Top 5 News: Rupiah Ambrol Rp16.000 hingga Banyak Proyek Baru Apartemen

Berita tentang rupiah tiba-tiba ambrol tembus Rp16.000 per dolar AS menjadi salah satu berita pilihan editor BisnisIndonesia.id hari ini, Jumat (12/4/2024).

Redaksi

12 Apr 2024 - 07.36
A-
A+
Top 5 News: Rupiah Ambrol Rp16.000 hingga Banyak Proyek Baru Apartemen

Ilustrasi top 5 News

Bisnis, JAKARTA — Saat masyarakat Indonesia disibukkan dengan aktivitas Mudik Lebaran 2024, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diam-diam ambrol melemah menembus Rp16.000 per dolar AS. 

Berita tentang rupiah tiba-tiba ambrol tembus Rp16.000 per dolar AS menjadi salah satu berita pilihan editor BisnisIndonesia.id hari ini, Jumat (12/4/2024). Selain berita tersebut, sejumlah berita menarik lainnya turut tersaji dari meja redaksi BisnisIndonesia.id

Berikut ini highlight Top 5 News Bisnisindonesia.id hari ini:

1. Sibuk Lebaran, Rupiah Tiba-tiba Ambrol Tembus Rp16.000 per Dolar AS

Terakhir kali nilai tukar mata uang Indonesia menembus level tersebut pada Maret 2020. Adapun, berdasarkan data dari Google Finance, rupiah saat ini bercokol di level Rp16.003,10 per dolar AS pada Kamis (11/4/2024) pukul 19.00 WB. Posisi tersebut lebih tinggi jika dibandingkan dengan hari sebelumnya yang bertengger pada level Rp16.002, Rabu (10/4/2024).

Meski demikian, jika mengacu data Bloomberg pada perdagangan Jumat pekan lalu (5/4), rupiah ditutup menguat 44 poin atau 0,28% ke Rp15.848. Sementara itu indeks dolar terpantau naik 0,11% ke level 104,010.

Jika ditarik mundur, berdasarkan data Google Finance, nilai tukar rupiah terhadap dolar sempat menembus Rp16.000 pada 3 April 2020. Kala itu nilai tukar mata uang Indonesia menembus Rp16.300 per dolar AS.

Namun demikian, berdasarkan catatan Bisnis, pelemahan nilai tukar rupiah sudah lebih dulu terjadi pada Maret 2020. Tercatat, pada 20 Maret 2020 berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) BI, rupiah berada di posisi Rp16.273 per dolar AS.

Nilai tukar rupiah yang melemah pada 2020 tersebut, sempat membuat Presiden Joko Widodo turun tangan. Menurutnya, sentimen pandemi Covid-19 yang menyebar ke seluruh dunia, membuat sektor keuangan di seluruh dunia mengalami guncangan dan kepanikan.

Pada saat itu, Jokowi mengaku telah berbicara dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang beranggotakan Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan, dan Ketua Lembaga Penjaminan Simpanan untuk menjaga agar nilai tukar rupiah tidak kembali melemah.

Bahkan, secara khusus Jokowi meminta Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, di tengah tingginya tekanan.

 


2. Hilal Pembagian Dividen Emiten Kakap Batu Bara Selepas Lebaran 2024

Emiten-emiten di sektor batu bara tercatat telah mengeluarkan laporan keuangannya untuk kinerja tahun buku 2023. Penurunan harga batu bara selama 2023 membuat emiten-emiten tersebut mencatatkan penurunan tebal pada laba bersihnya.

Emiten afiliasi Garibaldi 'Boy' Thohir PT Adaro Energy Indonesia Tbk. (ADRO) misalnya mencatatkan penurunan laba bersih 34,16% sepanjang tahun 2023. Laba bersih ADRO turun menjadi US$1,64 miliar pada 2023, dari US$2,49 miliar pada tahun 2022.

Pendapatan ADRO juga tercatat turun menjadi US$6,51 miliar pada 2023, dari tahun 2022 yang sebesar USS$8,1 miliar. Pendapatan ini turun 19,56% secara tahunan atau year on year (yoy).

Emiten batu bara lainnya, yakni PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG) juga membukukan penurunan kinerja pada 2023. ITMG mencatatkan penurunan pendapatan 34,7% menjadi US$2,37 miliar sepanjang 2023, dari US$3,63 miliar di tahun 2022.

Laba bersih emiten Grup Banpu ini pun tergerus hingga setengahnya, yakni menjadi US$500 juta pada 2023. Pada 2022, ITMG masih mencatatkan laba bersih US$1,2 miliar. Dengan hasil tersebut, artinya laba bersih ITMG turun hingga 58,3% secara tahunan.

Penurunan kinerja juga dialami oleh emiten BUMN PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) pada 2023. PTBA membukukan pendapatan Rp38,4 triliun, turun 9,75% dari 2022 sebesar Rp42,64 triliun.

Laba bersih PTBA juga turun menjadi Rp6,1 triliun pada 2023, turun dari Rp12,56 triliun pada 2022. Laba bersih ini turun 51,42% secara tahunan atau year on year (yoy).

Adapun penurunan laba bersih terdalam dialami oleh emiten duet Grup Bakrie dan Grup Salim, PT Bumi Resources Tbk. (BUMI). Laba bersih BUMI anjlok hingga 97,92% pada 2023.

BUMI mencetak laba bersih US$525,2 juta pada tahun 2022. Pada 2023, laba bersih BUMI tersisa tinggal US$10,92 juta. Manajemen menjelaskan anjloknya laba bersih ini disebabkan oleh beberapa faktor, yakni kondisi pasar dan harga batu bara yang turun 33% yoy, pembayaran royalti, tingginya harga bahan bakar, dan rendahnya harga batu bara domestik yang menekan pendapatan marjin.



3. Mengungkit Utilitas Pabrik AC Lewat Tata Niaga Impor Elektronik

Kebutuhan produk pengatur suhu ruangan terus meningkat signifikan. Namun, derasnya arus impor membuat utilitas pabrikan di dalam negeri tidak lebih dari separuh kapasitas terpasangnya.

Kementerian Perindustrian mengungkapkan bahwa kebutuhan produk pendingin udara (air conditioner) pada 2022 berada di kisaran 2 juta unit. Sementara penjualan produk tersebut pada 2023 diproyeksikan mencapai 4,5 juta unit.

Adapun berdasarkan data SIINas (Sistem Informasi Industri Nasional) pada 2023, kapasitas produksi untuk produk AC sebesar 2,7 juta unit. Akan tetapi, realisasi produksinya justru hanya 1,2 juta unit. Artinya utilisasi produksinya hanya 43%.

Hal ini lantaran arus impor produk pengatur suhu ruangan sangat deras. Berdasarkan Laporan Surveyor, impor produk AC pada 2023 menembus angka 3,8 juta unit. 

Arus masuk produk AC impor terutama dari China. Importasinya semakin deras sejak beberapa tahun terakhir terakhir seiring dengan kebijakan pemerintah China yang memberika insentif ekspor.

Pada akhirnya, produk buatan pabrikan Indonesia menghadapi produk impor yang masuk semakin kencang.

Adapun beberapa pabrik AC di Indonesia di antaranya adalah Sharp Electronics, Daikin Airconditioning, LG Electronics, Panasonic Manufacturing, Denso Indonesia, dan Hartono Istana Teknologi (Polytron).


4. Memperkuat Ekosistem Aset Kripto

Seiring dengan halving Bitcoin, yakni momentum empat tahun sekali yang dinanti industri cryptocurrency itu akan kembali muncul pada 2024, ekosistem aset kripto terus diperkuat.

Salah satu upaya mewujudkan ekosistem aset kripto yang lebih matang dilakukan oleh Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) menerbitkan Surat Edaran (SE) Nomor 64/BAPPEBTI/SE/04/2024 tentang Penegasan Implementasi Penyelenggaraan Perdagangan Pasar Fisik Aset Kripto (crypto asset) di Bursa Berjangka, Jumat (5/4/2024).

SE tersebut merupakan kejelasan atas proses pembentukan ekosistem perdagangan pasar fisik aset kripto yang diharapkan lebih kompetitif dan terpercaya.

Penerbitan SE tersebut merupakan respos atas perkembangan perdagangan aset kripto yang sangat cepat dan dinamis, yang menuntut ekosistem yang lebih kuat dan mampu memenuhi kebutuhan pasar saat ini.

Selain itu, SE tersebut juga memberikan penegasan kepada pelaku usaha di bidang perdagangan pasar fisik aset kripto yang telah memperoleh perizinan dari Bappebti sebagai bentuk implementasi Peraturan Bappebti Nomor 13 Tahun 2022 tentang Perubahan atas Peraturan Bappebti Nomor 8 Tahun 2021 tentang Pedoman Penyelenggaraan Perdagangan Pasar Fisik Aset Kripto di Bursa Berjangka.


5. Kala Pengembang Mulai Percaya Diri Bangun Proyek Apartemen Baru

Dalam tiga bulan pertama di tahun 2024, pengembang sudah mulai percaya diri dalam merilis proyek-proyek apartemen baru pada 2024. Jumlah total apartemen yang ada di Jakarta sendiri saat ini berjumlah 226.815 unit. 

Jika dilihat secara kuartalan, terdapat peningkatan sebesar 0,37% dan dilihat tahunan tumbuh sebesar 1,34% (year-on-year/YoY). Colliers Indonesia mengantisipasi pembangunan apartemen 9.317 unit lainnya pada 2026, dengan 4.516 unit dijadwalkan selesai pada sisa kuartal tahun 2024, lalu 3.956 unit di tahun 2025, dan 845 unit pada 2026. 

Head of Research Colliers Indonesia Ferry Salanto mengatakan berdasarkan data kuartal pertama tahun ini dari Januari hingga Maret sektor properti apartemen belum membuahkan hasil sesuai harapan.

Dari sisi penyerapan, terdapat data dari tahun 2016 sampai 2024. Adapun di tahun lalu itu yang terserap kurang lebih hampir sama. Angka di 2023 masih sama pada masa pandemi sekitar 1.300-an unit per tahun. 


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Yanita Petriella
Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.