Top 5 News: Lampu Merah Kebijakan Fiskal hingga Peluang Bank Digital di Kredit Korporasi

Konsistensi pemangku kebijakan dalam menjaga disiplin fiskal diuji. Rencana belanja pemerintahan baru yang cukup ambisius dipandang bakal menyebabkan ruang fiskal jangka menengah rawan goyah. Sederet lembaga internasional pun mulai menyalakan alarm.

Fatkhul Maskur

17 Mei 2024 - 05.39
A-
A+
Top 5 News: Lampu Merah Kebijakan Fiskal hingga Peluang Bank Digital di Kredit Korporasi

Bisnis.com, JAKARTA—Konsistensi pemangku kebijakan dalam menjaga disiplin fiskal diuji. Rencana belanja pemerintahan baru yang cukup ambisius dipandang bakal menyebabkan ruang fiskal jangka menengah rawan goyah. Sederet lembaga internasional pun mulai menyalakan alarm.

Artikel bertajuk Lampu Merah Kebijakan Fiskal Jangka Menengah menjadi salah satu berita pilihan editor BisnisIndonesia.id. Selain berita tersebut, sejumlah berita menarik lainnya turut tersaji dari meja redaksi BisnisIndonesia.id.

Berikut ini sorotan utama Bisnisindonesia.id, Jumat (17/5/2024):

1. Lampu Merah Kebijakan Fiskal Jangka Menengah

Konsistensi pemangku kebijakan dalam menjaga disiplin fiskal diuji. Rencana belanja pemerintahan baru yang cukup ambisius dipandang bakal menyebabkan ruang fiskal jangka menengah rawan goyah. Sederet lembaga internasional pun mulai menyalakan alarm yang patut diperhatikan pemerintah.

Termutakhir, Ficth Rating mengingatkan kepada pemerintah untuk mewaspadai adanya lonjakan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang rentang menganga apabila kebijakan belanja rezim baru tidak terkelola dengan baik.

Peringatan dari lembaga itu pun bukannya tanpa alasan. Sebab tatkala defisit fiskal kian lebar, maka peringkat utang Indonesia bakal jeblok sehingga pemerintah kesulitan mengumpulkan dana untuk memenuhi pembiayaan di luar penerimaan perpajakan.

Ketika peringkat utang kurang ciamik, mau tak mau otoritas fiskal harus berani memberikan imbal hasil yang lebih menarik untuk menarik minat investor. Akan tetapi, langkah tersebut berisiko membebani pembayaran bunga utang negara pada masa mendatang.

Aneka faktor inilah yang perlu diperhitungkan oleh otoritas fiskal dalam menyusun Rancangan APBN 2025 yang akan dijalankan oleh pemerintahan baru, yakni pasangan Presiden dan Wakil Presiden terpilih Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka.

2. Rekomendasi Saham EXCL dan FREN Usai Kabar Merger Kian Pasti

Strategi buy on the rumors and sell on the news tampaknya sedang marak dilakukan investor saham PT XL Axiata Tbk. (EXCL), menyusul kian pastinya rencana merger antara perusahaan yang dikendalikan oleh Axiata Investment Sdn. Bhd. Ini dengan PT Smartfren Telecom Tbk. (FREN).

Kepastian merger antara kedua perusahaan infrastruktur telekomunikasi tersebut kian terkonfirmasi setelah sejumlah perusahaan Grup Sinarmas pengendali FREN menandatangani dokumen memorandum of understanding (MoU) yang bersifat tidak mengikat dengan Axiata Group.

Managing Director Sinar Mas, Ferry Salman, mengatakan bahwa saat ini seluruh proses merger tengah berlangsung sesuai ketentuan dan regulasi yang diberlakukan Pemerintah Indonesia.

“Kami berupaya agar kehadiran entitas baru hasil konsolidasi dapat memberikan manfaat tidak saja bagi para pemegang saham dan karyawan, namun juga khalayak pengguna serta industri telekomunikasi Indonesia pada umumnya," kata Ferry dalam keterangan resminya, Rabu (15/5/2024).

Penyelesaian rencana transaksi ini akan tunduk pada penyelesaian uji tuntas yang memadai, negosiasi, perjanjian, serta penandatanganan perjanjian definitif dan kondisi tertentu yang diperlukan untuk penyelesaian yang akan dituangkan dalam perjanjian-perjanjian tersebut.

Kendati demikian, sifat tidak mengikat dalam MoU tersebut menegaskan bahwa Sinar Mas dan Smartfren tidak menjamin bahwa rencana transaksi akan selesai dan diimplementasikan.

3. Persaingan Sengit Perbankan Syariah di Tengah Pasar yang Terbatas

Kendati pangsa pasarnya relatif kecil, persaingan di kalangan industri perbankan syariah tak kalah sengit. Target pasar yang sama, seperti bisnis haji dan umrah, menjadikan masing-masing bank perlu mengembangkan strategi untuk dapat mengoptimalkan potensi keuntungannya.

Sebagaimana diketahui, jumlah penduduk muslim di Indonesia mencapai 86,7% atau setara 229 juta jiwa dari total populasi Indonesia. Meski demikian, dari sisi aset, industri perbankan syariah hanya menyumbang sekitar 7% dari total aset industri perbankan nasional.

Pilihan produk dan diferensiasi layanan yang terbatas menjadikan bank syariah tidak menjadi prioritas nasabah. Di sisi lain, pandangan miring bahwa industri perbankan syariah tidak berbeda dibanding perbankan konvensional menjadikan nasabah tidak melihat adanya kebutuhan untuk beralih.

Fenomena tersebut diamini oleh Wakil Presiden (Wapres) Ma’ruf Amin. Dirinya sempat berkelakar bahwa pangsa bank syariah di Tanah Air masih mandek karena banyak setannya. Menurut Ma'ruf, pangsa pasar keuangan syariah, termasuk bank syariah di dalamnya, hanya 10,9% per Juli 2023.

“Di bank-bank syariah banyak 'setannya' ini. Makanya, pangsa pasarnya masih 10 [persen] belum naik-naik. Karena, setannya itu membuat ragu [nasabah baru], ‘Ah, sama saja bank syariah dengan bank konvensional, enggak ada bedanya'. Jadinya mereka ragu,” ujarnya dalam agenda perkumpulan Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) awal pekan ini, Senin (13/5/2024).

4. Menjaga Tuah Temuan Migas Mubadala di Lepas Pantai Aceh

Mubadala Energy nampaknya tidak segera berpuas diri setelah kembali mengidentifikasi potensi 2 triliun kaki kubik gas in place di Wilayah Kerja South Andaman. Perusahaan asal Abu Dhabi itu segera merencanakan eksploitasi di sejumlah temuan gas di lepas pantai Aceh.

Hanya dalam hitungan bulan, Mubadala mengidentifikasi potensi triliunan kaki kubik gas di Blok South Andaman. Masing-masing 6 Tcf pada sumur Layaran-1 pada Desember 2023 dan 2 Tcf pada sumur Tangkulo-1 pada Mei 2024.

Temuan lainnya adalah pada sumur Timpan-1 Blok Andaman II dengan temuan aliran gas sebesar 27 juta kaki kubik per hari dan 1.884 barrel kondensat per hari (BOPD) pada 2022. Pada WK tersebut, Harbour Energy melalui Premier Oil berlaku sebagai operator dengan memegang 40% participating interest. Sementara Mubadala menjadi mitra dengan kerja dengan 30% participating interest.

Vice President Operations Technical Mubadala Energy Adnan Omar Bu Fateem menerangkan bahwa Mubadala Energy mulai mematangkan rencana eksploitasi sejumlah temuan tersebut. Secara bersamaan. Perusahaan bakal melanjutkan pengeboran sumur eksplorasi dan appraisal untuk menjaga momentum keberhasilan di lepas cekungan Sumatera Utara itu.

5. Kejar Peluang Bank Digital di Segmen Kredit Korporasi

Sejumlah pemain bank digital mengatur strategi untuk menyalurkan kredit segmen korporasi. Saat ini mayoritas bank digital masih fokus pada segmen ritel.

Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Moch Amin Nurdin tak menampik fakta bahwa segmen ini menjadi sangat menggiurkan, utamanya di era suku bunga yang tinggi.

“Suku bunga tinggi malah bisa jadi peluang. Kalau mereka [bank digital] bisa maintain risiko dan meningkatkan kualitas dari aset produktifnya, maka itu akan memberikan pendapatan yang lumayan,” ujarnya pada Bisnis, Kamis (16/5/2024).

Bank besar menjadi pemain awal yang menjajaki segmen korporasi dengan layanan digital, seperti Kopra Mandiri. “Nah, karena melihat potensi pasar, bank-bank digital itu mulai merambah ke korporasi, selain sudah didukung infrastruktur, juga karena sudah ada lesson learned dari beberapa perusahaan fintech dan P2P lending yang   lebih dulu masuk ke segmen korporat,” katanya.

PT Bank Amar Indonesia Tbk. (AMAR) memutuskan siap untuk melakukan diversifikasi portofolio kredit dengan memasuki segmen korporasi dan komersial sebagai target pasar baru.

Senior Vice President of Finance Amar Bank David Wirawan mengatakan hal ini dilakukan untuk menyeimbangkan portofolio kredit. Melalui diversifikasi produk tersebut, perseroan dapat menyusun portofolio yang seimbang, kemudian juga mengurangi risiko konsentrasi dalam satu segmen.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Fatkhul Maskur

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.