Top 5 News: Kebijakan Bunga Bank Sentral hingga Pacu Lifting Migas

Artikel tentang upaya pemerintah berkelit dari konflik Timur Tengah menjadi salah satu berita pilihan editor BisnisIndonesia.id.

Tim Redaksi

24 Apr 2024 - 07.30
A-
A+
Top 5 News: Kebijakan Bunga Bank Sentral hingga Pacu Lifting Migas

Top 5 News Bisnisindonesia.id

Bisnis, JAKARTA – Sinyal penundaan pemangkasan suku bunga dari bank sentral Amerika Serikat dan kejatuhan rupiah bakal menciptakan dilema bagi Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas mata uang. 

Artikel tentang upaya pemerintah berkelit dari konflik Timur Tengah menjadi salah satu berita pilihan editor BisnisIndonesia.id. Selain berita tersebut, sejumlah berita menarik lainnya turut tersaji dari meja redaksi BisnisIndonesia.id.

Berikut ini sorotan utama Bisnisindonesia.id, Rabu (24/4/2024):

1. Menanti Jurus Bank Sentral Tangkal Pelemahan Rupiah

Ekonom melihat adanya isyarat bahwa Bank Indonesia (BI) perlu mempertahankan suku bunga pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang dilaksanakan pada Rabu (24/4/2024) karena penguatan dolar dan inflasi, memperkuat suku bunga higher for longer.  

Dalam RDG BI bulan lalu, BI diprediksi belum akan melonggarkan suku bunga kebijakan. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memperkirakan tingkat suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) atau BI-Rate masih akan dipertahankan pada level 6%.

Menurut Josua, BI saat ini masih memiliki amunisi yang cukup kuat untuk menahan pelemahan rupiah lebih lanjut, didukung oleh cadangan devisa yang masih relatif tinggi sehingga BI masih bisa melakukan intervensi di pasar valuta asing.

Josua menjelaskan, pelemahan rupiah beberapa pekan terakhir dikarenakan data-data indikator ekonomi Amerika Serikat (AS) yang masih solid, sehingga ruang pemotongan suku bunga kebijakan Federal Reserve (The Fed) diperkirakan bergeser dari Juni 2024 ke September 2024.

Selain itu, pelemahan rupiah disebabkan oleh faktor musiman, di mana pembayaran dividen dan kupon ke nonresiden dan pembayaran pokok utang luar negeri akan meningkat dan mencapai puncaknya pada kuartal kedua setiap tahun.


2. Opsi Indonesia Bangun Pembangkit Nuklir Tak Sebatas Wacana 

Keinginan pemerintah untuk mendorong pemanfaatan energi nuklir sebagai salah satu sumber pembangkit listrik di Tanah Air rupanya tidak lagi sebatas wacana. Pemerintah kian yakin opsi penggunaan nuklir dapat mewujudkan target netral karbon (net zero emission/NZE) Indonesia pada 2060 bahkan lebih cepat dari itu.

Kendati sempat timbul tenggelam karena persoalan keyakinan terhadap keamanan dan keandalan dari pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN), pemerintah nyatanya terus berupaya mempercepat komersialisasi pembangkit nuklir skala kecil.

Setidaknya, pada 2032 mendatang operasi komersial PLTN sudah masuk ke dalam jaringan kelistrikan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero). Saat itu, kapasitas operasi komersial dari PLTN terpasang diharapkan sudah mencapai 1 gigawatt (GW) hingga 2 GW.

PLN sendiri melalui subholding pembangkit, PT PLN Nusantara Power, bahkan telah menjajaki kerja sama pembangunan PLTN dengan sejumlah negara, termasuk dengan Korea Selatan, Rusia, dan Amerika Serikat.

Direktur Management Human Capital dan Administrasi PLN Nusantara Power Karyawan Aji mengungkapkan bahwa opsi penggunaan nuklir sebagai pembangkit listrik dapat mempercepat pencapaian target Indonesia untuk NZE. 

Selain merupakan energi terbarukan, nuklir juga tidak memiliki beban dasar (baseload) seperti halnya pembangkit listrik berbasis energi baru terbarukan (EBT) lainnya. Dengan kata lain, imbuhnya, jika Indonesia berkeinginan mempercepat capaian target NZE, penggunaan nuklir merupakan opsi yang paling tepat. 

Namun, jika memang tidak terburu-buru, Indonesia masih bisa menggantungkan upaya transisi energi hijau pada sumber EBT lain seperti air (PLTA), surya (PLTS), atau panas bumi (PLTP), dan lainnya.


3. Menakar Dampak Pelemahan Rupiah pada Ketahanan Bank

Pelemahan rupiah yang terus berlanjut tahun ini membangkitkan kekhawatiran terhadap ketahanan perekonomian nasional, termasuk sistem perbankan nasional yang sangat rentan terhadap gejolak nilai tukar mata uang global.

Mata uang rupiah terlihat cenderung terus melemah tahun ini, bahkan kini sudah menembus level psikologis Rp16.000 per dolar Amerika Serikat. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp16.220 hari ini, Selasa (23/4/2024) pukul 14:55 WIB.

Rupiah terlihat melemah tajam dan menembus Rp16.000 sejak pembukaan perdagangan usai libur Lebaran pekan lalu. Jika dibandingkan dengan posisi rupiah pada akhir 2023 lalu yang di level Rp15.399 per dolar AS, maka mata uang garuda tersebut sudah melemah sebesar 5,33% sepanjang tahun berjalan 2024 atau secara year-to-date (YtD).

Rupiah kembali tembus level Rp16.000 setelah terakhir kali terjadi pada 2020. Jika ditarik mundur, nilai tukar rupiah terhadap dolar memang sempat menembus Rp16.000 pada 3 April 2020. Kala itu nilai tukar mata uang Indonesia menembus Rp16.300 per dolar AS.

Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Trioksa Siahaan, mengatakan bahwa pelemahan rupiah pada dasarnya memberi sentimen negatif terhadap industri perbankan.

Melemahnya rupiah akan membuat biaya barang semakin mahal dan akan mendorong inflasi serta dapat berdampak pada kebijakan bank sentral untuk menaikkan suku bunga.

Bagi bank, pelemahan rupiah barang tentu akan membawa ancaman peningkatan rasio kredit bermasalah (nonperforming loan/NPL) terutama portofolio kredit valuta asing (valas). Kondisi tersebut juga akan menggerus laba.


4. Mengungkap Alasan Gedung Ramah Lingkungan Lebih Diminati

Upaya dunia usaha untuk mewujudkan Net Zero Carbon (NZC) mendorong strategi dekarbonisasi portofolio yang ambisius bagi para pengguna bangunan di Asia Pasifik.  

Hal ini akan menciptakan kesenjangan antara pasokan dan permintaan untuk bangunan berkelanjutan di kawasan tersebut. Kesenjangan ini akan mendorong persaingan ketat di antara penghuni yang mencari ruang kantor rendah karbon dalam beberapa tahun mendatang hingga 2030.

Head of Environmental, Social, and Governance (ESG) Research JLL Asia Pasifik Kamya Miglani mengatakan sebanyak 87% dari pengguna bangunan yang disurvei di Asia Pasifik menginginkan portofolio yang 100% bersertifikasi hijau pada 2030.

Sentimen ini terutama terlihat di sejumlah negara seperti India, Malaysia, dan Thailand, dengan lebih dari 95% penghuni menargetkan portofolio yang sepenuhnya bersertifikasi hijau.

Menurutnya, saat ini menyewa perkantoran di bangunan bersertifikat hijau bukan lagi sebuah hal yang berbeda, tetapi merupakan kriteria minimum bagi sebagian besar penyewa di Asia Pasifik. 

 

5. Langkah Agresif Pemerintah Memacu Lifting Migas, Proyek MEDC Ditagih

Tren kinerja produksi siap jual atau lifting minyak dan gas bumi (migas) yang terus turun setiap tahunnya memantik pemerintah menjadi lebih agresif lagi mendorong kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) untuk mempercepat pengembangan lapangan yang sudah ditargetkan berproduksi atau onstream pada tahun ini.

Setidaknya, pemerintah melalui Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mengincar 15 proyek migas yang akan berproduksi pada 2024. Harapannya, akan ada tambahan produksi minyak sebesar 41.992 barel minyak per hari (bopd) dan gas sebesar 324 juta standar kaki kubik gas per hari (MMscfd) pada tahun ini dengan berproduksinya 15 proyek hulu migas tersebut.

Selain tambahan produksi migas, total anggaran belanja modal atau capital expenditure (capex) dari ke 15 proyek migas tersebut diproyeksikan sebesar US$560,1 juta.

Adapun, dua dari 15 proyek hulu migas yang ditargekan berproduksi pada tahun ini adalah proyek strategis gas Bronang Field dan minyak Forel Field yang dikelola oleh PT Medco Energi Internasional Tbk. Kedua proyek garapan emiten berkode saham MEDC itu belakangan turut menjadi andalan pemerintah dalam mengerek lifting migas nasional pada paruh kedua tahun ini.

Sebagai gambaran, dua proyek MEDC itu diperkirakan menelan investasi hingga US$265,74 juta atau sekitar Rp4,3 triliun (asumsi kurs Rp16.205 per dolar AS). Proyek Bronang rencananya bakal menambah produksi gas di level 43 MMscfd, sementara Lapangan Forel bakal menambah produksi minyak dalam negeri sekitar 10.000 bopd. 


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Yanita Petriella

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.