Free

Tip untuk Penumpang Pesawat yang Mengalami Turbulensi

Turbulensi terjadi karena pertemuan udara dengan temperatur, tekanan, atau kecepatan yang berbeda yang menyebabkan benturan pola angin.

Leo Dwi Jatmiko

27 Mei 2024 - 18.39
A-
A+
Tip untuk Penumpang Pesawat yang Mengalami Turbulensi

Ilustrasi maskapai penerbangan

Bisnis, JAKARTA – Industri aviasi sedang dihebohkan oleh dua maskapai penerbangan internasional yang mengalami turbulensi dalam sepekan. Insiden tersebut bahkan menelan korban jiwa.

Yang pertama adalah salah satu maskapai terbaik di dunia, yaitu Singapore Airlines dalam perjalanan dari Heathrow, Inggris. Setelah itu, Qatar Airways dengan rute Doha-Irlandia

Lantas apa Itu Turbulensi? mengapa dapat terjadi? 

Secara umum, fenomena ini terjadi karena pertemuan udara dengan temperatur, tekanan, atau kecepatan yang berbeda, yang menyebabkan benturan pola angin. 

Baca juga: Mengenal ‘Predatory Pricing’ dan Bahayanya Bagi Industri

Walaupun beberapa kondisi cuaca dan geografis, seperti badai petir, deretan pegunungan, dan kemunculan jenis awan tertentu, dapat menjadi indikator adanya turbulensi di masa depan. Ada juga "turbulensi udara jernih" yang dapat mengejutkan pilot pesawat dan terjadi tanpa tanda-tanda sebelumnya.

Menurut akademisi penerbangan dan pilot komersial Guy Gratton, sebagaimana dikutip dari bisnis.com yang melansir Reuters, turbulensi jenis ini terjadi di sekitar aliran jet, sebuah "sungai" udara yang mengalir deras dan biasanya ditemukan pada ketinggian 40.000-60.000 kaki.

Direktur Operasi Penerbangan dan Teknis di badan maskapai penerbangan global Iata Stuart Fox mengatakan prakiraan cuaca yang menunjukkan cuaca atau aliran udara di atas pegunungan dapat menunjukkan kemungkinan lebih tinggi terjadinya turbulensi udara jernih. 

Dalam penerbangan internasional, kematian yang disebabkan langsung oleh turbulensi sangat jarang terjadi. Biasanya, pilot dapat memberikan peringatan dini tentang sebagian besar jenis turbulensi dan memastikan semua penumpang dalam memakai sabuk pengaman.

Menurut Iata, korban terakhir yang dikonfirmasi akibat turbulensi parah dalam penerbangan komersial terjadi pada 1997, yaitu penerbangan United Airlines dari Tokyo ke Honolulu.



Namun, pada pesawat pribadi atau jet bisnis yang lebih kecil, cedera serius atau kematian lebih sering terjadi. Dewan Keselamatan Transportasi Nasional AS melaporkan lebih dari 100 orang cedera dan puluhan kematian dalam satu dekade pada penerbangan domestik, meskipun kematian ini sebagian besar terjadi ketika turbulensi menyebabkan pesawat jatuh.

Pada pesawat yang lebih besar, turbulensi berisiko menyebabkan cedera kepala atau cedera lainnya pada penumpang yang tidak terikat dan terlempar dalam kabin, atau tertimpa puing-puing yang beterbangan. Kru pesawat berada pada risiko tertentu dan memiliki jumlah cedera terbesar.

Apa yang Harus Dilakukan Saat Terjadi Turbulensi 

Seorang Profesional Keselamatan, Bernard Okolo, mengatakan penumpang harus lebih fokus pada fakta bahwa pesawat dibuat untuk tahan terhadap turbulensi.

Baca juga: Mengenal Turbulensi Pesawat, Musibah Singapore Airlines Maskapai Terbaik Dunia

Cara paling efektif untuk mencegah cedera saat turbulensi adalah dengan tetap mengencangkan sabuk pengaman. Oleh karena itu, penting bagi penumpang untuk menyadari hal ini dan diberitahu untuk selalu mengenakan sabuk pengaman.

Mengenakan sabuk pengaman akan meminimalkan dampak hal ini dan memastikan bahwa Anda tidak melukai diri sendiri atau orang di sekitar.

Hal efektif lainnya adalah melindungi kepala dengan tangan untuk mencegah isi bagasi yang mungkin terhempas di kabin pesawat. (Muhammad Diva Farel Ramadhan)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Jaffry Prabu Prakoso

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.