Tenggelamnya Kinerja Reksa Dana Saham Kala IHSG Melambung

Reksa dana pasar uang masih menjadi instrumen paling cuan hingga pekan ketiga Januari 2022.

Ika Fatma Ramadhansari
Jan 24, 2022 - 9:38 AM
A-
A+
Tenggelamnya Kinerja Reksa Dana Saham Kala IHSG Melambung

ilustrasi investasi reksa dana

Bisnis, JAKARTA – Pasar modal Indonesia bersorak saat indeks harga saham gabungan (IHSG) mencetak rekor baru pada Jumat (21/1/2022). Namun, laju indeks acuan yang melesat tak diikuti oleh kinerja reksa dana acuan. 

Berdasarkan laporan mingguan Infovesta yang dirilis Senin (24/1/2022), mayoritas instrumen reksa dana pada pekan ketiga Januari 2022 terkoreksi. Secara keseluruhan, kinerja instrumen reksa dana pada periode 14 Januari 2022 hingga 21 Januari 2022 bergerak dalam rentang minus 0,20 persen hingga 0,06 persen. 

Jika ditelisik secara rinci, reksa dana saham menjadi instrumen yang mengalami penurunan terdalam dalam sepekan yaitu 0,20 persen. Disusul oleh reksa dana campuran yang turun 0,07 persen, dan reksa dana pendapatan tetap turun 0,02 persen. 

Kinerja reksa dana saham juga tercatat paling lemah sepanjang tahun 2022 dengan penurunan sebesar 0,54 persen. Kemudian, reksa dana pendapatan tetap dan reksa dana campuran yang masing-masing turun 0,17 persen dan 0,04 persen.

Sementara itu, IHSG mengalami penguatan sebesar 0,29 persen dalam sepekan lalu yang ditopang oleh melesatnya sektor energi hingga 5,21 persen. Menurut Infovesta, kencangnya gerak sektor energi dipacu oleh harga komoditas minyak sawit (crude palm oil/ CPO) yang melambung dan izin ekspor batu bara untuk emiten yang telah memenuhi DMO. 

Di sisi lain, indeks acuan obligasi turut mengalami kenaikan tipis. Tercatat, indeks acuan obligasi pemerintah (IGBI) naik 0,06 persen dan obligasi korporasi (ICBI) mengalami pertumbuhan hingga 0,07 persen. 

“Kenaikan indeks acuan baik di pasar saham maupun surat utang tidak berpengaruh pada kinerja reksa dana,” tulis Infovesta dalam laporannya, Senin (24/1/2022). 

 


 


Lebih lanjut, Infovesta melaporkan bahwa reksa dana pasar uang menjadi satu-satunya instrumen yang mencatatkan pertumbuhan relatif stabil. Kinerja instrumen tersebut mampu meningkat 0,06 persen pada minggu lalu. 

Sepanjang tahun berjalan, reksa dana pasar uang tumbuh stabil dan mencatatkan kenaikan sebesar 0,16 persen. Meskipun, kinerja instrumen tersebut sejajar dengan indeks acuannya yaitu Tingkat Bunga Penjaminan atau LPS Rate

Kinerja reksa dana tersebut pun berbanding terbalik dengan reksa dana syariah yang justru mampu mencatatkan kinerja positif. Secara detail, kinerja reksa dana saham syariah mampu meningkat 0,09 persen. 

Kemudian, reksa dana pendapatan tetap syariah dan reksa dana pasar uang syariah masing-masing naik 0,07 persen dan 0,05 persen. 

Sedangkan untuk reksa dana campuran syariah mengalami pelemahan kinerja dalam sepekan sebesar 0,18 persen.

 


Andalkan Reksa Dana Saham dan Pasar Uang 

Adapun kinerja reksa dana sepanjang tahun ini diproyeksi tetap positif, terutama reksa dana saham dan pasar uang. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang dikutip pada Minggu (9/1/2022), dana kelolaan reksa dana produk reksa dana secara industri per 31 Desember 2021 ada di posisi Rp579,96 triliun. 

Realisasi tersebut naik 2,81 persen bila dibandingkan dengan catatan per akhir November 2021 sebanyak Rp564,07 triliun. AUM reksa dana juga pada Desember 2021 sekaligus merupakan nilai terbesar sepanjang tahun 2021 secara bulanan. 

Head of Market Research Infovesta Utama, Wawan Hendrayana, sebelumnya mengatakan pertumbuhan dana kelolaan reksa dana sepanjang akhir tahun lalu ditopang oleh kembalinya investor ke pasar saham. Koreksi yang terjadi pada pasar saham di akhir tahun justru dimanfaatkan oleh pelaku pasar untuk masuk ke kelas aset ini.

“Ini menandakan kepercayaan pasar dan investor terhadap pemulihan ekonomi yang akan terjadi pada tahun 2022,” jelasnya saat dihubungi  beberapa waktu lalu. 

Dengan kondisi tersebut, dia pun memprediksi pertumbuhan dana kelolaan reksa dana pada tahun ini cukup positif. Menurutnya, AUM reksa dana dapat naik hingga sekitar 10 persen pada akhir tahun nanti. 

Selain sentimen pemulihan ekonomi, tren harga komoditas yang masih tinggi akan turut menopang outlook pertumbuhan AUM reksa dana. Kenaikan ini akan dimotori oleh pertumbuhan pada reksa dana saham. 

Selain itu, potensi kenaikan suku bunga The Fed tahun ini juga dapat memicu kenaikan jumlah dana kelolaan. Wawan menuturkan, sentimen ini akan berdampak positif pada reksa dana pasar uang dan negatif terhadap reksa dana pendapatan tetap. 

 “Reksa dana pasar uang akan menjadi motor penggerak setelah saham, karena risikonya rendah dan umumnya menjadi pintu masuk bagi investor pemula yang saat ini juga bertumbuh di Indonesia,” jelasnya. 

Direktur Utama Trimegah Asset Management, Antony Dirga, juga optimistis prospek pertumbuhan AUM reksa dana di tahun 2022 cukup positif. Menurutnya, jumlah dana kelolaan hingga akhir tahun ini dapat tumbuh sekitar 10 persen hingga 15 persen. 

Ia memaparkan, prospek positif ini sejalan dengan perekonomian Indonesia yang sudah berada di fase pemulihan setelah terdampak pandemi virus corona di tahun 2021. Tren harga komoditas yang diyakini tetap tinggi pada 2022 juga akan berimbas pada kenaikan dana kelolaan industri reksa dana. 

“Dari saham, IPO dari perusahaan-perusahaan new economy kami yakini akan memberikan sentimen positif buat pasar modal kita, yang tentunya akan mendorong pertumbuhan industri kita,” jelasnya. 

Editor: Febrina Ratna Iskana

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar