, PT Prima Pengembangan Kawasan sudah membebaskan lahan seluas 57 hektare dalam satu hamparan,” kata Direktur Utama Subholding PT Pelindo Solusi Logistik (SPSL) Joko Noerhudha di Jakarta, Rabu (10/1/2024).

Mulai awal 2024, PPK akan fokus pada pekerjaan pembersihan lahan dan pematangan lahan yang sudah dibebaskan. Ini merupakan tahap pertama dari tiga fase pengembangan KIKT.

Dua fase berikutnya adalah pekerjaan pembangunan pintu gerbang dan jalan masuk, serta fase pekerjaan infrastruktur dasar.

Bersamaan dengan pengembangan kawasan industri tersebut, PPK juga gencar mempromosikan dan memasarkan KIKT melalui berbagai forum kegiatan investasi. Salah satunya adalah dalam North Sumatera Invest Promotion Forum 2023 di Jakarta, 21 Agustus.

Baca Juga:

Pekerjaan Rumah jika Kuala Tanjung Mau Jadi Transhipment Port

KERJA SAMA STRATEGIS

Untuk mengembangan KIKT, Pelindo menjajaki kerja sama strategis dengan tiga pihak.

Pertama, Pelindo berencana meningkatkan kepemilikan saham di PT Prima Tangki Indonesia (PTI) sebagai langkah awal menjadikan Kuala Tanjung sebagai transshipment hub untuk produk curah. Saat ini, PT Pelindo memiliki 20% saham di PT PTI.

Perusahaan yang bergerak dalam bidang transportasi dan pergudangan ini memiliki tanki timbun dengan kapasitas total sebesar 100.000 metrik ton (MT).

Sejak akhir November 2019, PT PTI resmi menjadi Penyelenggara Pusat Logistik Berikat. Status ini akan menguntungkan pelanggan karena berbagai fasilitas dan kemudahan, terutama di bidang kepabeanan dan cukai.

Kedua, Pelindo sedang menjajaki kerja sama pemanfaatan lahan Kawasan Industri Kuala Tanjung dengan PT IBC (Indonesia Battery Company), perusahaan BUMN yang bergerak di ekosistem industri baterai kendaraan listrik.

IBC dibentuk oleh empat perusahaan besar pemegang saham, yakni Antam, Inalum, Pertamina, dan PLN. IBC mengemban misi menjadi Indonesia sebagai produsen baterai kendaraan listrik global.

Ketiga, Pelindo sedang menjajaki kerja sama potensial di Kuala Tanjung dengan Zhejiang Provincial Seaport Investment & Operation Group Co. Ltd. (China).

Grup Investasi & Operasi Pelabuhan Provinsi Zhejiang Co. Ltd., dalam hal ini Ningbo Zhoushan Port Group Co Ltd (Zhejiang Seaport Group) adalah perusahaan milik negara di Provinsi Zhejiang.

Zhejiang Seaport Group memiliki dan mengoperasikan lebih dari 310 perusahaan, dengan bisnis utamanya meliputi sektor kelautan dan maritim.

Adapun pengembangan pelabuhan dan kawasan industri Kuala Tanjung melibatkan PT Prima Multi Terminal yang mengelola pelabuhan, dan PT Pelindo Solusi Logistik (SPSL) yang membangun KIKT. Pelabuhan Kuala Tanjung sekarang berfokus pada pengelolaan produk curah.

Baca Juga: 

Kolaborasi BUMN Pelabuhan Kuala Tanjung Integrasikan Sei Mangkei

KAWASAN TERINTEGRASI

Direktur Utama PT Pelindo (Persero) Arif Suhartono mengatakan, kawasan industri yang terintegrasi dengan pelabuhan akan membuat biaya logistik jauh lebih efisien.

“Ini karena tidak ada lagi additional cost yang dikeluarkan untuk transportasi,” kata Arif. Selain itu, pengiriman barang ke pelabuhan maupun dari pelabuhan juga jauh lebih cepat.

Arif menekankan bahwa Pelindo akan terus mendorong terjadinya well-connected ecosystem antara pelabuhan dan kawasan industri (hinterland) untuk memperlancar arus barang.

“Tujuannya adalah menciptakan biaya logistik lebih efisien dan mendorong penguatan ekonomi kawasan,” kata Arif.

Arif mengatakan Pelabuhan Kuala Tanjung dan Kawasan Industri Kuala Tanjung akan menjadi Indonesia logistic and supply chain hub. "Potensi pasarnya memang sangat besar."

Saat ini, di Kuala Tanjung sudah banyak berdiri banyak perusahaan pengolahan minyak kelapa sawit (CPO) dan turunannya, serta industri pemurnian logam (smelter).

Beberapa di antaranya adalah PT Multimas Nabati Asahan (Grup Wilmar), dan PT Dombas Mas. Pabrikan ini antara lain mengolah minyak kelapa sawit menjadi fatty acid, fatty alcohol, palm kernel, hingga minyak goreng.

Adapun pabrik pengolahan logam antara lain PT Inalum (Persero), PT Dairi Prima Mineral, dan PT Asahan Aluminium Alloys (AAA).

Baca Juga:

Siasat Inalum Mengejar Target Produksi Aluminium 2024

Kuala Tanjung juga sudah terkoneksi dengan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei. Jaraknya hanya 43 kilometer. Beberapa pabrikan di Sei Mangkei, antara lain PT Unilever Oleochemical Indonesia, PT Industri Nabati Lestari, anak perusahaan PTPN III dan IV, serta PT Pertamina Gas, dan PT Pertamina Power Indonesia.

KEK Sei Mangkei terhubung dengan Kuala Tanjung melalui jalur kereta api dan jalan tol Tebing Tinggi-Parapat. Jalur kereta api ini merupakan hasil kerja sama PT Kereta Api Indonesia (Persero), PT Pelindo (Persero), dan PTPN III (Persero).

Jalan tol dan jalur kereta api tersebut menjadi tulang punggung perekonomian Sumatera Utara yang baru.

Adapun Pelabuhan Kuala Tanjung yang dibangun sejak Januari 2015 dan mulai beroperasi pada April 2018 ini memiliki kedalaman -16 LWS dan dermaga 500X60 meter sehingga memungkinkan kapal berbobot sampai 100.000 DWT berlabuh.

Pelabuhan ini juga dilengkapi trestle yang menghubungkan wilayah darat dengan pelabuhan sepanjang 2,8 km dengan lebar 18,5 m.

Lokasi Pelabuhan Kuala Tanjung juga sangat strategis karena terletak di jalur pelayaran utama Selat Malaka. Terminalnya berkapasitas 400.000 TEUs (Twenty-Foot Equivalent Units) kontainer per tahun, sebanyak 1,2 juta ton curah cair per tahun, dan 250.000 ton general cargo per tahun.

“Capaian throughput di Kuala Tanjung hingga November 2023 meningkat dibandingkan capaian Januari-November 2022 sebesar 101%,” kata Direktur Utama PMT Rudi Susanto. Total Throughput pada Januari-November 2023 mencapai 64.090 TEUs, sedangkan pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 63.519 TEUs.

Capaian ini menunjukkan bahwa target Pelindo membangun hub logistik dan rantai pasok di Kuala Tanjung semakin mendekati kenyataan. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Ibeth Nurbaiti

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.