Target Pertamina NRE Merajai Geotermal Indonesia

Untuk pengembangan geotermal Pertamina NRE menargetkan secara bertahap kapasitas terpasang akan terus meningkat dari 672 MW pada 2023 menjadi 792 MW pada 2024, hingga akhirnya mencapai 1.707 MW pada 2030 mendatang.

Ibeth Nurbaiti

30 Apr 2024 - 17.50
A-
A+
Target Pertamina NRE Merajai Geotermal Indonesia

Wilayah kerja panas bumi yang dikelola PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO) di area pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) Kamojang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Bisnis-pge.pertamina.com

Bisnis, JAKARTA — PT Pertamina New Renewable Energy (NRE) menargetkan dapat menjadi raja geotermal di Tanah Air, sejalan dengan upaya perseroan menggenjot pengembangan energi baru terbarukan tersebut.

Pada 2030 nanti, subholding PT Pertamina (Persero) yang fokus menggarap bisnis energi bersih perusahaan migas pelat merah itu menargetkan kapasitas terpasang listrik panas bumi dapat mencapai 1.707 megawatt (MW) dari kondisi saat ini sebesar 672 MW.

John Anis, Direktur Utama Pertamina New & Renewable Energy, mengatakan bahwa pengembangan panas bumi atau geotermal menjadi salah satu dari tiga pilar penting transisi energi perusahaan.

Menurut John, dengan kapasitas geotermal yang luar biasa besar di Indonesia sementara yang terpakai baru sekitar 10%, menjadi peluang bagi perseroan untuk terus meningkatkan penggunaan energi bersih tersebut.

Terlebih, imbuhnya, geotermal bisa menjadi baseload, tidak sama dengan solar atau angin yang bersifat intermitten. Dengan demikian, geotermal bisa dikembangkan semaksimal mungkin, seperti Skandinavia yang telah menggunakan geotermal secara penuh.

“Kami punya kapasitas terpasang [geotermal] 672 MW, itu akan kami kembangkan terus,” kata John dalam acara Bisnis Indonesia BUMN Forum 2024 yang diselenggarakan oleh Bisnis Indonesia, Selasa (30/4/2024).

Baca juga:

Memastikan Pekerja Tambang Indonesia Tidak Sengsara Akibat Transisi Energi

Kinerja Moncer Pertamina NRE, Laba Kuartal I/2023 Lampaui Target

Jalan Tertatih Panas Bumi Jadi Tulang Punggung Energi Indonesia

PLN Kejar Target 33 GW Pembangkit Listrik Energi Terbarukan pada 2030

Angin Segar Hulu Migas Berembus dari Pantai Barsela Aceh

Adapun, untuk pengembangan geotermal Pertamina NRE menargetkan secara bertahap kapasitas terpasang akan terus meningkat dari 672 MW pada 2023 menjadi 792 MW pada 2024, hingga akhirnya mencapai 1.707 MW pada 2030 mendatang.

Sebagai gambaran, dengan potensi panas bumi yang mencapai 23.060,4 MW sementara tingkat utilisasi baru mencapai 2.372,13 MW (10,3%), prospek pengembangan sumber energi tersebut cukup besar dalam menunjang transisi dan ketahanan energi.


Tak heran jika pemerintah menjadikan geotermal sebagai salah satu sumber energi yang terus didorong pemanfaatannya. Pemerintah bahkan berkeinginan menjadikan panas bumi sebagai tulang punggung energi nasional.

Sejalan dengan itu, pemerintah juga telah bergerak cepat dalam mengoptimalisasi panas bumi di dalam negeri, termasuk dengan menggelontorkan sejumlah insentif untuk mempercepat investasi pada industri berbasis energi hijau tersebut.

Upaya mempercepat pengembangan energi panas bumi juga dilakukan dengan pengaturan tarif skema insentif.

Kemudian, program eksplorasi panas bumi dari pemerintah, sinergi BUMN, serta pemanfaatan geothermal fund dengan Kementerian Keuangan. Skema insentif harga untuk bea masuk juga diupayakan oleh eksekutif. Tujuannya agar komponen pembangkit listrik dari luar negeri tidak dikenakan pajak masuk. 

Agus Cahyono Adi, Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM, mengungkapkan bahwa secara umum pemerintah tengah mencari solusi agar transisi di Tanah Air dapat berjalan optimal.

“Ada satu idiom bahwa transisi tidak bisa berjalan tanpa transmisi. Jadi sedang kita cari formulasinya bagaimana agar transmisi ini, infrastruktur dibiayai oleh pemerintah sebagaimana jalan raya sehingga tidak menjadi beban buku pengusaha,” kata Agus dalam acara Bisnis Indonesia BUMN Forum 2024 yang diselenggarakan oleh Bisnis Indonesia, Selasa (30/4/2024).

Selain itu, Agus juga menekankan pentingnya kolaborasi antarpihak bersama pemerintah untuk mencari solusi atas kendala yang ada, demi menjaga ketahanan energi dan lingkungan dengan harga yang affordable serta pengusaha juga mendapatkan keekonomiannya.


Kendati demikian, pemerintah juga tidak menyangkal masih adanya sejumlah tantangan yang dihadapi pemerintah dalam upaya pengembangan pembangkit listrik berbasis panas bumi, termasuk mengejar target untuk menambah kapasitas 7,2 GW PLTP pada 2025.

Perkembangan panas bumi di Indonesia bahkan masih relatif lambat meskipun listrik dari uap panas geotermal itu sudah berhasil diproduksi sejak 42 tahun lalu. Berkaca pada catatan ReforMiner Institute, sampai dengan 2023 kapasitas terpasang listrik panas bumi (PLTP) Indonesia baru sekitar 12% dari potensi sumber daya panas bumi yang dimiliki.

Padahal, panas bumi sebagai sumber energi bersih memiliki keunggulan lebih dibandingkan dengan jenis EBT lainnya. Sejumlah keunggulan itu, di antaranya tidak tergantung pada cuaca, menghasilkan energi yang lebih besar untuk periode produksi yang sama, tidak memerlukan lahan yang luas dalam proses produksinya, serta memiliki capacity factor yang lebih besar.

Selain itu, listrik panas bumi juga bisa diprioritaskan untuk kepentingan domestik karena tidak dapat diekspor, bebas dari risiko kenaikan harga energi fosil, dan biaya operasi pembangkitannya juga relatif paling murah.

Seperti yang sempat diungkapkan Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro, capacity factor (CF) atau perbandingan produksi listrik dengan kemampuan produksi maksimum dari pembangkit panas bumi merupakan salah satu yang terbaik dibandingkan dengan pembangkit berbasis EBT lainnya maupun pembangkit listrik berbasis fosil.

Sayangnya, kata Komaidi, pengembangan dan pengusahaan panas bumi di Indonesia masih terkendala masalah keekonomian proyek meskipun memiliki sejumlah keunggulan. Harga jual tenaga listrik dari energi panas bumi dilaporkan masih lebih tinggi dibandingkan dengan harga jual tenaga listrik dari jenis EBT lainnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Fatkhul Maskur

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.