Tekanan di Pasar SUN Bakal Makin Membesar

Keputusan agresif the Fed yang menaikkan suku bunga hingga 50 bps sekaligus menjadi kabar buruk bagi pasar surat utang Indonesia. Meski begitu, masih ada harapan bagi pasar surat utang Indonesia untuk tetap stabil di sisa tahun ini.

Emanuel Berkah Caesario
May 9, 2022 - 2:09 PM
A-
A+
Tekanan di Pasar SUN Bakal Makin Membesar

ilustrasi obligasi

Bisnis, JAKARTA — Langkah agresif bank sentral Amerika Serikat, the Fed, yang menaikkan suku bunga acuan hingga 50 bps pada pekan lalu bakal menambah tekanan di pasar surat utang Indonesia, terutama memicu kenaikan yield yang akan berujung pada kejatuhan harga instrumen surat utang.

Keputusan the Fed tersebut tidak terlepas dari kondisi inflasi di Negeri Paman Sam yang telah menyentuh level terburuk dalam 40 tahun terakhir, yakni di posisi 8,5 persen per Maret 2022 lalu. Kondisi ini mau tidak mau harus diredam dengan kebijakan pengetatan moneter.

The Fed juga bakal mengurangi porsi pembelian aset di pasar untuk memperketat likuiditas sehingga ekonomi dapat mendingin kembali dan inflasi dapat kembali ke level sekitar 2 persen saja. Kondisi ini tentu saja bakal berdampak pada gejolak di pasar surat utang.

Berdasarkan data World Government Bonds, yield US Treasury tenor 10 tahun sudah di level 3,187 persen per Senin (9/5). Posisi yield ini sudah meningkat 84,2 bps dari posisi akhir Maret 2022 lalu yang masih di level 2,345 persen.

Yield US Treasury 10 tahun tercatat mulai menembus level 3 persen setelah the Fed mengumumkan kenaikan suku bunga 50 bps pada Rabu (5/4) waktu setempat. Lonjakan sebesar 50 bps ini adalah lonjakan tertinggi yang pernah terjadi, setidaknya dalam 22 tahun terakhir atau sejak 2000.

Yield US Treasury tenor 10 tahun berada di level 3,187 persen pada perdagangan Senin, 9 Mei 2022. Sumber: World Government Bond.

Biasanya, the Fed akan menaikkan suku bunga sekitar 25 bps saja secara bertahap. Langkah agresif kali ini jelas menunjukkan sinyal keseriusan the Fed dalam menghadapi gejolak ekonomi yang sedang terjadi di Amerika Serikat. Kini, suku bunga the Fed ada di kisaran 0,75 persen hingga 1 persen.

Berdasarkan catatan Bloomberg, the Fed mengatakan bahwa kenaikan ini terpaksa ditempuh demi menetralisir kondisi inflasi AS.

"Inflasi sudah terlalu tinggi. Kami memahami dampak yang ditimbulkan, dan kami bergerak secepat mungkin untuk membuatnya turun lagi," tutur Gubernur The Fed Jerome Powell dalam pernyataan resminya.

Riset dari Infovesta Utama pada Senin (9/5) menyebutkan, langkah the Fed akan menimbulkan tekanan pada pasar obligasi Indonesia. Umumnya, yield US Treasury menjadi acuan bagi yield surat utang negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Kenaikan yield US Treasury akan memicu kenaikan yield surat utang negara (SUN) Indonesia. Sementara itu, kenaikan yield berimplikasi langsung pada penurunan harga, sehingga potensi kenaikan yield di masa mendatang adalah ancaman bagi pelaku pasar surat utang di dalam negeri.

Data dari World Government Bonds pada Senin (9/5) mencatat, tingkat imbal hasil SUN Indonesia 10 tahun telah menembus level 7,262 persen. Selama sepekan terakhir, yield SUN Indonesia telah melemah sebesar 26,4 basis poin.

Yield SUN Indonesia tenor 10 tahun segera melonjak ke level 7,262 persen usai dibuka pascalibur panjang Lebaran. Sumber: World Government Bonds.

Sementara itu, Infovesta menilai kondisi pasar surat utang Indonesia akan makin dibebani oleh inflasi Indonesia yang diprediksi melonjak. Potensi kenaikan inflasi di atas 3 persen akan menjadi salah satu dorongan bagi Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan suku bunga acuan, mengikuti arah kebijakan the Fed.

Lebih lanjut, faktor kondisi geopolitik Rusia-Ukraina yang belum mereda dan yield US Treasury yang meningkat juga menjadi sentimen negatif bagi pasar obligasi Indonesia.

“Oleh karena itu, sebaiknya para pelaku pasar untuk sementara menghindari investasi pada instrumen ini sampai imbal hasil naik di level yang cukup menarik untuk masuk kembali,” demikian kutipan laporan tersebut.

Adapun, pasar reksa dana pendapatan tetap maupun reksa dana saham saat ini masih menunjukkan kecenderungan negatif sejalan dengan kebijakan kenaikan suku bunga the Fed. Tekanan ini diprediksi akan terus berlanjut hingga kuartal II/2022.

“Sebagai alternatif berinvestasi, sebaiknya para pelaku pasar dapat mempertimbangkan reksa dana pasar uang karena adanya sentimen kenaikan suku bunga,” pungkasnya.

 

TETAP MENARIK

Chief Investment Officer STAR AM, Susanto Chandra, mengatakan bahwa meski tengah melemah, minat investor terhadap obligasi Indonesia masih cukup tinggi jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Dirinya pun yakin pasar SUN masih relatif menarik di mata investor sepanjang kuartal II/2022.

“Hal ini mengingat tingkat imbal hasil yang lebih baik dibandingkan dengan negara emerging market lainnya,” ujarnya.

Susanto melanjutkan, tren pelemahan imbal hasil SUN Indonesia masih akan berlanjut selama beberapa waktu mendatang. Kelanjutan kenaikan suku bunga dari the Fed dan Bank Indonesia akan menjadi katalis negatif terhadap pasar obligasi.

Menurutnya, suku bunga indonesia berpotensi meningkat ketika the Fed meningkatkan lagi suku bunganya sebanyak 75 basis poin. “Selain itu, jika laju inflasi masih terus naik, sentimen peningkatan imbal hasil obligasi masih akan berlanjut,” lanjutnya.

Seiring dengan hal tersebut, Susanto memperkirakan yield SUN seri 10 tahun akan bergerak pada kisaran 6,5 persen – 7,5 persen di sisa tahun 2022.

Sementara itu, esok pemerintah akan kembali menggelar lelang SUN rutin. Sayangnya, kondisi pasar terkini yang sedang tertekan berpotensi menyebabkan tingkat permintaan pada lelang esok akan terbatas. Investor pun kemungkinan bakal meminta yield tinggi sebagai kompensasi atas risiko pasar.

Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede, memaparkan bahwa dalam 1 minggu terakhir tekanan dari dolar AS dan yield obligasi AS atau US Treasury cenderung mengalami peningkatan secara global. Hal ini tercermin dari penguatan dollar dan kenaikan yield US Treasury pascarapat FOMC.

Kondisi tersebut juga berdampak pada yield SUN yang hari ini langsung melonjak ke level 7,2 persen setelah dibuka usai libur Lebaran.

Josua mengatakan, sentimen ini masih akan berlanjut pada Selasa besok dan mempengaruhi hasil lelang SUN. Seiring dengan hal tersebut, hasil lelang SUN besok diprediksi akan lebih rendah dari sebelumnya.

“Kami perkirakan incoming bids pada lelang esok akan berkisar pada Rp30 triliun - Rp40 triliun,” katanya saat dihubungi pada Senin (9/5).

Josua melanjutkan, tekanan dari sentimen pasar keuangan akan mendorong investor untuk mencari surat berharga dengan tenor jangka panjang. Menurutnya, Surat Perbendaharaan Negara (SPN) diprediksi akan menjadi incaran investor pada lelang esok.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR Kementerian Keuangan, pemerintah akan menawarkan tujuh seri yang terdiri dari  SPN03220810 (new issuance), SPN12230203 (reopening), FR0090 (reopening), FR0091 (reopening), FR0093 (reopening), FR0092 (reopening), dan FR0089 (reopening).

Target indikatif dari lelang SUN 10 Mei 2022 ditetapkan senilai Rp20 triliun dan target maksimal senilai Rp30 triliun.

(Reporter: Lorenzo A. Mahardhika)

Editor: Emanuel Berkah Caesario
company-logo

Lanjutkan Membaca

Tekanan di Pasar SUN Bakal Makin Membesar

Dengan paket langganan dibawah ini :

Tidak memerlukan komitmen. Batalkan kapan saja.

Penawaran terbatas. Ini adalah penawaran untuk Langganan Akses Digital Dasar. Metode pembayaran Anda secara otomatis akan ditagih di muka setiap empat minggu. Anda akan dikenai tarif penawaran perkenalan setiap empat minggu untuk periode perkenalan selama satu tahun, dan setelah itu akan dikenakan tarif standar setiap empat minggu hingga Anda membatalkan. Semua langganan diperpanjang secara otomatis. Anda bisa membatalkannya kapan saja. Pembatalan mulai berlaku pada awal siklus penagihan Anda berikutnya. Langganan Akses Digital Dasar tidak termasuk edisi. Pembatasan dan pajak lain mungkin berlaku. Penawaran dan harga dapat berubah tanpa pemberitahuan.

Copyright © Bisnis Indonesia Butuh Bantuan ?FAQ