Free

Top 5 News: Pesona Emiten Batu Bara hingga Target Reduksi Emisi Karbon

Artikel bertajuk daya tarik saham emiten batu bara di tengah fluktuasi harga komoditas menjadi salah satu berita pilihan editor BisnisIndonesia.id.

Redaksi

3 Mei 2024 - 07.31
A-
A+
Top 5 News: Pesona Emiten Batu Bara hingga Target Reduksi Emisi Karbon

Ilustrasi Top 5 Bisnisindonesia.id

Bisnis, JAKARTA — Saham emiten batu bara masih bergerak dalam tren positif untuk periode berjalan 2024, di tengah ketidakpastian global dan kondisi harga komoditas yang melemah.

Meskipun duo emiten produsen batu bara kakap seperti, PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) dan juga PT Adaro Energy Indonesia Tbk. (ADRO) kompak mencatatkan penurunan kinerja keuangan baik dari sisi pendapatan atau top line maupun laba bersih atau bottom line.

Artikel bertajuk daya tarik saham emiten batu bara di tengah fluktuasi harga komoditas menjadi salah satu berita pilihan editor BisnisIndonesia.id. Selain berita tersebut, sejumlah berita menarik lainnya turut tersaji dari meja redaksi BisnisIndonesia.id. Berikut ini sorotan utama Bisnisindonesia.id, Jumat (3/5/2024):

1. Daya Tarik Saham Emiten Batu Bara di Tengah Fluktuasi Harga Komoditas

Secara harian, saham emiten batu baru memang masih fluktuatif. Namun jika dilihat secara year to date (ytd) masih tercatat positif. Misalnya saja, saham ADRO tercatat   mengalami pertumbuhan sebesar 13,87% (ytd), saham PTBA juga tumbuh sebesar 18,44% (ytd) meskipun dalam sepekan menuju zona merah dan turun 2,36%.

Meskipun mengalami penurunan performa, pihak pelaku usaha menilai catatan keuangan masih terbilang sehat. Misalnya saja, Presiden Direktur dan Chief Executive Officer ADRO Garibaldi Thohir mengatakan di tengah ketidakpastian global dan kondisi harga komoditas yang melemah, ADRO mempertahankan komitmen terhadap kinerja keuangan. 

ADRO memulai tahun ini dengan baik, dan ADRO memperluas investasinya ke bisnis-bisnis baru yang berjalan baik sesuai panduan yang telah ditetapkan. 

Berdasarkan laporan keuangannya, ADRO mencetak pendapatan sebesar US$1,44 miliar atau setara Rp23,4 triliun (kurs Jisdor Rp16.276 per dolar AS) di kuartal I/2024. Pendapatan ini turun 21,53% secara tahunan dari US$1,83 miliar. ADRO menjelaskan volume produksi dan penjualan pada kuartal I/2023 masing-masing mencapai 18,07 juta ton dan 16,48 juta ton, atau naik 15% dan 5% dari kuartal I/2023. Peningkatan pada kinerja operasional ini mengimbangi penurunan 24% pada harga jual rata-rata (ASP) seiring berlanjutnya penurunan harga batu bara. 



2. Inflasi Modal Awal Hadapi Tantangan Global

Pemerintah dan Bank Indonesia memiliki modal kuat untuk memacu ekonomi terutama dari konsumsi. 

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan inflasi pada April 2024 sebesar 3,00% YoY turun dibanding bulan sebelumnya 3,05%. 

Penurunan inflasi ini mengkonfirmasi efektivitas bauran kebijakan BI dan pemerintah yang berhasil menurunkan harga komoditas pangan, termasuk beras dan bawang.

Sementara itu, inflasi inti tercatat naik dari 1,77% YoY menjadi 1,82% per April 2024. Kenaikan itu sejalan dengan depresiasi rupiah yang menembus Rp16.200 per dolar AS.

Data ini menunjukkan adanya penguatan daya beli masyarakat serta terus melandainya pergerakan harga-harga yang cukup sensitif terhadap inflasi. 

Peluang pemerintah untuk menjaga stabilitas inflasi juga mendapat dukungan dari keputusan The Fed untuk mempertahankan suku bunga sesuai dengan ekspektasi Bank Indonesia. BI pun telah melakukan langkah antisipatif pada pertemuan bulan lalu sehingga membantu stabilitas rupiah dan mencegah adanya kenaikan inflasi barang impor. 


3. Membaca Arah Gerak IHSG di Tengah Fenomena Sell in May and Go Away!

Indeks harga saham gabungan atau IHSG mengawali debutnya pada Mei 2024 dengan penurunan yang cukup tajam, seakan membenarkan akan adanya fenomena Sell in May and Go Away. Akankah kinerja IHSG berbalik menguat pada sisa tahun ini?

IHSG ditutup di level 7.117,42 pada perdagangan pertama Mei 2024 hari ini, Kamis (2/5/2024), turun tajam 1,61% dibanding posisinya pada hari terakhir perdagangan April 2024 lalu yang di level 7.234,20. Dengan penurunan tersebut, IHSG tercatat sudah terkoreksi 2,14% sepanjang tahun berjalan 2024 atau secara year-to-date (YtD).

Penurunan ini menjadi sinyal kinerja IHSG yang bakal kurang bertenaga bulan ini. Apalagi, bulan Mei kerap kali dipersepsikan sebagai periode waktu saat investor global cenderung meninggalkan pasar saham. Fenomena ini kerap dikenal dengan sebutan Sell in May and Go Away.

Fenomena Sell in May and Go Away mengacu pada strategi investor yang beramai-ramai menjual saham pada bulan Mei. Misalnya, para investor asing meninggalkan pasar saham untuk pergi berlibur selama musim panas, lalu masuk kembali ke pasar saham pada November.

Head of Research InvestasiKu (Mega Capital Sekuritas), Cheril Tanuwijaya, mengatakan bahwa ungkapan Sell in May and Go Away tidak selalu terjadi setiap tahun. Namun, menurutnya IHSG memang saat ini sedang dalam tren koreksi yang belum ada tanda-tanda pembalikan arah.

Menurutnya, pada awal Mei fokus pasar langsung tertuju pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed yang memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan AS di kisaran target 5,25% - 5,5%. Hal itu sesuai dengan prediksi mayoritas pasar.

Di sisi lain, pelaku pasar juga mencermati data-data ekonomi China, sebab pemulihan ekonomi China menjadi harapan mengingat besarnya kontribusi perdagangan dan pengaruhnya pada harga-harga komoditas yang dihasilkan di Indonesia. 

Selain itu, pasar juga mencermati perkembangan konflik geopolitik Rusia-Ukraina dan Timur Tengah.

 

4. Kunjungan Wisatawan Asing ke Indonesia Mulai Pulih Usai Pandemi

Kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia perlahan terus mengalami pemulihan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat kunjungan wisatawan mancanegara selama kuartal I tahun 2024 mencapai 3,03 juta atau meningkat 25,43% dari periode yang sama tahun lalu yang sebanyak 2,4 juta kunjungan. 

Plt. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan total jumlah kunjungan wisman pada kuartal I/2024 ini merupakan yang tertinggi dalam empat tahun terakhir. 

Berdasarkan data BPS, jumlah kunjungan wisman pada kuartal I/2020 sebanyak 2,64 juta kunjungan. Kemudian di periode yang sama 2021, jumlah tersebut merosot menjadi 352.282 kunjungan.

Pada 2022, jumlah kunjungan wisman naik tipis menjadi sebanyak 412.436 kunjungan dan melonjak naik menjadi 2,4 juta kunjungan pada 2023.

Lalu pada 2024, jumlah wisman yang berkunjung di Indonesia kembali naik menjadi 3,03 juta pada kuartal I/2024. Kendati begitu, jumlah tersebut belum dapat menyamai total kunjungan pada kuartal I/2019 sebesar 3,75 juta kunjungan.

Adapun menurut kebangsaan, kunjungan terbanyak berasal dari Malaysia. Pada Maret 2024, proporsi wisman asal Malaysia terhadap total kunjungan di bulan ini sebesar 15,4%, disusul Australia 11,9%, dan Singapura 11,5%.

Kendati menempati urutan pertama, kunjungan wisman asal Malaysia pada bulan tersebut mengalami penurunan sebesar 26,50%.

Amalia menuturkan sebagian wisman yang berkunjung ke Indonesia masuk melalui Bandara I Gusti Ngurah Rai, dengan proporsi sebesar 44,52%, di dominasi oleh wisman asal Australia sebesar 23,9%.


5. PIS Mengejar Target Reduksi Emisi Karbon 2030

Subholding pelayaran Pertamina, PT Pertamina International Shipping (PIS) tengah berupaya menekan emisi gas buang CO2 demi mencapai target net zero emission (NZE) 2030 dari International Maritime Organization (IMO) dan target pemerintah pada 2060.

Penurunan emisi karbon pada 2023 telah mencapai 25,4 kTCO2e per tahun, dengan total emisi karbon sebesar 1,6 mTCO2e per tahun. Pada 2030, PIS menargetkan reduksi emisi karbon berkisar 978,6 kTCO2e per tahun dibandingkan dengan total emisi karbon sebesar 2,9 mTCO2e per tahun.

Direktur Utama PT Pertamina International Shipping Yoki Firnandi menerangkan penurunan emisi gas buang merupakan bagian dari upaya keberlanjutan dan menjadi tuntutan dunia saat ini.

Sejumlah langkah pun telah dilakukan oleh PIS demi mencapai target NZE. Salah satunya, PIS sudah memasang energy saving device (ESD) pada 40 kapal, sehingga mendapatkan efisiensi bunker 3--20% per kapal. Selanjutnya, langkah ini akan dilanjutkan pada 14 kapal lain pada 2024.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Yanita Petriella

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.