Telaah Proyeksi Surplus Neraca Dagang Agustus 2021

Mulai dari Kementerian Perdagangan, ekonom, hingga pengusaha memproyeksikan surplus neraca perdagang kembali berlanjut pada Agustus 2021. Apa saja faktor pendorongnya?

Stepanus I Nyoman A. Wahyudi
Sep 13, 2021 - 1:38 PM
A-
A+
Telaah Proyeksi Surplus Neraca Dagang Agustus 2021

Suasana di Pelabuhan Kuala Tanjung Port and Industrial Estate. /Dok. Pelindo 1

Bisnis, JAKARTA — Neraca perdagangan Agustus 2021 diproyeksi kembali menorehkan surplus, ditopang oleh tren kenaikan harga komoditas unggualan ekspor Indonesia di pasar global.

Sekadar catatan, kinerja neraca perdagangan Agustus 2021 akan diumumkan secara resmi oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada Rabu (15/9/2021).

Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan (BP3) Kementerian Perdagangan Kasan Muhri menyebut komoditas ekspor penyumbang surplus Agustus a.l. minyak kelapa sawit, batu bara, nikel, dan tembaga.

“Dari sisi permintaan, kita juga telah melihat terjadinya peningkatan impor di negara-negara mitra dagang Indonesia pada bulan Agustus ini,” kata Kasan kepada Bisnis, Senin (13/9/2021). 

Dia menambahkan pasar ekspor utama Indonesia, seperti China telah menunjukkan pertumbuhan impor sebesar 33,1% secara year on year (yoy) pada tahun ini.

Selaras, India pun memperlihatkan pertumbuhan impor 51,1% yoy, dan Vietnam juga menambah impor hingga 21% yoy. 

“Selain faktor-faktor tersebut, terkendalinya penanganan pandemi di dalam negeri dan di negara mitra dagang Indonesia hingga saat ini tidak juga terlalu menggangu kegiatan produksi di dalam negeri dan juga permintaan di pasar global,” lanjut Kasan. 

Faktor lain yang juga menopang surplus neraca perdagangan Agustus adalah peninkatan kinerja ekspor crude palm oil (CPO) dan produk turunannya akibat gangguan produksi yang dialami Malaysia, selaku produsen minyak sawit kompetitor RI.

“Indonesia mengambil alih pasar yang selama ini diisi oleh Malaysia. Dalam situasi ini, kami melihat peluang peningkatan volume ekspor produk CPO terjadi pada Agustus,” kata dia. 

Kombinasi antara harga yang tinggi dan peningkatan volume ekspor yang cukup besar menyebabkan kontribusi CPO menguat signifikan pada neraca perniagaan Agustus tahun ini. 

“Untuk kinerja ekspor produk batu bara diperkirakan juga akan meningkat seiring dengan meningkatnya aktivitas perekonomian di negara pengimpor batu bara dari Indonesia seperti di India yang sudah perlahan-lahan pulih dari gelombang pandemi,” tuturnya. 

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan surplus neraca perdagangan Indonesia pada semester I/2021 mencapai US$11,86 miliar. Jumlah tersebut tercatat jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan surplus di semester I/2020 yang saat itu mencapai US$5,42 miliar. 

PROYEKSI EKONOM

Dari tinjauan para ekonom, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Mohammad Faisal pun memproyeksikan neraca perdagangan Agustus 2021 bakal kembali surplus akibat pertumbuhan ekspor yang relatif tinggi satu bulan terakhir.

Senada dengan proyeksi Kemendag, dia menilai penguatan kinerja ekspor dipicu oleh tingginya permintaan China terhadap komoditas utama Indonesia. 

“Hanya surplus pada Agustus ini akan lebih kecil dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya karena tekanan impor kami perkirakan melemah sejalan dengan pelonggaran PPKM pada Agustus,” kata Faisal. 

Dengan demikian, Faisal menggarisbawahi, pertumbuhan impor bakal bergerak positif jika dibandingkan dengan Juni dan Juli lalu. Menurutnya, pertumbuhan impor secara bulanan pada Agustus bergerak di kisaran 10%—15% dan ekspor di kisaran 10%. 

“Untuk ekspor masih akan sangat didorong oleh kuatnya permintaan China terhadap komoditas utama dari Indonesia seperti batu bara, CPO dan lain-lain dan juga produk-produk turunan besi dan baja,” kata dia. 

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede, di sisi lain, memproyeksikan nilai suprlus neraca perdagangan Agustus 2021 mencapai sekitar US$2,68 miliar alias naik tipis dari bulan sebelumnya yang senilai US$2,59 miliar. 

Joshua berpendapat kinerja ekspor Agustus bakal tumbuh mencapai 38,19% secara yoy, didorong oleh peningkatan harga komoditas global.

Sepanjang Agustus yang lalu, harga komoditas ekspor tercatat meningkat seperti batu bara sebesar 11% dari bulan sebelumnya, karet alam sebesar 4,6%, dan nikel sebesar 1,7%. 

Kendati demikian, Joshua justru memandang volume permintaan ekspor cenderung melambat. 

“Volume permintaan ekspor diperkirakan menurun dibandingkan bulan sebelumnya terindikasi dari penurunan aktivitas manufaktur dari mitra dagang utama Indonesia seperti zona Eropa, Amerika, China, dan India,” kata Joshua. 

Namun, sambungnya, data Biro Statistik China mencatat impor dari Indonesia pada Agustus 2021 mencapai US$5,48 miliar atau meningkat dari bulan sebelumnya di angka US$4,99 miliar. 

Di sisi lain, kinerja impor Indonesia pada Agustus 2021 juga mengalami peningkatan secara terbatas yaitu sebesar 1,66% month to month (mtm) dan 43,03% secara yoy.

“Meskipun aktivitas manufaktur Indonesia cenderung meningat pada bulan lalu, tetapi masih dalam fase yang kontraktif sehingga membatasi permintaan terhadap impor bahan baku dan barang modal,” kata dia. 

Dia pun menggarisbawahi impor migas cenderung tertahan mempertimbangkan tren penurunan harga minyak mentah sepanjang Agustus. Bulan tersebut, harga minyak mentah Brent tercatat turun 5,9% mtm.

Suasana Terminal 3 Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (12/1/2021). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

TIDAK OPTIMAL

Dari sisi eksportir, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI) Benny Soetrisno mengatakan realisasi ekspor dalam negeri relatif tidak optimal hingga awal paruh kedua tahun ini.

Alasannya, Indonesia belum memiliki kapal antarbenua dan asuransi angkutan ekspor untuk mengirim barang di luar kawasan Asia. 

“Perdagangan dunia masih belum ketemu ini, antara ekspor dan impor masih banyak ekspornya dibanding impor. Sehingga, jumlah kontainer yang mau dipakai ekspor berebut jadi ada kemahalan di situ,” kata Benny. 

Akibat kendala itu, Benny menuturkan, sejumlah importir mesti berani membayar barang ekspor dalam negeri dengan harga yang relatif tinggi. Mayoritas importir itu berasal dari negara mitra seperti Amerika Serikat dan Jepang.

“Ada semacam hambatan. Artinya, ada potensi yang hilang. Kalau tidak ada itu, ekspor kita bisa lebih tinggi, kalau ekspornya ke Asia yang dekat-dekat tidak masalah,” kata dia. 

Editor: Wike D. Herlinda

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar