Top 5 News: Mengejar Target Migas hingga Bank Permata Spin Off

Presiden Joko Widodo meresmikan Tangguh Train 3 di Teluk Bintuni, Papua Barat. Kilang liquified natural gas anyar sekaligus terbesar di Indonesia ini bakal turut menambah kapasitas produksi migas nasional.

Fatkhul Maskur

26 Nov 2023 - 09.57
A-
A+
Top 5 News: Mengejar Target Migas hingga Bank Permata Spin Off

Presiden Joko Widodo (tengah) saat meresmikan Kilang LNG Tangguh 3 di Teluk Bintuni, 24 November 2023. - Foto Bisnis

Bisnis, JAKARTA – Presiden Joko Widodo meresmikan Tangguh Train 3 di Teluk Bintuni, Papua Barat. Kilang liquified natural gas anyar sekaligus terbesar di Indonesia ini bakal turut menambah kapasitas produksi migas nasional.

Berita bertajuk Mengejar Target Produksi Migas ke Teluk Bintuni menjadi salah satu pilihan redaksi BisnisIndonesia.id.

Selain itu, Anda juga perlu membaca sejumlah berita menarik lainnya turut tersaji dari meja redaksi Bisnisindonesia.id.

Berikut ini sorotan utama Bisnisindonesia.id, Minggu (26/11/2023):

1. Mengejar Target Produksi Migas ke Teluk Bintuni

Presiden Joko Widodo meresmikan Tangguh Train 3 di Teluk Bintuni, Papua Barat. Kilang liquified natural gas anyar sekaligus terbesar di Indonesia ini bakal turut menambah kapasitas produksi migas nasional.

Beroperasinya Tangguh Train 3 akan meningkatkan kapasitas produksi tahunan Tangguh LNG jadi 11,4 juta ton per tahun dan berkontribusi signifikan mendukung target produksi gas 12 miliar standard kaki kubik pada 2030.

Upaya peningkatan produksi migas dalam negeri ini tidak murah. Setidaknya kilang Tangguh Train 3 milik British Petroleum (BP Berau Ltd) ini dibangun dengan investasi yang tidak kecil, mencapai US$4,83 miliar atau Rp72,45 triliun.

“Puji dan syukur Alhamdulillah hari ini kita akan meresmikan proyek Tangguh Train 3 penghasil gas bumi terbesar di Indonesia. Saya resmikan PSN Tangguh Train 3 di Teluk Bintuni Provinsi Papua Barat,” kata Jokowi di Papua Barat, Jumat (24/11/2023).

2. Karpet Merah Insentif PPN DTP Warga Asing Mudah Beli Properti RI

Ada yang menarik dari kebijakan pemberian insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) yang diberikan mulai November 2023 hingga Desember 2024.

Dalam beleid Peraturan Menteri Keuangan (PMK) nomor 120 tahun 2023 yang ditandatangani pada 21 November 2023, insentif PPN DTP ini rupanya tidak hanya berlaku untuk Warga Negara Indonesia (WNI) tetapi juga diberikan karpet merah warga negara asing (WNA) untuk membeli properti di Tanah Air.

Hal itu merujuk pasal 5 ayat 1 PMK nomer 120/2023 yang berbunyi PPN ditanggung Pemerintah dimanfaatkan untuk setiap 1 orang pribadi atas perolehan 1 rumah tapak atau 1 satuan rumah susun.

Adapun orang pribadi yang dimaksudkan dalam pasal 6 yakni WNI yang memiliki NPWP atau nomor identitas kependudukan (NIP) dan WNA yang memiliki NPWP sepanjang memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur kepemilikan rumah tapak atau satuan rumah susun bagi WNA.

PPN DTP ini dapat dimanfaatkan untuk hunian siap huni dengan harga maksimal Rp5 miliar, meskipun dasar pengenaan bebas pajak hanya hingga Rp2 miliar.

3 Ultimatum untuk Geber Penerimaan Pajak Sesuai Target

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati melaporkan bahwa penerimaan pajak per Oktober 2023 sudah mencapai Rp1.523,7 triliun, tembus 88,69% dari target APBN.

Dia mengatakan pemerintah cukup optimistis, di mana dari sisi penerimaan pajak dapat mencapai Rp1.818,24 triliun sampai akhir 2023 atau sesuai target Perpres Nomor 75 Tahun 2023. Dalam dua bulan atau November hingga Desember 2023, sisa penerimaan pajak yang dibutuhkan untuk mencapai target adalah Rp294,54 triliun.

“Kami mendorong pada dua bulan akhir bagi Direktorat Jenderal Pajak (DJP) mencapai target yang ditetapkan,” ujarnya dalam Konferensi Pers APBN Kita Edisi November, Jumat (24/11/2023).

Berdasarkan data APBN Kita edisi November 2023, secara komposisi, PPh Nonmigas meningkat 6,71% mencapai Rp836,79 triliun. Adapun, capaian ini 95,78% dari target. Lalu, PPN & PPnBM mencapai Rp599,18 triliun, tumbuh 5,4% secara tahunan dan sudah mencapai 80,65% dari target yang ditetapkan.

PBB & pajak lainnya tembus Rp28,74 triliun, tumbuh 10,72% secara tahunan. Di mana, sudah 71,84% tercapai dari target yang ada. Namun, PPh Migas mengalami penurunan sebesar 13,2% menjadi Rp58,99 triliun per Oktober 2023. “Karena memang harga migas mengalami penurunan dan lifting migas yang juga turun.”

4. Harga Tiket Whoosh Naik tapi Masih di Bawah Normal

PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) memperpanjang promo harga tiket kereta cepat Jakarta-Bandung Whoosh hingga Desember 2023.

Direktur Utama KCIC Dwiyana Slamet Riyadi menuturkan, tarif promo kereta cepat Whoosh untuk perjalanan mulai Desember 2023 mengalami kenaikan, yaitu mulai dari Rp200.000 untuk kelas Premium Economy.

Sebagai informasi, harga tiket promo Whoosh untuk kelas tersebut dijual Rp150.000 per perjalanan.

“Harga Rp200.000 berlaku untuk perjalanan Senin-Kamis. Sedangkan untuk tiket perjalanan Jumat-Minggu untuk kelas yang sama dijual seharga Rp250.000,” kata  Dwiyana dalam keterangan resmi, dikutip Sabtu (25/11/2023).

Adapun, seluruh tarif promo tersebut sudah termasuk tiket perjalanan KA Feeder dari Stasiun Padalarang menuju Stasiun Bandung dan sebaliknya.

5. Untung-Rugi Bank Permata (BNLI) ‘Spin Off’ UUS

PT Bank Permata Tbk. (BNLI) masih terus mengkaji soal untung rugi spin off unit usaha syariah (UUS) yang aturannya telah ditetapkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Pasalnya, Bank Permata Syariah merupakan pemain UUS yang juga memiliki aset bernilai jumbo dan berpotensi untuk di-spin off.

Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, aset UUS Bank Permata mencapai Rp37,54 triliun per September 2023 (year-on-year/YoY), naik 18,78% dari sebelumnya Rp31,6 triliun per September 2022. Adapun, pembiayaan dari Permata Syariah sendiri tembus Rp22,62 triliun, naik 20,8% dibanding tahun lalu yakni Rp18,73 triliun.

Direktur Unit Usaha Syariah Permata Bank Herwin Bustaman mengatakan Permata Syariah sejauh ini masih akan terus berkomitmen agar terus tumbuh dan tetap mematuhi peraturan dari regulator.

“Yang harus diperhatikan kalau nanti di-spin off, modal bakal terbatas. Jadi [kajian soal spin off] harus dites dulu. Model bisnis mana yang profitable,” ujarnya pada awak media dalam Public Expose, Kamis (23/11/2023).

Bank Pertama juga bakal terus mengevaluasi model bisnis mana yang memang potensial ke depan. Adapun, secara keseluruhan, untuk saat ini segmen yang masih terus dibidik oleh BNLI, yakni korporasi, komersial hingga ritel banking.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Fatkhul Maskur

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.