Tips Kelola FOMO di Tengah Halving dan Beragam Isu Bitcoin

Fluktuasi dan informasi yang cepat menyebar mengenai aset kripto termasuk Bitcoin tak jarang membuat investor memiliki rasa takut ketinggalan tren. Hal ini berbahaya, apalagi investor baru bisa terkecoh beragam sentimen, penting untuk dapat mengelola rasa takut ini.

Tim Redaksi

21 Apr 2024 - 21.20
A-
A+
Tips Kelola FOMO di Tengah Halving dan Beragam Isu Bitcoin

Ilustrasi bitcoin./Istimewa

Bisnis, JAKARTA - Masifnya informasi mengenai Bitcoin dan mata uang kripto membuat investor baru banyak menggandrungi aset ini. Beragam kabar tersebut perlu dipastikan kebenarannya sehingga tidak terjadi perilaku ikut-ikutan karena takut ketinggalan tren atau fear of missing out (FOMO).

Dalam investasi kripto, "Fear Of Missing Out" (FOMO) menjadi momok yang kerap menghantui para investor, khususnya pemula. FOMO, ketakutan akan ketinggalan kesempatan mendapatkan keuntungan besar dari aset kripto yang sedang naik daun, dapat mendorong keputusan investasi yang tergesa-gesa dan tidak berdasarkan analisis mendalam.

Fenomena ini sering kali dipicu oleh kisah-kisah aset kripto yang meroket secara drastis, menimbulkan rasa takut akan kehilangan kesempatan. Seperti kasus Squid game coin yang mengalami kenaikan harga fantastis sebelum akhirnya terungkap sebagai skema penipuan. Kondisi ini menunjukkan pentingnya memahami bagaimana mengelola emosi dan menghindari jebakan FOMO. Berikut adalah tips untuk menghindari FOMO pada investasi kripto menurut Pintu Academy yang dikutip Minggu (21/4/2024). 

Mengatasi FOMO memerlukan disiplin dan strategi investasi yang matang. Salah satu langkah efektif adalah dengan menetapkan tujuan dan target investasi yang realistis. Hal ini termasuk menentukan aset kripto untuk investasi jangka panjang dan menimbang potensi aset lain untuk pembelian jangka pendek berdasarkan analisis fundamental dan teknikal, bukan sekedar ikut-ikutan tren.

Di era informasi sangat penting untuk mendapatkan informasi dari sumber yang kredibel dan netral, yang tidak hanya fokus pada proyeksi harga semata, tapi juga memberikan analisis komprehensif termasuk risiko yang ada.

Gunakan strategi Dollar-Cost Averaging (DCA) untuk menghilangkan pengaruh emosional dalam investasi. Dengan investasi secara berkala tanpa mempedulikan fluktuasi harga pasar, investor dapat mengurangi risiko kerugian akibat timing pasar yang tidak tepat. 

Selain itu, diversifikasi portofolio menjadi prinsip penting dalam mengurangi risiko. Dengan menyebarkan investasi pada berbagai aset, kerugian pada satu aset dapat diminimalisir dengan kenaikan pada aset lain, menjaga stabilitas portofolio secara keseluruhan.

Sudah Selesaikan Halving

Mata uang kripto terbesar di dunia, Bitcoin, telah menyelesaikan halving, yakni fenomena yang terjadi kira-kira setiap empat tahun sekali. 

Kabar tersebut diungkapkan oleh CoinGecko, sebuah perusahaan data dan analisis mata uang kripto. Bitcoin cukup stabil segera setelahnya, dengan menurun menjadi 0,47% menjadi US$63.747. 

Adapun, berdasarkan pantauan Bisnis lewat data Coin Market Cap pada pukul 9.21 WIB, harga Bitcoin kini berada di level US$63.595,33.

Peristiwa halving sendiri merupakan hal yang sangat dinantikan oleh para penggemar Bitcoin. Halving merupakan perubahan teknologi dasar pada mata uang kripto, yang dirancang untuk memangkas laju penciptaan Bitcoin baru. 

Baca Juga :

 

Kepala penelitian global di manajer aset WisdomTree Chris Gannatti juga mengatakan bahwa peristiwa halving sebagai salah satu peristiwa terbesar dalam kripto di tahun ini. 

Beberapa penggemar kripto juga menunjuk pada reli harga yang terjadi setelahnya, sebagai tanda bahwa halving bitcoin berikutnya dapat meningkatkan harga. Namun, nyatanya banyak analis yang berpandangan skeptis. 

“Kami tidak memperkirakan kenaikan harga bitcoin pasca halving karena sudah diperkirakan sebelumnya,” tulis analis JP Morgan minggu ini.

Menurutnya, harga bitcoin akan mengalami penurunan setelah halving dikarenakan sudah jenuh beli dan pendanaan modal ventura untuk industri kripto telah “tenang” pada tahun ini. 

Seorang analis kripto di S&P Global, Andrew O'Neill, mengatakan bahwa dirinya merasa cukup skeptis terhadap pelajaran yang dapat diambil dalam hal predfiksi harga dari halving sebelumnya. 

Baca Juga :

 

“Itu hanya satu faktor dari sekian banyak faktor yang dapat mendorong harga,” jelasnya. 

Sebagai catatan, Bitcoin telah berjuang untuk mendapatkan arah sejak rekor tertingginya pada Maret 2024 yang menyentuh di level US$73.803,25.

Namun, mata uang kripto tersebut telah jatuh dalam dua minggu terakhir karena adanya ketegangan geopolitik dan ekspektasi bahwa bank sentral akan mempertahankan suku bunga lebih tunggu untuk jangka waktu yang lebih lama.(Jessica Gabriela Soehandoko, Rinaldi Azka)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Rinaldi Azka
Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.