Free

Top 5 News: Kinerja Bank Milik Jepang hingga Gerak BRIS di Tengah Tekanan Ekonomi

Artikel bertajuk Adu Kinerja Bank Milik Jepang di Indonesia pada Kuartal Pertama 2024 menjadi salah satu berita pilihan editor BisnisIndonesia.id. Selain berita tersebut, sejumlah berita menarik lainnya turut tersaji dari meja redaksi BisnisIndonesia.id.

Redaksi

12 Mei 2024 - 07.00
A-
A+
Top 5 News: Kinerja Bank Milik Jepang hingga Gerak BRIS di Tengah Tekanan Ekonomi

Ilustrasi Top 5 Bisnisindonesia.id

Bisnis, JAKARTA – Bank-bank besutan korporasi keuangan Jepang cukup aktif menjalankan aksi akuisisi guna memperkuat bisnis mereka di Indonesia. Lantas, bagaimana kinerja keuangan mereka pada awal 2024?

Artikel bertajuk Adu Kinerja Bank Milik Jepang di Indonesia pada Kuartal Pertama 2024 menjadi salah satu berita pilihan editor BisnisIndonesia.id. Selain berita tersebut, sejumlah berita menarik lainnya turut tersaji dari meja redaksi BisnisIndonesia.id

Berikut ini sorotan utama Bisnisindonesia.id, Minggu (12/5/2024):

1. Adu Kinerja Bank Milik Jepang di Indonesia pada Kuartal Pertama 2024

PT Bank BTPN Tbk. yang dikendalikan Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC) dengan porsi kepemilikan 91,04%, misalnya, telah mengakuisisi dua perusahaan leasing sekaligus, yakni PT Oto Multiartha (OTO) dan PT Summit Oto Finance (SOF) pada awal tahun ini. Akuisisi tersebut dilakukan bank ini guna memperluas bisnis.

Kemudian, PT Bank Danamon Indonesia Tbk. yang dikendalikan oleh konglomerasi Jepang Mitsubishi UFJ Financial Group Inc. (MUFG) dengan porsi kepemilikan 92,47% telah merampungkan aksi akuisisi terhadap Standard Chartered Bank Indonesia (SCBI) pada akhir 2023. Aksi akuisisi itu juga dinilai telah mendongkrak kinerja bisnis bank.

Seiring dengan aksi korporasi tersebut, BTPN membukukan laba bersih konsolidasi yang diatribusikan kepada pemilik sebesar Rp543,85 miliar pada kuartal I/2024, susut 32,46% secara tahunan (year-on-year/ YoY) dari periode yang sama di tahun sebelumnya Rp805,19 miliar.

Meski begitu, dari segi intermediasi, BTPN telah mencatatkan pertumbuhan penyaluran kredit yang pesat 24% YoY, menjadi Rp186,56 triliun pada akhir Maret 2024. Aset BTPN pun tumbuh pesat 18% YoY, menjadi Rp239,84 triliun pada akhir Maret 2024.


2. Seribu Kiat Mewujudkan Swasembada Air Bersih di Indonesia

Peningkatan infrastruktur air dan sanitasi penting dalam mencapai visi Indonesia Emas 2045.

Wakil Ketua Umum Bidang Perindustrian Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bobby Gafur Umar mengatakan dengan fokus yang semakin meningkat pada swasembada pangan, energi dan air, peningkatan infrastruktur air dan sanitasi rumah tangga menjadi perhatian utama baik bagi pemerintah maupun pihak swasta.  

Menurutnya, Indonesia masih dihadapkan pada tantangan serius terkait akses air bersih dan sanitasi yang layak terutama di wilayah perdesaan dan permukiman informal di perkotaan. Sebagian penduduk Indonesia mengalami keterbatasan akses terhadap air bersih, sedangkan penduduk lainnya kekurangan akses terhadap sanitasi yang memadai. 

Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan Lingkungan dan Kehutanan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) Nani Hendiarti menargetkan dalam membuka peluang investasi pembangunan infrastruktur air melalui perhelatan World Water Forum (WWF) ke-10 yang akan diselenggarakan di Bali pada 18-25 Mei 2024.

Menurutnya, untuk mencapai target akses air minum yang aman, adil, dan terjangkau pada 2030 dibutuhkan investasi pada pipa air minum. Saat ini, perkembangan investasi pada pipa air minum baru sekitar 20,6%. Untuk meningkatkan investasinya menjadi 30% maka dana yang harus dikeluarkan mencapai Rp123 triliun. Adapun dana APBN baru bisa mengakomodir 37% dari kebutuhan pendanaan infrastruktur air sehingga investasi harus didorong sebagai sumber modal.


3. Kinerja AKR Corporindo (AKRA) Lesu di Kuartal I/2024, Ini Rekomendasi Sahamnya 

Emiten distributor bahan bakar industri, PT AKR Corporindo Tbk. (AKRA) membukukan penurunan kinerja pada kuartal I/2024. Penurunan harga jual rata-rata minyak dan produk kimia masih menjadi faktor utamanya.

Pelemahan kinerja AKRA sudah terlihat sejak tahun lalu dan kini berlanjut kembali pada awal tahun ini. Hal ini tidak terlepas dari faktor harga minyak global yang mulai mendingin sejak tahun lalu.

Meski begitu, AKRA diuntungkan oleh diversifikasi bisnisnya yang cukup luas, terutama di segmen penjualan lahan industri.

Berdasarkan laporan keuangannya, AKRA mencatatkan total pendapatan sebesar Rp9,81 triliun sepanjang kuartal I/2024, turun 10,47% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yakni di level Rp10,95 triliun.  

Pendapatan tersebut ditopang oleh pendapatan dari kontrak dengan pelanggan sebesar Rp9,74 triliun, sedangkan pendapatan sewa tercatat sebesar Rp61,89 miliar.  

Selanjutnya, beban pokok pendapatan ikut menurun sejalan dengan pendapatan yang anjlok. Sepanjang kuartal I/2024 AKRA mencatatkan beban pokok sebesar US$8,91 triliun atau lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp9,88 triliun.

 

4. Permintaan Rumah Pertama Tak Tergerus Tekanan Ekonomi Global

Penjualan rumah tapak masih menjadi primadona sektor properti di Indonesia. 

Head of Research Jones Lang LaSalle (JLL) Yunus Karim mengatakan kebutuhan rumah tapak menarik permintaan yang cukup sehat.

Pemicu utama yang mendorong permintaan rumah tapak diantaranya insentif dari pemerintah berupa keringanan PPN. Hal itu menjadi angin segar bagi para pengembang dalam menjual unitnya.

Adapun hunian yang diminati konsumen yakni rumah dengan harga di bawah Rp2 miliar. Menurutnya, keterjangkauan menjadi kunci yang tentunya menyasar pasar milenial sehingga pasokan menyesuaikan pasar yang ada saat ini.

Pihaknya tak menampik sejak tahun lalu, pengembang secara aktif meluncurkan klaster-klaster baru. Bahkan kota-kota yang sebelumnya lebih sepi pun ikut bergabung dengan memperkenalkan klaster-klaster baru.

Faktor-faktor seperti aksesibilitas yang baik ke jalan tol dan transportasi umum, reputasi pengembang, dan fasilitas komersial yang mendukung menjadi hal yang sangat penting ketika calon pembeli mempertimbangkan untuk membeli unit rumah tapak.


5. Kinerja Apik BRIS di Tengah Tekanan Ekonomi, Sahamnya Menarik?

Emiten perbankan syariah terbesar nasional, PT Bank Syariah Indonesia Tbk. sukses mempertahankan pertumbuhan kinerja yang positif hingga awal tahun ini, di tengah tekanan di industri perbankan yang relatif tinggi.

Emiten berkode BRIS ini berhasil membukukan laba bersih senilai Rp1,71 triliun pada kuartal pertama tahun ini, tumbuh 17,1% dari Rp1,46 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Kondisi ini dicapai di tengah situasi ekonomi global dan domestik yang cukup menantang. Dari sisi global, perekonomian masih ditandai oleh ketidakpastian yang tinggi, diperparah oleh konflik geopolitik, tekanan inflasi, serta suku bunga yang tinggi.

Di dalam negeri, suku bunga acuan tetap tinggi sejak tahun lalu, bahkan kini sudah meningkat lagi pada kuartal II/2024. Rupiah cenderung melemah sehingga menjadikan kinerja ekonomi bergejolak.

BSI mampu mempertahankan kinerjanya dengan menjaga tingkat pertumbuhan pendapatan margin bersih atau net margin income (NMI) sebesar 1,13% year-on-year (YoY) menjadi Rp4,1 triliun.

Hal ini diperoleh berkat capaian pertumbuhan kinerja pembiayaan sebesar 15,89% YoY pada kuartal pertama tahun ini, atau naik Rp33,89 triliun menjadi Rp247,16 triliun.

Segmen pembiayaan dengan pertumbuhan tertinggi adalah segmen wholesale, yakni naik 18,19% YoY menjadi Rp68,75 triliun, disusul oleh segmen UMKM yang tumbuh 15,43% YoY menjadi Rp43,4 triliun. 

Namun, dari sisi nilai, segmen consumer masih mendominasi dan menjadi fokus utama BSI, dengan nilai penyaluran pembiayaan Rp135 triliun. Meski demikian, tingkat pertumbuhannya adalah yang terendah, yakni 14,89% YoY.

Meski NMI tumbuh tipis, BSI berhasil menopang pertumbuhan labanya dari kinerja yang cemerlang pada bisnis lainnya. Hal ini terlihat dari perolehan pendapatan berbasis komisi atau fee based income (FBI) BSI sebesar Rp1,23 triliun pada kuartal I/2024, melesat 25,33% YoY.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Yanita Petriella

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.