Telat Respons Pemerintah Buat Gula Pasir Langka di Ritel Modern

Stok gula di ritel modern akan kembali tersedia secara bertahap seiring adanya relaksasi harga penjualan dan mulai normalnya arus logistik.

Dwi Rachmawati

24 Apr 2024 - 13.38
A-
A+
Telat Respons Pemerintah Buat Gula Pasir Langka di Ritel Modern

Buruh menurunkan muatan gula pasir dari kapal Pinisi yang dikirim dari Sulawesi Tenggara, di Pelabuhan Paotere Makassar, Sulawesi Selatan. Bisnis/Paulus Tandi Bone

Bisnis, JAKARTA – Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Nicholas Mandey memaparkan penyebab stok gula langka di gerai ritel modern dalam beberapa waktu belakangan.

Roy mengatakan bahwa harga gula yang tinggi di tingkat produsen telah memicu hambatan pasokan ke ritel modern.

Kendati begitu, langkah pemerintah merelaksasi harga acuan penjualan gula pasir di ritel dari sebelumnya Rp16.000 menjadi Rp17.500 per kilogram dinilai sudah tepat untuk melancarkan pasokan gula.

Hanya, tambah Roy, keputusan pemerintah melakukan relaksasi harga gula per 5 April 2024 terlalu dekat dengan periode libur lebaran.

Baca juga: Evaluasi Menaikkan Harga MinyaKita Mulai Dibahas

Hal itu juga dianggap menjadi faktor kelangkaan gula pasir yang terjadi sebelum dan setelah lebaran akibat hambatan logistik di periode angkutan lebaran.

"Kalau terjadi kelangkaan dan belum ada di ritel, karena kemarin kan ketika ditetapkan HAP [harga acuan penjualan] baru itu sudah masuk libur Lebaran. Sehingga pengiriman gula ke ritel terhambat," ujar Roy saat dihubungi, Selasa (23/4/2024).

Roy memperkirakan stok gula di ritel modern akan kembali tersedia secara bertahap seiring adanya relaksasi harga penjualan dan mulai normalnya arus logistik.

"Di April ini sudah direlaksasi harganya jadi Rp17.500 per kilogram, kita bertahan dengan angka ini. Mudah-mudahan sudah lebih merata dan stabil harganya," ucap Roy.

 

 

Roy menjelaskan bahwa kelangkaan dan lonjakan harga gula merupakan akumulasi dampak dari minimnya stok gula di produsen maupun importir.

Menurut Roy, lambatnya pengadaan gula impor hingga belum terjadinya musim giling tebu jadi faktor pemicu tingginya harga gula sejak Februari 2024.

Di sisi lain, nilai tukar Rupiah yang anjlok terhadap Dolar Amerika Serikat juga semakin menghambat para importir untuk melakukan pengadaan. Lonjakan harga gula melampaui harga acuan telah menghambat pasokan ke ritel modern.

Oleh karena itu, Roy menegaskan agar pemerintah seharusnya bisa memperhitungkan stok gula nasional secara tepat di tengah berbagai ancaman pasokan.

"Data gula harus sangat akurat, perlu ada langkah kontingensi untuk menanggulangi keterlambatan impor," ucapnya.

Baca juga: Pengusaha Ritel Blak-blakan Alasan Gula Pasir Langka di Alfamart Cs

Sebelumnya, berdasarkan catatan Bisnis, Senin (1/4/2024), sebenarnya sinyal bakal terjadi kelangkaan gula di ritel modern telah disampaikan oleh Aprindo seiring harga di tingkat produsen mencapai level Rp15.000—Rp16.000 per kilogram. 

Harga modal yang tinggi di atas harga acuan penjualan membuat peritel berpikir ulang melakukan pengadaan gula.

"Otomatis kalo kita enggak mau beli, karena kita mau menaati harga acuan ya seret dong. Langka jadinya," ujar Roy saat ditemui di kawasan pergudangan Bulog Kelapa Gading, Senin (1/4/2024).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Jaffry Prabu Prakoso

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.