Top 5 News: Gasifikasi Batu Bara Hingga Cuaca Ekstrem Asia

Sempat adem ayem setelah ditinggal oleh Air Products & Chemical Inc (APCI) sebagai investor potensial dalam proyek gasifikasi batu bara, pemerintah terus berupaya memacu penghiliran komoditas emas hitam itu.

Nindya Aldila

2 Okt 2023 - 09.59
A-
A+
Top 5 News: Gasifikasi Batu Bara Hingga Cuaca Ekstrem Asia

Aktivitas penambangan batu bara di Tambang Air Laya, Tanjung Enim, Sumatra Selatan, Minggu (3/3/2019) (Bisnis/Felix Jody Kinarwan)

Bisnis, JAKARTA - Sempat adem ayem setelah ditinggal oleh Air Products & Chemical Inc (APCI) sebagai investor potensial dalam proyek gasifikasi batu bara, pemerintah terus berupaya memacu penghiliran komoditas emas hitam itu.

Demi memuluskan jalannya penghiliran batu bara yang diharapkan dapat memberikan nilai tambah sekaligus 'memperpanjang eksistensi' komoditas energi fosil itu di tengah dorongan penggunaan energi baru terbarukan (EBT), pemerintah menyediakan tiga insentif bagi perusahaan yang berkomitmen untuk melakukan penghiliran batu bara, khususnya gasifikasi.

Selain soal gasifikasi batu bara, terdapat informasi komprehensif lainnya yang mnjadi pilihan redaksi BisnisIndonsia.id pada Senin (2/10/2023). Di antaranya adalah:


1. Guyuran Insentif untuk Memuluskan Gasifikasi Batu Bara Jadi DME

Ketiga insentif tersebut, yakni berupa pengurangan tarif royalti batu bara khusus untuk gasifikasi batu bara hingga 0 persen, pengaturan harga batu bara khusus untuk meningkatkan nilai tambah (gasifikasi) yang dilaksanakan di mulut tambang, serta penetapan masa berlaku Izin Usaha Pertambangan (IUP) batu bara yang dikhususkan pada batu bara untuk gasifikasi diberikan sesuai dengan umur ekonomis industri gasifikasi batu bara.

Sebelumnya, penyebab mundurnya Air Products dari proyek gasifikasi batu bara menjadi produk gas atau dimethyl ether (DME) di Indonesia diketahui karena paket insentif dan subsidi EBT yang ditawarkan pemerintah dianggap kurang menarik. Perusahaan itu lebih memilih untuk mengembangkan energi hijau di negara asalnya, yakni Amerika Serikat (AS).

Dengan adanya tiga insentif dari pemerintah tersebut, Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) menilai insentif tersebut mampu mendorong percepatan penghiliran batu bara di Tanah Air menjadi lebih optimal.


2. Ramalan Inflasi September 2023 Kian Melandai

Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengumumkan data inflasi September 2023 pada Senin (2/10/2023).

Konsensus ekonom dari data Bloomberg secara rata-rata memperkirakan Indeks Harga Konsumen (IHK) pada September 2023 akan mencatatkan inflasi sebesar 0,08 persen secara bulanan (month-to-month/mtm).

Secara bulanan, estimasi tertinggi inflasi September 2023 yaitu sebesar 0,36 persen mtm, sementara estimasi terendah yaitu terjadi deflasi -10 persen mtm.


3. Cuaca Panas Ekstrem Mengintai Asia

Sejumlah negara penghasil produk pertanian dan ternak tersengat oleh panasnya cuaca yang menyelimuti hampir seluruh kawasan di Asia. Hal ini menjadi alarm bagi prospek pertumbuhan ekonomi. 

Dikutip Channel News Asia pada Minggu (1/10/2023), suhu di Provinsi Xinjiang, barat laut China kini telah menyentuh 52,2 derajat celcius. Sementara beberapa provinsi seperti di Sichuan juga telah menyaksikan kekeringan dan kebakaran hutan. 

Para petani yang menanam produk pertanian lebih dari sekitar 20 hari lebih awal agar dapat menghindari musim panas, berhasil menghindari kerugian. 


4. Menunggu Kongkrit Skema Pembenahan Tekstil

Tantangan industri tekstil dan produk tekstil makin berat saja. Ketika belum reda masalah banjir produk impor ilegal, para pengusaha kini dibuat was-was akan serbuan barang ekspor dari negara maju.

Asosiasi Produsen Serat dan benang Filament Indonesia (APSyFI) mengungkapkan terdapat 28.480 kontainer tekstil dan produk tekstil (TPT) ilegal masuk ke Indonesia setiap tahun, membuat industri dalam negeri tertekan.  

Ketua Umum APSyFI Redma Wirawasta mengatakan angka impor ilegal ini terus naik setiap tahun. Hal ini terlihat dari perbandingan data Badan Pusat Statistik (BPS) nasional terkait impor TPT dengan data ekspor China.


5. Ekonomi Dunia Melambat, Pasar Domestik Topang Ekspansi Industri

Sektor industri masih melanjutkan ekspansi di tengah perlambatan laju perekonomian dunia. Permintaan di pasar domestik menjadi penopangnya. Sinyal laju ekspansi sektor manufaktur salah satunya ditunjukkan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) September 2023 di level 52,51. Meski melambat, angka tersebut masih menunjukkan ekspansi. IKI Agustus 2023 berada di level 53,22.

“Indeks Kepercayaan Industri (IKI) September 2023 mencapai 52,51, tetap ekspansi meskipun melambat 0,71 poin dibandingkan Agustus 2023,” kata Juru Bicara Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Febri Hendri Antoni Arif, Jumat (29/9/2023).

Penurunan nilai IKI ini karena adanya peningkatan persediaan produk pada hampir seluruh subsektor manufaktur. Kondisi tersebut menunjukkan produksi pada September ini belum banyak terserap di pasar, baik ekspor maupun domestik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Nindya Aldila

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.