Free

Top 5 News: IPO BLES dan GOLF hingga Perebutan Dana ke Bank Negara

Dua nama besar di balik IPO BLES dan GOLF hingga DPR wanti-wanti dampak perebutan dana ke bank negara menjadi berita pilihan editor BisnisIndonesia.id yang terangkum dalam Top 5 News edisi Selasa (9/7/2024).

Tim Redaksi

9 Jul 2024 - 07.49
A-
A+
Top 5 News: IPO BLES dan GOLF hingga Perebutan Dana ke Bank Negara

Ilustrasi Top 5 Bisnisindonesia.id

Bisnis, JAKARTA — Bursa Efek Indonesia (BEI) ketambahan tiga emiten yang mencatatkan diri sebagai perusahaan terbuka. Dua emiten di antaranya terselip nama besar sebagai pemilik.

Dua nama besar di balik IPO BLES dan GOLF hingga DPR wanti-wanti dampak perebutan dana ke bank negara menjadi berita pilihan editor BisnisIndonesia.id yang terangkum dalam Top 5 News edisi Selasa (9/7/2024). Berikut selengkapnya:

  1. 1. Dua Nama Besar di Balik IPO BLES dan GOLF

Bursa Efek Indonesia (BEI) ketambahan tiga emiten yang mencatatkan diri sebagai perusahaan terbuka. Dua emiten di antaranya terselip nama besar sebagai pemilik.

Mereka menginjakkan lantai di Bursa secara perdana dengan kinerja yang apik. Hingga penutupan pasar, semuanya mencatatkan auto rejection atas (ARA).

PT Superior Prima Sukses Tbk. misalnya. Dibuka dengan ARA yang naik Rp63 menjadi Rp246 per saham atau melesat 34,40 persen. Saham emiten dengan kode BLES ini tak bergeming hingga penutupan Bursa. 

Sebanyak 92,6 juta saham ditransaksikan dengan nilai mencapai Rp22,7 miliar. Saham BLES memiliki kapitalisasi pasar sebesar Rp2,18 triliun. 

Produsen bata ringan AAC dengan brand BLESSCON dan SUPERIORE BLOCK ini melepas sejumlah 1,31 miliar saham. Angka tersebut setara dengan 15,5% dari modal yang ditempatkan perusahaan kepada masyarakat.

IPO BLES mendapatkan respons dengan terjadinya kelebihan permintaan (oversubscribed) yang tercatat sebanyak 80,15 kali. Jumlah penanam modalnya lebih dari 37.000 investor, baik itu perorangan, institusi, nasional, maupun asing.

Dengan jumlah saham dan harga yang ditawarkan setelah disesuaikan permintaan, BLES memperoleh dana segar dari penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) sekitar Rp264 miliar.


2. Dana Kelolaan Reksa Dana Masih Seret

Kinerja dana kelolaan reksa dana masih seret pada paruh pertama terdampak oleh pergerakan saham dan surat utang sebagai aset dasarnya.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dana kelolaan industri reksa dana pada akhir Juni 2024 mencapai Rp490 triliun. Nilai tersebut turun 2,96% sepanjang tahun dari Rp504,95 triliun pada akhir Desember 2023.

Adapun, dilihat dari kinerja aset dasarnya, pasar saham yang tecermin pada indeks harga saham gabungan (IHSG), misalnya terkoreksi 2,88%. Sementara itu, pasar surat utang masih tumbuh, terlihat pada Indonesia Composite Bond Index (ICBI) yang tumbuh 1,55% pada periode yang sama.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Inarno Djajadi mengatakan pasar saham masih menguat secara bulan berjalan sebesar 1,33%. Namun, baik saham maupun surat utang masih dibayangi aksi jual investor asing. Pasar saham mengalami aksi jual investor asing sebesar Rp7,73 triliun sepanjang 2024 dan pasar surat utang sebesar Rp33,6 triliun yang berasal dari Surat Berharga Negara (SBN) dan Rp1,71 triliun pada surat utang korporasi.

Senasib, reksa dana turut mencatatkan transaksi pencairan sehingga menggerus dana kelolaan.

“Tercatat, net redemption sebesar Rp7,88 triliun year-to-date pada Juni 2024,” ujarnya dalam jumpa pers Rapat Dewan Komisioner (RDK) Bulanan OJK, Senin (8/7/2024).

 

3. Jalan Hermanto Tanoko Bawa Perusahaan IPO Belum Berakhir

Konglomerat Hermanto Tanoko rampung membawa PT Superior Prima Sukses Tbk. menjadi perusahaan publik dengan mencatatkan diri di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI). 

Aksi Bos Avia Avian itu tidak akan berhenti sampai pada emiten yang mendapat kode BLES. Hermanto mengatakan bahwa akan membawa dua perusahaan lagi untuk melakukan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO). 

Korporasi tersebut sudah masuk dalam pipeline BEI. Jika tidak ada aral melintang, dua perusahaan tersebut akan melantai di Bursa pada tahun ini atau pada kuartal IV/2024.

“[Emiten di sektor] edukasi dan satu lagi bahan bangunan. Yang edukasi sudah make money, sudah untung,” katanya saat ditemui di Gedung BEI usai IPO, Senin (8/7/2024).

Hermanto menjelaskan bahwa tidak akan membiarkan perusahaannya melantai di Bursa apabila masih merugi. Paling tidak, korporasi tersebut akan dilepas sebanyak 15—20% ke publik.

BLES yang mencatatkan saham perdana hari ini langsung melonjak dan menyentuh auto rejection atas (ARA) hingga 34,43% atau terbang 63 poin ke level Rp246.

Sebanyak 92,6 juta saham ditransaksikan dengan nilai mencapai Rp22,7 miliar. Saham BLES memiliki kapitalisasi pasar sebesar Rp2,18 triliun. 

 

4. Iran dan Peluang RI Memperluas Ekspor ke Timur Tengah

Indonesia berpeluang memperbesar pangsa pasar ekspor ke Timur Tengah bila pemerintah menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) pengesahan Indonesia - Iran Preferential Trade Agreement (II-PTA).

II PTA telah ditandatangani oleh para menteri perdagangan kedua negara pada 23 Mei 2023 setelah melalui 7 putaran perundingan yang dimulai sejak November 2010. Setelahnya, Presiden diharapkan menerbitkan Perpres untuk mengesahkan kesepakatan itu.

Menteri Perdagangan (Mendag) Zulkifli Hasan menjelaskan bahwa alasan pengesahan II PTA melalui Perpres ditujukan agar perjanjian dagang itu bisa lebih cepat diimplementasikan sesuai target yaitu pada Januari 2025.

"II PTA diharapkan bisa disahkan lewat Perpres sehingga manfaatnya bisa segera kita peroleh dan dimanfaatkan pelaku usaha," ujar Zulhas dalam rapat kerja bersama Komisi VI DPR-RI, Senin (8/7/2024).

Selain itu, alasan pengesahan II PTA lewat Perpres agar materi yang diatur tidak menimbulkan akibat yang luas. Sebab, PTA cenderung bersifat terbatas pada hal-hal yang disepakati alias tidak seperti perjanjian ekonomi komprehensif (CEPA) yang lebih kompleks.

Setidaknya terdapat tiga kategori kerja sama dagang antarnegara. PTA merupakan perjanjian perdagangan dengan poin-poin terbatas. Umumnya, kesepakatan yang dicapai dalam PTA bertujuan untuk mengurangi tarif pada produk tertentu dari kedua negara yang terlibat. 

Kemudian, kerja sama dalam bentuk Free Trade Agreement (FTA). Metode ini bersifat lebih luas dan memperhatikan semua aspek perdagangan baik berupa barang, jasa serta investasi. 

 

5. DPR Wanti-wanti Dampak Perebutan Dana ke Bank Negara

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mewanti-wanti dampak aksi penggalangan dana oleh Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia melalui instrumen di pasar keuangan terhadap likuiditas bank BUMN di tengah tingginya biaya dana. 

Anggota Komisi VI Jon Erizal mengatakan saat ini likuiditas di pasar memang sedang ketat seiring dengan tren suku bunga tinggi The Fed. Perbankan harus meraup pendanaan salah satunya dengan menerbitkan obligasi atau bond, di samping meraup simpanan nasabah.

Namun, di sisi lain pemerintah menerbitkan surat berharga negara (SBN). BI pun menerbitkan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menarik aliran dana asing serta stabilisasi nilai tukar rupiah. 

"Jadi, Himbara ini bersaing dengan negara juga, negara jual bond, surat utang sendiri. Kemudian, bank-bank ini disuruh cari dana sendiri," katanya dalam rapat dengar pendapat Komisi VI DPR RI pada Senin (8/7/2024).

Adapun, yield yang ditawarkan oleh SBN, menurutnya, lebih tinggi dibandingkan obligasi yang ditawarkan perbankan. Apalagi, menurutnya, The Fed diproyeksikan tidak akan menurunkan suku bunga acuannya pada tahun ini. Hal tersebut membawa tekanan likuiditas bagi perbankan. 

Tercatat, BI menawarkan kupon 7,3% hingga 7,5% untuk instrumen bertenor mulai dari 6 bulan hingga 7,5%. Sementara itu, BI mencatat imbal hasil SBN tenor 2 dan 10 tahun per 19 Juni 2024 tercatat sebesar 6,70% dan 7,13% relatif meningkat, khususnya pada tenor 10 tahun, sebesar 22 basis poin dibandingkan dengan akhir Mei 2024. Di sisi lain, suku bunga deposito 1 bulan dan suku bunga kredit pada Mei 2024 tercatat masing-masing sebesar 4,61% dan 9,26%, atau stabil dibandingkan dengan perkembangan bulan sebelumnya.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Yanita Petriella

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.