Tatkala Kilau Batu Bara Indonesia Kian Memukau Dunia

Bagi Indonesia, peningkatan kebutuhan batu bara global tentu saja membuka peluang ekspor baru sekaligus memperkuat neraca dagang. Apalagi, Indonesia juga masuk sebagai salah satu negara pemasok batu bara kualitas tinggi ke Uni Eropa meskipun tidak banyak.

Ibeth Nurbaiti
Jul 12, 2022 - 5:12 AM
A-
A+
Tatkala Kilau Batu Bara Indonesia Kian Memukau Dunia

Sebuah kapal tongkang pengangkut batu bara melintas di Sungai Musi, Palembang, Sumatera Selatan, Jumat (14/1/2022). Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan target produksi batu bara 2022 mencapai 663 juta ton yang diperuntukkan untuk konsumsi domestik/domestik market obligation (DMO) sebesar 165,7 juta ton sedangkan sisanya 497,2 juta ton akan mengisi pasar ekspor. ANTARA FOTO/Nova Wahyudi

Bisnis, JAKARTA — Meningkatnya kebutuhan batu bara sebagai sumber energi listrik sejumlah negara di Eropa membuat Indonesia 'di atas angin'. Emas hitam Indonesia kini menjadi buruan banyak negara, meskipun desakan dan tekanan dunia untuk segera meninggalkan energi fosil itu masih mengumandang.

Jerman sebagai negara pengusung energi hijau pun terang-terangan membeli batu bara dari Indonesia untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar pembangkitnya. Negeri Hitler ini secara resmi juga mengumumkan kebijakan untuk kembali menggunakan pembangkit listrik berbahan bakar batu bara demi mengamankan pasokan setrum negara itu, setelah Rusia memangkas aliran gasnya ke negara Eropa.

Sejumlah negara lainnya juga mengajukan permintaan bahkan melakukan transaksi pembelian batu bara Indonesia, menyusul musim dingin sepanjang kuartal ketiga tahun ini, termasuk Polandia, Italia, Spanyol hingga Belanda. Selain itu, Malaysia, India, dan Pakistan juga sudah mengajukan tambahan pembelian batu bara Indonesia.

Baca juga: Pamor Cerah Batu Bara Indonesia di Pusaran Energi Bersih

Bagi Indonesia, peningkatan kebutuhan batu bara global tentu saja membuka peluang ekspor baru sekaligus memperkuat neraca dagang. Apalagi, Indonesia juga masuk sebagai salah satu negara pemasok batu bara kualitas tinggi ke Uni Eropa meskipun tidak banyak.

Seperti yang diungkapkan Presiden Joko Widodo, sejumlah perdana menteri dari lima negara sahabat meminta dikirimkan batu bara dari Indonesia untuk menjamin keberlanjutan listrik dan industri di negaranya yang terdampak sentimen larangan impor energi dari Rusia.

“Waktu Januari kita setop batu bara, itu ada lima perdana menteri telepon ke saya, [bilang] Presiden Jokowi mohon kita dikirim batu baranya segera, secepatnya. Kalau tidak mati listrik dan industri kita,” kata Jokowi menceritakan ulang momen tersebut saat menghadiri Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PDIP di Lenteng Agung, Jakarta, Selasa (21/6/2022).

Presiden Joko Widodo (kanan) berbincang dengan Presiden Republik Federal Jerman Frank-Walter Steinmeier (kiri) di Istana Bogor, Jawa Barat, Kamis (16/6/2022). Kunjungan kenegaraan Presiden Republik Federal Jerman tersebut berlangsung dalam rangka peringatan 70 tahun hubungan diplomatik Indonesia Jerman yang terbentuk sejak 1952. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

Menurut Jokowi, permintaan batu bara yang ramai belakangan itu menandakan posisi atau daya tawar Indonesia relatif besar di rantai pasok energi global.

Dari sisi industri, setidaknya Indonesia juga bisa dikatakan cukup siap untuk memenuhi permintaan batu bara global yang melonjak dalam beberapa waktu belakangan. Buktinya, pada 2020 Indonesia mengekspor 0,1 juta ton batu bara kualitas tinggi ke Benua Biru tersebut.

“Sepanjang kualitas yang dibutuhkan dan harga cocok, ya tentu saja ini prospek yang bagus,” kata Hendra Sinadia, Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) ketika dihubungi Bisnis, Selasa (21/6/2022).

Menurut perkiraannya, kebutuhan negara-negara Uni Eropa yang sedang mencari alternatif untuk menggantikan impor batu bara dari Rusia pada tahun lalu berkisar antara 50—60 juta ton.

Baca juga: Gemilang Tambang Emas Hitam di Tengah Desakan Industri Hijau

Sementara itu, sejumlah negara seperti Jerman, Italia, dan Belanda pada umumnya menggunakan batu bara dengan kalori tinggi 5.800 GAR—6.000 GAR, yang persediaannya tidak banyak di Indonesia.

Kendati demikian, kemungkinan Indonesia untuk mengekspor batu bara ke negara pengimpor gas dari Rusia seperti Jerman, Polandia, Italia, dan Belanda masih terbuka, meskipun sebagian besar cadangan batu bara yang ada dengan tingkat kalori menengah ke bawah yang menjadi andalan ekspor untuk negara mitra seperti India dan China.


Hanya saja, dia tidak menampik bahwa untuk menaikkan produksi batu bara pada tahun ini bukanlah hal yang mudah lantaran torehan produksi selama kuartal I/2022 sempat terkoreksi cukup dalam akibat cuaca buruk. 

“[Butuh] Dukungan ketersediaan alat tambang dan armada angkut laut seperti tongkang, juga perlu waktu untuk bisa mendukung kenaikan produksi. Karena peningkatan permintaan sifatnya sangat tiba-tiba akibat perang di Eropa Timur,” tuturnya.

Yang jelas, perusahaan penyedia alat berat di Tanah Air diperkirakan akan meningkatkan penyediaan alat berat tahun ini hingga 30 persen dari kapasitas semula. “Seluruh korporasi penyedia alat berat diperkirakan meningkatkan kapasitas peningkatan di atas 30 persen,” kata Ketua Umum Perhimpunan Agen Tunggal Alat Berat Indonesia (PAABI) Etot Listyono kepada Bisnis, Senin (20/6/2022).

Baca juga: Alat Berat Terungkit Permintaan Batu Bara Eropa

Dia menjelaskan bahwa pengadaan alat berat di seluruh sektor pada tahun ini sebanyak 9.000 unit, dengan 40 persennya berasal dari keperluan batu bara. Sementara itu, dari segi market size keperluan alat berat di Indonesia pada tahun ini diperkirakan sebanyak 20.000 unit.

Itu sebabnya, perusahaan alat berat perlu segera melakukan perluasan pabrik untuk mengantisipasi lonjakan permintaan alat berat akibat lonjakan kebutuhan batu bara dunia yang diperkirakan terus tinggi dalam 2—3 tahun ke depan.

“Perlu ada tim dari BKPM untuk memanfaatkan situasi ini. Sebab, lebih baik ada relokasi pabrik alat berat ke Indonesia daripada harus impor,” ujar Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bima Yudhistira kepada Bisnis, Senin (20/6/2022).

Dia juga meminta sektor perbankan untuk tidak ragu-ragu dalam menyalurkan pinjaman dengan bunga rendah kepada pelaku industri alat berat.

Berdasarkan data Minerba One Data Indonesia per Jumat (17/6/2022), realisasi produksi batu bara baru mencapai 271,78 juta ton. Sementara itu, realisasi ekspor menyentuh angka 95,79 juta ton dan domestik berada di kisaran 72,65 juta ton. Sejauh ini, pemenuhan pasar domestik atau domestic market obligation (DMO) sudah mencapai 54,03 juta ton.

“Nanti kita akan tambahkan produksinya di RKAB [rencana kerja dan anggaran belanja], belum ada angkanya tapi gambaran permintaanya sudah 150 juta [ton], itu yang bicara angka Jerman kalau yang saya tahu,” kata Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Ridwan Djamaluddin saat ditemui selepas acara Pengarahan Kepada Penjabat Gubernur dan Penjabat Bupati/Penjabat Walikota di kantor Kementerian Dalam Negeri, Kamis (16/6/2022).

Baca juga: Menanti Episode Baru Pengamanan Batu Bara Domestik

Dia memastikan kapasitas produksi di dalam negeri relatif stabil hingga akhir tahun ini seiring dengan permintaan yang signifikan dari sejumlah negara nontradisional. Cadangan batu bara dari sejumlah perusahaan besar seperti PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) terbilang cukup besar untuk memenuhi permintaan baru tersebut.

Sejalan dengan itu, PTBA yang merupakan anggota holding BUMN Pertambangan MIND ID tengah mengoptimalkan potensi pasar ekspor baru, setelah perseroan mencatatkan produksi sebesar 6,3 juta ton atau naik 40 persen secara tahunan pada kuartal I/2022.

“Selain tetap fokus memenuhi kontrak yang sebagian besar untuk kebutuhan domestik, PTBA tentunya terus mengoptimalkan potensi market ekspor baru, tidak hanya ke negara tujuan ekspor eksisting,” kata Corporate Secretary PTBA Apollonius Andwie melalui pesan singkat, Jumat (17/6/2022).


Menurut Andwie, perseroan juga turut melihat potensi ekspor ke sejumlah negara Eropa yang relatif tumbuh pesat hingga pertengahan tahun ini. Dia berharap agar peningkatan permintaan itu ikut mengangkat kembali kinerja ekspor perseroan pada kuartal II/2022.

Di sisi lain, emiten produsen batu bara PT Adaro Energy Tbk. (ADRO) masih berfokus mempertahankan ekspor ke pasar tradisional mereka di kawasan Asia Tenggara, China, Asia Timur, India, dan Selandia Baru di tengah peningkatan permintaan dari beberapa negara di Eropa.

Perseroan juga bakal fokus terhadap upaya efisiensi, kendati harga komoditas emas hitam itu relatif tetap tinggi hingga pertengahan tahun ini. 

“ADRO ingin memastikan kegiatan bisnis dapat bertahan di tengah sejumlah siklus komoditas yang tidak dapat diprediksi. Harga batu bara mengikuti siklusnya dan tidak dapat diprediksi,” kata Head of Corporate Communication Adaro Energy Febriati Nadira. (Nyoman Ary Wahyudi/Rahmad Fauzan)

Editor: Ibeth Nurbaiti
Anda belum memiliki akses untuk melihat konten

Untuk melanjutkannya, silahkan Login Di Sini