Top 5 News: Kinerja Bank Jumbo hingga Inflasi Melandai

Berita terkait kinerja bank jumbo hingga proyeksi inflasi menjadi berita pilihan editor BisnisIndonesia.id. Sejumlah berita menarik lainnya juga turut tersaji dari meja redaksi BisnisIndonesia.id.Berikut intisari dari BisnisIndonesia.id, Kamis (1/2/2024):

Asteria Desi Kartikasari

1 Feb 2024 - 06.57
A-
A+
Top 5 News: Kinerja Bank Jumbo hingga Inflasi Melandai

Ilustrasi Top 5 News/Istimewa

Bisnis, JAKARTA—Bank-bank jumbo kompak mencetak pertumbuhan laba yang tinggi sepanjang 2023 lalu dan mencetak rekor nilai laba terbesar sepanjang sejarah masing-masing bank.

Berita terkait kinerja bank jumbo hingga proyeksi inflasi menjadi berita pilihan editor BisnisIndonesia.id. Sejumlah berita menarik lainnya juga turut tersaji dari meja redaksi BisnisIndonesia.id.Berikut intisari dari BisnisIndonesia.id, Kamis (1/2/2024):

 

1. Kala Kinerja Bank Jumbo Kompak Capai Rekor

Keempat bank terbesar Tanah Air telah menerbitkan laporan kinerja mereka untuk periode akhir tahun 2023. Hasilnya, keempat bank tersebut sukses membukukan pertumbuhan laba yang mengesankan, bahkan hingga mencetak rekor baru.

Adapun, keempat bank jumbo yang tercatat sebagai anggota Kelompok Bank Modal Inti (KBMI) IV tersebut yakni PT Bank Mandiri (Persero) Tbk., PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., PT Bank Central Asia Tbk., dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.

Hari ini, Rabu (31/1/2024), Bank Mandiri dan BRI kompak mengumumkan kinerja keuangan mereka. Sementara itu, BCA dan BNI sudah lebih dahulu melakukannya pekan lalu. Secara umum, masing-masing bank sukses mencetak pertumbuhan laba yang tinggi, menempatkan perolehan laba mereka tahun lalu sebagai capaian tertinggi sepanjang sejarah masing-masing bank.

Kinerja moncer bank-bank jumbo sepanjang 2023 lalu tidak terlepas dari faktor pemulihan bisnis pascapandemi, serta strategi masing-masing bank yang mengutamakan pendekatan ekspansi berbasis ekosistem, baik dari sisi pembiayaan maupun pendanaan.

2.Mimpi Lonjakan Wisatawan AS Saat Promosi Wisata RI Masih Minim

Pemerintah menargetkan peningkatan jumlah kunjungan wisatawan asal Amerika Serikat pada tahun ini di tengah masih minimnya promosi wisata di Tanah Air. 

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno terang-terangan menargetkan sebanyak 406.470 wisatawan mancanegara (wisman) asal Amerika Serikat (AS) berkunjung ke Indonesia di 2024. Target tersebut meningkat 226% dari target 2023 yang tercatat sebesar 124.700 kunjungan. 

Sepanjang Januari - November 2023, volume kunjungan wisman asal Amerika Serikat tercatat sebanyak 358.800 kunjungan. Realisasi ini menempatkan Amerika Serikat pada posisi ketujuh dengan turis mancanegara terbanyak yang datang ke Indonesia.

Tren positif ini, kata Sandi, harus ditindaklanjuti dengan aktivitas promosi yang lebih intensif. Mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta ini menyebut, naiknya target tersebut dapat sekaligus dimanfaatkan sebagai ajang untuk menjaring wisatawan berkualitas. 

“Wisman Amerika Serikat memiliki tingkat pengeluaran yang tinggi serta waktu tinggal yang lebih panjang sehingga berpotensi menghasilkan devisa yang lebih besar,” katanya dalam keterangan tertulis, Selasa (30/1/2024).

3.Deindustrialisasi, BI Cari Celah Suku Bunga Turun di Paruh Kedua

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkapnya pihaknya akan terus memperkuat bauran kebijakan BI sekaligus mencari celah untuk menurunkan BI Rate pada semester II/2024. 

“Kami akan terus memperkuat bauran kebijakan, moneter tetap pro stability sambil melihat celah-celah semester II/2024 apakah ada ruang untuk penurunan suku bunga, menstabilkan kurs,” ungkapnya dalam Peluncuran Laporan Perekonomian Indonesia 2023, Rabu (31/1/2024). 

Perry menyampaikan bahwa langkah BI untuk menurunkan BI Rate akan berjalan beriringan dengan bauran kebijakan moneter. Sekaligus menjalankan makroprudensial, digitalisasi sistem pembayaran, pendalaman pasar, UMKM, hingga hilirisasi. 

Dirinya juga akan terus memastikan kestabilan rupiah sepanjang tahun ini. Di samping itu, likuiditas perbankan juga akan dipastikan lebih dari cukup. 

“Sepanjang perbankan juga mau me-repo-kan SBN yang dimiliki tidak dikekepin, mendorong sektor-sektor prioritas,” jelasnya. 

4.Faktor Utama BYD Impor Mobil Langsung dari China bukan Thailand

Meskipun telah meneken kerja sama pembangunan pabrik di Thailand, BYD memutuskan mengimpor utuh mobil listrik dari China untuk pasar Indonesia. 

Head of Marketing & Communication PT BYD Motor Indonesia Luther T. Panjaitan mengatakan masih perlu dilakukan analisis lebih mendalam untuk melihat penjualan yang dapat diserap oleh pasar Thailand.

Oleh karena itu, produk mobil listrik yang mengaspal di Indonesia saat ini masih berstatus impor utuh atau completely built up (CBU) unit dari China.

“Belum tentu dia [Thailand] bisa supply ke negara tetangga,” tuturnya Selasa (30/1/2024).

Di saat yang sama, merek yang menjadi pesaing Tesla ini juga dipastikan bakal membangun fasilitas manufakturnya di Indonesia sebagai bagian dari komitmen investasi. Hal ini mengikat BYD supaya produk yang dijual tidak semata-mata hanya untuk mengetes pasar.

Melalui Peraturan Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal No.6/2023, para pabrikan diperbolehkan mengimpor mobil listrik secara utuh tanpa dikenakan bea masuk dan PPnBM dengan syarat wajib mulai melakukan produksi komersil paling lambat 1 Januari 2026.

Kemudian para pabrikan juga diminta untuk memenuhi target minimum capaian tingkat komponen dalam negeri (TKDN) paling lambat 31 Desember 2027.

5.Inflasi Januari 2024 Diproyeksi Melandai

 Laju inflasi di dalam negeri diperkirakan sedikit melandai pada Januari 2024, dibandingkan dengan posisi pada akhir 2023.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memperkirakan inflasi pada Januari 2024 mencapai 0,29% secara bulanan (month-to-month/mtm), lebih rendah dari 0,41% mtm pada Desember 2023.

Penurunan tersebut kata Josua terutama disebabkan oleh normalisasi permintaan pasca liburan natal dan tahun baru, juga penurunan inflasi bahan makanan.

“Penurunan inflasi bahan makanan didorong oleh deflasi harga cabai merah dan cabai rawit, seiring dengan panen yang terjadi di beberapa daerah. Sementara harga pangan tertentu, seperti daging ayam ras, bawang merah, dan beras, masih mengalami inflasi,” katanya kepada Bisnis, Rabu (31/1/2024).

Secara tahunan, Josua memperkirakan inflasi pada Januari 2024 mencapai 2,56% (year-on-year/yoy), juga turun tipis dari Desember 2023 sebesar 2,61% yoy.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Asteria Desi Kartikasari

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.