Top 5 News: Puncak Arus Balik di Tol Trans Sumatra hingga Daftar Bank Bangkrut

Sejumlah ruas tol Trans Sumatera mengalami peningkatan volume kendaraan cukup signifikan selama periode arus balik Lebaran 2024. Puncak arus mudik di lintasan tol tersebut diperkirakan terjadi pada Minggu (14/4/2024).

Fatkhul Maskur

15 Apr 2024 - 08.45
A-
A+
Top 5 News: Puncak Arus Balik di Tol Trans Sumatra hingga Daftar Bank Bangkrut

Kondisi Gerbang Tol Palembang saat arus balik Lebaran 2024. Foto Hutama-Karya

Bisnis, JAKARTA— Sejumlah ruas tol Trans Sumatera mengalami peningkatan volume kendaraan cukup signifikan selama periode arus balik Lebaran 2024. Puncak arus mudik di lintasan tol tersebut diperkirakan terjadi pada Minggu (14/4/2024).

Artikel bertajuk Puncak Arus Balik, Volume Kendaraan di Tol Trans Sumatera Melonjak menjadi salah satu berita pilihan editor BisnisIndonesia.id. Selain berita tersebut, sejumlah berita menarik lainnya turut tersaji dari meja redaksi BisnisIndonesia.id.

Berikut ini sorotan utama Bisnisindonesia.id, Senin (15/4/2024):

  1. Puncak Arus Balik, Volume Kendaraan di Tol Trans Sumatera Melonjak hingga 194%

Sejumlah ruas tol Trans Sumatera mengalami peningkatan volume kendaraan cukup signifikan selama periode arus balik Lebaran 2024. Puncak arus mudik di lintasan tol tersebut diperkirakan terjadi pada Minggu (14/4/2024).

BUMN infrastruktur PT Hutama Karya (Persero) mencatat volume lalu lintas (VLL) kendaraan yang melintasi Jalan Tol Trans Sumatera mencapai 275.026 kendaraan selama periode 12 - 13 April 2024. Volume tersebut meningkat cukup signifikan hingga 101% dari hari biasa.

“Peningkatan ini mencerminkan mulai terjadinya mobilitas dan kegiatan perjalanan arus balik Lebaran di JTTS,” kata EVP Sekretaris Perusahaan Hutama Karya (Persero) Adjib Al Hakim dalam keterangan resmi, Minggu (14/4/2024).

Adapun sejumlah ruas tol mengalami peningkatan jumlah pengguna dibandingkan dengan periode normal. Kendaraan yang melintasi Tol Terbanggi Besar - Kayu Agung (Terpeka) misalnya, menyentuh 54.000 kendaraan atau meningkat 77% dari hari biasa.

  1. Sentimen Negatif yang Buat Penjualan Mobil Anjlok pada Kuartal I/2024

Salah satu bukti ekonomi Indonesia sedang tak baik adalah turunnya penjualan mobil domestik baik secara wholesales maupun retail pada kuartal I/2024 bila dibandingkan periode sama tahun lalu.

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia atau Gaikindo mencatat, menunjukkan penjualan mobil secara wholesales mencapai 215.069 unit pada Januari—Maret. Realisasi tersebut turun 23,9% dari 282.601 unit secara year-on-year (YoY).

Sementara untuk penjualan secara retail mencapai 230.778 unit pada kuartal I/2024. Angka tersebut turun 15% dari 271.423 unit pada periode yang sama tahun lalu.

Ketua I Gaikindo Jongkie Sugiarto mengatakan beberapa faktor perekonomian secara makro mulai dari pertumbuhan ekonomi, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, hingga suku bunga yang masih tinggi menjadi kendala penjualan otomotif domestik.

  1. Laporan Asian Development Bank soal Ekonomi RI usai Pilpres 2024

Asian Development Bank (ADB) merilis laporan terbaru soal kegiatan ekonomi di Indonesia usai pemilihan presiden (pilpres) 2024. Berakhirnya pesta politik di Tanah Air diperkirakan akan mengurangi sikap wait & see dunia usaha untuk menanamkan modal mereka.

Asian Development Bank (ADB) menyampaikan bahwa pilpres yang diselesaikan dalam satu putaran dan terpilihnya pemimpin baru diharapkan dapat terus membantu meningkatkan iklim investasi dan manajemen keuangan publik.

Hal tersebut seiring dengan pemerintahan baru yang kemungkinan akan melanjutkan kemajuan pemerintahan saat ini.

"Untuk 2024, pemilihan umum yang lancar di bulan Februari dapat meningkatkan kepercayaan bisnis, menghasilkan efek yang lebih kuat dan lebih cepat terhadap investasi," tulis ADB dalam laporan Asian Development Outlook yang dikutip pada Minggu (14/4/2024).

  1. Layanan Digital Makin Tak Terbendung, Kantor Bank Tutup Mengalir Deras

Layanan digital berdampak pada terus berkurangnya layanan tatap muka di kantor bank. Jumlah kantor bank umum di Indonesia kian menyusut.

Statistik Perbankan Indonesia yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, jumlah kantor bank di Indonesia mencapai 24.286 unit pada Januari 2024. Angka tersebut berkurang 1.012 dalam setahun yang pada Januari 2023 sebanyak 25.298 unit.

Begitu juga dengan kantor cabang bank di Indonesia yang menyusut dalam setahun, dari 3.458 unit pada Januari 2023 menjadi 3.423 unit pada Januari 2024.

Pengurangan paling banyak berlokasi di DKI Jakarta, yakni 444 kantor cabang pada Januari 2024. Jumlahnya susut dibandingkan Januari 2023 sebanyak 451 unit.

Kemudian, di Jawa Timur terdapat 383 kantor cabang pada Januari 2024 dan tutup 15 kantor dalam setahun. Lalu, di Jawa Barat mencapai 372 kantor cabang, tutup hanya 4 kantor.

  1. Rincian Bank Bangkrut di Indonesia sejak Covid-19 Melanda

Bank bangkrut terus bertambah sejak pandemi Covid-19 atau 2020. Tahun ini menjadi yang paling banyak mencatatkan jumlah kebangkrutan bank perekonomian rakyat (BPR), meskipun baru berjalan 4 bulan.

Terbaru, izin usaha PT BPR Bali Artha Anugrah dicabut Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Hal tersebut mengacu pada Keputusan Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Nomor KEP-34/D.03/2024 tanggal 4 April 2024 tentang Pencabutan Izin Usaha PT Bank Perkreditan Rakyat Bali Artha Anugrah.

"Pencabutan izin usaha PT BPR Bali Artha Anugrah merupakan bagian tindakan pengawasan yang dilakukan OJK untuk terus menjaga dan memperkuat industri perbankan serta melindungi konsumen," tulis OJK dalam pengumumannya pada beberapa waktu lalu.

Bangkrutnya BPR Bali Artha Anugrah menambah deretan bank bangkrut di Indonesia pada tahun ini. Sepanjang tahun berjalan sudah ada 9 bank bangkrut di Indonesia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Fatkhul Maskur

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.