Tertekan Biaya Konstruksi, Akankah Harga Rumah Komersial Naik?

Saat ini, sebagian besar pengembang properti tengah menahan kenaikan harga hunian terutama produk rumah tapak komersial meskipun di tengah gempuran melambungnya harga bahan bangunan yang telah terjadi sejak tahun lalu. Para pengembang tengah mengkaji rencana kenaikan harga rumah pada semester II.

Yanita Petriella
May 17, 2022 - 2:45 PM
A-
A+
Tertekan Biaya Konstruksi, Akankah Harga Rumah Komersial Naik?

Produk double decker Swan City di Cikupa Tangerang. /Istimewa

Bisnis, JAKARTA – Saat ini, sebagian besar pengembang properti tengah menahan kenaikan harga hunian terutama produk rumah tapak komersial meskipun di tengah gempuran melambungnya harga bahan bangunan yang telah terjadi sejak tahun lalu. Di tambah lagi belum usainya perang antara Rusia dan Ukraina turut serta menyebabkan makin melonjaknya harga bahan bangunan seperti besi dan baja di pasar global. 

Selain itu, per 1 April kemarin, pemerintah mulai memberlakukan tarif baru Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 11 persen yang 1 persen. Kenaikan PPN sebesar 1 persen ini tentu juga berdampak pada biaya kontrusksi karena pajak pembelian bahan bangunan dan material ini turut mengalami kenaikan. Alhasil, kenaikan bahan bangunan itu juga berdampak pada harga produk residensial. 

Namun demikian, memang tak dipungkiri saat ini para pengembang pun tengah mengkaji harga baru produk residensial yang diperkiakan mulai diberlakukan pada akhir tahun ini. Harga baru hunian komersil nantinya juga akan mengakomodir Bank Indonesia yang diprediksi akan menaikkan suku bunga acuan BI 7 Days Repo Rate

Prediksi tersebut seiring Bank sentral Amerika Serikat (AS) The Fed yang telah menaikkan suku bunga acuannya atau Fed Funds Rate (FFR) sebesar 50 basis poin pada awal Mei untuk menekan lonjakan inflasi di negara tersebut. Rencananya Bank Sentral AS itu juga akan kembali menaikkan FFR pada Juni dan Juli mendatang.  

Ketua Umum DPP Realestat Indonesia (REI) Paulus Totok Lusida mengatakan saat ini para pengembang memang masih menahan kenaikan harga residensial. 

“Saya berusaha menahan anggota REI agar harga rumah komersil tak naik dahulu,” ujarnya kepada Bisnis, Selasa (17/5/2022). 

Sejumlah pengembang yang masih menahan agar harga residensial komersial ini tak naik memiliki alasan yakni agar stimulus PPN yang ditanggung pemerintah (DTP) ini hingga September mendatang dapat optimal. Hal ini sebagai upaya dukungan pengembang agar ekonomi Indonesia akibat tekanan pandemi Covid-19 terus kembali pulih. 

Namun, pihaknya tak menampik terdapat beberapa pengembang besar menengah atas yang telah menaikkan harga rumah residensial sebesar 2 persen hingga 3 persen. Pengembang yang telah melakukan penyesuasian harga baru itu adalah pengembang yang tidak memanfaatkan stimulus PPN DTP.

“Meskipun pengembang ada yang tak bisa memanfaatkan PPN DTP, dan telah menaikkan harga rumah, rumah yang mereka jual tetap laku. Saya tidak bisa melarang untuk tidak menaikkan harga rumah, kalau mereka meski anggota REI yang tidak memanfaatkan stimulus, produknya laku terjual, dan menaikkan harga produk dan tetap ludes terjual,” tuturnya. 

Menurutnya, harga rumah diprediksi akan mengalami penyesuaian harga baru setelah stimulus PPN DTP ini usai diberikan. Terlebih apabila perang antara Rusia dan Ukraina ini terus berlangsung sehingga semakin melonjaknya harga bahan bangunan yang berdampak pada biaya produksi rumah. 

Kendati demikian, kenaikan harga yang diperkirakan terjadi pada kuartal IV tahun ini tak begitu besar yakni hanya berada dikisaran 5 persen. Angka itu terbilang kecil apabila dibandingkan dengan harga rumah global yang telah mengalami kenaikan sejak tahun lalu. Seperti di Amerika, hunian residensial mengalami kenaikan harga sekitar 30 persen hingga 100 persen. Lalu harga rumah di Singapura juga mengalami kenaikan sebesar 10 persen dan rumah di Australia yang juga mengalami kenaikan harga 20 persen hingga 30 persen.

“Di Indonesia ini harga rumah rerata belum pada naik. Saya berusaha mempertahankan agar mereka jangan naik dahulu agar dampak PPN DTP ini dapat terjadi. Multiplier effect itu biar jadi dulu, jadi supaya industri turunan dari properti ini jalan sehingga karyawan pun tetap ada penghasilan,” ucap Totok. 

Kenaikan harga komponen konstruksi ini sebenarnya masih bisa diakali oleh pengusaha konstruksi dan pengembang yang memiliki cashflow lancar dan cepat. Persoalannya di tengah kondisi pandemi ini cashflow pengembang juga terhambat. Para pengembang pun saat ini tengah melakukan efisiensi biaya terutama terkait promosi agar dapat menahan kenaikan harga properti yang tinggi. 

Direktur PT Ciputra Development Tbk Harun Hajadi menuturkan perusahaan masih akan menahan harga rumah hingga pertengahan tahun ini meski kenaikan harga bahan bangunan turut berdampak pada biaya konstruksi yang meningkat. Adapun dengan kenaikan harga bahan bangunan saat ini diproyeksikan berdampak pada meningkatnya biaya konstruksi mencapai 8 persen hingga 10 persen. 

“Kami masih usahakan menekan harga rumah agar tak naik di tengah pandemi, supaya banyak orang membeli rumah produk Ciputra tanpa harus terkena kenaikan,” katanya.

Memang tak dipungkiri, emiten berkode CTRA ini akan mempertimbangkan dan mengkaji penyesuaian harga rumah komersial setelah pertengahan tahun 2022. Hal ini karena menahan harga rumah sangat sulit dilakukan di tengah tekanan kenaikan harga bahan bangunan. 

Pertimbangan untuk menaikkan harga rumah di tahun ini juga tengah dilakukan oleh PT Metropolitan Kentjana Tbk (MKPI). Vice President Director MKPI Jeffri Sandra Tanudjaja mengatakan pertimbangan tersebut dilakukan karena masih terjadinya kenaikan bahan bangunan di pasar global karena sebagai besar bahan bangunan berasal dari luar. 

“Kami masih mempertimbangkan apakah harga rumah akan dinaikkan. Tapi kami optimistis  permintaan properti akan meningkat pada tahun ini seiring kondisi ekonomi dan terus mengalami pemulihan,” terangnya. 

Direktur Keuangan PT Metropolitan Land Tbk Olivia Surodjo berpendapat saat ini kenaikan harga produk hunian perusahaan hanya sesuai dengan kenaikan PPN yang sebesar 1 persen saja. Pasalnya di kuartal I tahun ini, masih merebaknya Covid-19 varian omicron sehingga perusahaan pun menahan kenaikan harga.

Namun demikian, emiten berkode MTLA ini akan mengkaji kembali rencana kenaikan harga di semester II mendatang. Penyesuaian harga tersebut nantinya juga mengakomodir apabila Bank Indonesia juga menaikkan suku bunga acuannya. 

 “Kami akan kaji lagi untuk kenaikan harga di semester II,” ujarnya. 

Sales Associate Director of SwanCity Henry Wesly mengungkapkan sampai sejauh ini SwanCity masih belum ada keputusan untuk menaikkan harga rumah. Namun demikian, pihaknya tak menampik terdapat potensi kenaikan harga properti setiap tahunnya. 

“Setiap tahunnya memang ada potensi kenaikan harga properti, termasuk harga rumah di kawasan SwanCity, Cikupa, Tangerang, dan hal ini terjadi karena banyak alasan termasuk juga karena adanya kenaikan harga bahan baku, BI Rate, dan faktor lainnya. Untuk saat ini kami belum bisa memberikan informasi mengenai jumlah kenaikannya,” katanya. 

Dia menyoroti adanya kenaikan PPN yang saat ini menjadi 11 persen berdampak signifikan pada kenaikan harga bahan bangunan dan harga dasar rumah. Namun demikian, saat ini minat beli masyarakat masih menunjukkan trend positif. 

Di samping itu, kenaikan PPN masih belum mempengaruhi kenaikan harga rumah dan memberi dampak signifikan terhadap permintaan rumah tapak karena pemerintah masih melanjutkan insentif PPN DTP sebesar 50 persen hingga September 2022. Selain dari PPN DTP, SwanCity juga masih melanjutkan program Aku Mampu hingga September 2022 untuk membantu konsumen membeli rumah impian mereka.

“Pada tahun 2021, SwanCity mencatatkan peningkatan penjualan kotor sebesar 29 persen secara tahunan, di mana komplek perumahan Lavon 2 dengan konsep double decker menyumbang kontribusi terbesar sebanyak 40 persen. Melihat pencapaian di tahun 2021 dan instentif pemerintah yang masih berlangsung, SwanCity optimis penjualan Lavon 1, Lavon 2 dan Daisan akan semakin membaik dan menargetkan pencapaian marketing sales di tahun 2022 ini, 25 persen lebih besar dari 2021,” ucap Henry. 

Direktur Paramount Land M. Nawawi berpendapat dengan kenaikan PPN menjadi 11 persen dan kenaikan bahan bangunan pastinya akan diikuti dengan kenaikan harga produk properti terutama rumah tapak. “Di awal tahun sudah terlihat koreksi kenaikan harga produk properti margin sudah disematkan secara realistis,” tuturnya. 

Direktur Utama PT Summarecon Agung Tbk Adrianto Pitoyo Adhi menuturkan saat ini kenaikan harga jual bangunan masih sebatas inflasi. Namun demikian, adanya kenaikan PPN sebesar 1 persen ini tak terlalu berdampak pada harga properti. Selain itu, prospek rumah tapak saat ini masih cukup bagus. 

“PPN 11% ketika kami membeli bahan baku atau material masih bisa kami gunakan atau kreditkan kembali,” ujarnya. 

Sementara itu, Direktur Avia Avian Robert Tanoko mengatakan kenaikan harga bahan bangunan ini memberikan dampak bagi perusahaan sehingga strategi agar bahan properti tidak ikut naik yakni menggunakan bahan bangunan lokal yang berkualitas.
  
 “Sejak 2021 ada Covid-19 sudah berat dan saat ini ditambah perang rusia-ukraina ini akan menambah berat dari harga bahan bangunan terutama impor. Jadi kami bisa memberikan produk-produk lokal dengan harga terjangkau,” katanya.  
  
Namun, Robert mengakui tak semua bahan bangunan bisa menggunakan bahan lokal. Pasalnya, bahan impor tetap diperlukan dengan jenis yang variatif terutama untuk pigmen. Seperti, pigmen warna putih, titanium, kuning, merah dan biru yang ini semua masih banyak dominasi dari produk impor.

Dihubungi terpisah, CEO Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda berpendapat memang biaya konstruksi berpotensi mengalami kenaikan sebesar 5 persen hingga 7 persen akibat harga bahan bangunan yang melonjak. Namun memang sebagian pengembang belum mau untuk menaikkan harga jualnya. Para pengembang ini dinilai masih berhati-hati. 

Kendati demikian, diproyeksikan pada semester II mendatang akan ada kenaikan harga properti residensial minimal sebesar 5 persen. Kenaikan harga rumah diproyeksikan akan berdampak pada permintaan properti nantinya. Namun dampak itu tak begitu besar karena daya beli berangsur membaik. 

“Semester II sepertinya akan ada kenaikan minimal 5 persen,” kata Ali. 

Lain halnya dengan Direktur Eksekutif Pusat Studi Properti Indonesia (PSPI) Panangian Simanungkalit yang memprediksi kenaikan harga rumah komersial tidak akan terjadi pada tahun ini karena permintaan pasar yang belum pulih meski pandemi Covid-19 telah melandai. Para pengembang masih menahan harga rumah agar tak naik. Pengembang mengemas berbagai macam promosi untuk mendongkrak angka penjualan.
  
“Harga rumah komersial tidak akan naik tahun ini. Setelah pandemi Covid-19, permintaan rumah masih rendah alias belum pulih. Pengembang rumah komersial banyak menawarkan berbagai promosi misalkan cara pembayaran ringan, potongan harga yang menarik, dan juga penawaran suku bunga rendah melalui kerja sama dengan pihak perbankan,” tuturnya. (Faustina Prima)

Editor: Yanita Petriella
company-logo

Lanjutkan Membaca

Tertekan Biaya Konstruksi, Akankah Harga Rumah Komersial Naik?

Dengan paket langganan dibawah ini :

Tidak memerlukan komitmen. Batalkan kapan saja.

Penawaran terbatas. Ini adalah penawaran untuk Langganan Akses Digital Dasar. Metode pembayaran Anda secara otomatis akan ditagih di muka setiap empat minggu. Anda akan dikenai tarif penawaran perkenalan setiap empat minggu untuk periode perkenalan selama satu tahun, dan setelah itu akan dikenakan tarif standar setiap empat minggu hingga Anda membatalkan. Semua langganan diperpanjang secara otomatis. Anda bisa membatalkannya kapan saja. Pembatalan mulai berlaku pada awal siklus penagihan Anda berikutnya. Langganan Akses Digital Dasar tidak termasuk edisi. Pembatasan dan pajak lain mungkin berlaku. Penawaran dan harga dapat berubah tanpa pemberitahuan.

Copyright © Bisnis Indonesia Butuh Bantuan ?FAQ