Top 5 News: Saham Para Taipan Hingga Era Baru Tambang Batu Bara

Sejumlah emiten milik miliarder Prajogo Pangestu hingga grup Djarum menjadi penggerak utama IHSG. Saham bank-bank pelat merah juga ikut mendorong pasar.

Nindya Aldila

27 Des 2023 - 10.25
A-
A+
Top 5 News: Saham Para Taipan Hingga Era Baru Tambang Batu Bara

Karyawati beraktivitas di dekat layar pergerakan saham pada salah satu perusahaan sekuritas di Jakarta, Senin (16/10/2023). Bisnis/Arief Hermawan P

Bisnis, JAKARTA - Emiten perusahaan yang dimiliki taipan Prajogo Pangestu hingga grup Djarum milik Hartono bersaudara menjadi penggerak utama IHSG.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham milik Prajogo Pangestu PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) menjadi movers teratas IHSG, dengan harga yang telah melambung 861,5%, dan menaikkan IHSG sebesar 260,35 poin. BREN sendiri hingga saat ini telah memiliki kapitalisasi pasar sebesar Rp1.003 triliun.

PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. (TPIA). Saham TPIA mendorong IHSG hingga 105,11 poin sepanjang tahun, dan telah menguat 128,6%. Penguatan ini juga tercermin dari kapitalisasi pasar TPIA yang melambung hingga Rp508 triliun.

Selain soal emiten Prajogo, terdapat pula ulasan komprehensif yang menjadi pilihan BisnisIndonesia.id pada Rabu (27/12/2023). Di antaranya adalah:


1. Indonesia di Ambang Era Baru Tambang Batu Bara Bawah Tanah

Kian tergerusnya cadangan batu bara di dekat permukaan membuka peluang besar meningkatnya kegiatan tambang bawah tanah di Indonesia. Terlebih, risiko dampak lingkungan dari penambangan bawah tanah dinilai lebih kecil dibandingkan dengan kegiatan tambang permukaan atau tambang terbuka.

Secara potensi, berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, batu bara bawah tanah di Indonesia juga masih sangat besar. Di Barito & Asam-Asam Basins, salah satunya, yang dengan 6 blok yang ada terdapat total potensi batu bara sebanyak 530.711 MTon.

Selain itu, juga ada potensi besar di Kutai dan Tarakan Basins, yakni dari 13 blok yang ada terdapat potensi batu bara sebesar 12.344.515 MTon, dan di South Sumatra Basins dari 20 blok yang ada terdapat potensi batu bara dengan total 20.658.330 MTon.


2. Sederet Saham Taipan 'Lokomotif' IHSG

Selain saham-saham milik konglomerat, saham emiten bank pelat merah yakni PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) atau BRI menjadi dua saham yang juga menggerakkan IHSG. Masing-masing saham bank ini mendorong IHSG sebanyak 97,35 poin dan 90,02 poin sejak awal tahun hingga saat ini.

Saham selanjutnya yang menggerakkan IHSG adalah saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) yang juga dimiliki oleh Prajogo Pangestu. Saham CUAN telah menguat 6.002,3% dan mendorong IHSG 55,51%. CUAN resmi melantai di BEI pada 8 Maret 2023 dengan harga 220 per saham. Dengan kepemilikan Prajogo sebesar 9,56 miliar saham maka unrealized profit lebih dari Rp126,23 triliun.

Selanjutnya adalah saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) yang naik 9,1% atau telah menggerakkan IHSG sebanyak 55,42 poin. BBCA juga merupakan saham terbesar dari sisi kapitalisasi pasar, yakni Rp1.138 triliun. Saham kedelapan yang menggerakkan IHSG adalah saham PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) yang menggerakkan IHSG sebanyak 43,97 poin.


3. Ragam Siasat Pabrik Truk Hadapi Ekonomi 2024

Meski perekonomian bertumbuh di atas 5% sepanjang tahun ini, performa penjualan truk justru terseok. Sederet pabrikan pun bersikap realistis menghadapi tahun politik 2024.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi pada kuartal pertama 2023 bertumbuh 5,03%, pada kuartal kedua 2023 tumbuh 5,17%, dan pada kuartal ketiga 2023 meningkat 4,94%.

Meski berbagai tantangan mengadang, dengan fundamental perekonomian yang solid, pemerintah optimistis perekonomian nasional sepanjang tahun ini tumbuh kuat.


4. Utak Atik Leasing Jaga NPL Hingga Tutup Tahun

Industri pengolahan dan real estat masih menjadi sektor pemberat rasio kredit macet atau non-performing financing (NPF) tertinggi di industri pembiayaan atau leasing hingga kuartal III/2023.

Berdasarkan Laporan Triwulan III/202 yang dipublikasikan OJK, dikutip Minggu (24/12/2023), rasio NPF industri pengolahan dan real estat masing-masing berada di level 7,42% dan 5,75% pada sembilan bulan pertama 2023.

Jika diperinci, rasio kredit macet yang dimiliki industri pengolahan dan real estat terpantau berada di atas rata-rata NPF secara agregat yang hanya di angka 2,59%. Jika ditelusuri, baik NPF industri pengolahan maupun real estat mengalami tren yang berangsur membaik jika dibandingkan posisi kuartal I/2023 dan II/2023.


5. Menguji Daya Ungkit Nataru 2023 agar PDB Tembus 5%

Momentum libur Natal dan tahun baru (Nataru) selalu dinantikan untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional di tengah pergerakan ekonomi domestik yang melaju dan aktivitas bepergian yang melonjak.

Belanja masyarakat baik untuk produk maupun barang yang cenderung naik ke masa puncak pada akhir tahun seringkali menjadi pengungkit produk domestik bruto (PDB).

Ekonom memperkirakan momentum Natal 2023 dan Tahun Baru 2024 atau Nataru 2024 akan mampu mengerek pertumbuhan ekonomi Indonesia kembali berada di atas 5%. Setelah pada kuartal III/2023 turun ke angka 4,94% ( year-on-year/YoY).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Nindya Aldila

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.