Top 5 News: Target Lifting Migas Sulit & Penjualan Mobil Listrik

Peningkatan kinerja produksi siap jual atau lifting minyak dan gas bumi (migas) masih menjadi pekerjaan rumah yang tak kunjung dapat terselesaikan hingga akhir 2023.

Yanita Petriella

13 Jan 2024 - 08.53
A-
A+
Top 5 News: Target Lifting Migas Sulit & Penjualan Mobil Listrik

ilustrasin top 5 news.

Bisnis, JAKARTA — Peningkatan kinerja produksi siap jual atau lifting minyak dan gas bumi (migas) masih menjadi pekerjaan rumah yang tak kunjung dapat terselesaikan hingga akhir 2023.

Berita tentang target rendah lifting migas menjadi salah satu berita pilihan editor BisnisIndonesia.id hari ini, Sabtu (13/1/2024). Selain berita tersebut, sejumlah berita menarik lainnya turut tersaji dari meja redaksi BisnisIndonesia.id.

Berikut ini highlight Top 5 News Bisnisindonesia.id hari ini:

1. Target Rendah Lifting Migas, Produksi 1 Juta Barel Kian Sulit

Capaian pada tahun ini pun diproyeksikan tidak begitu menggembirakan.

Kendati kegiatan pengeboran dan rencana investasi migas makin agresif, nyatanya proyeksi lifting migas sampai akhir tahun ini tetap dipatok lebih rendah dari yang ditargetkan dalam anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).

Di sisi lain, pemerintah masih memiliki harapan untuk dapat mewujudkan target lifting 1 juta barel minyak per hari dan 12 miliar standar kaki kubik gas per hari pada 2030. Hanya saja, dengan tren produksi migas yang kian turun, tentu akan sangat sulit untuk merealisasikan target besar tersebut.

Untuk tahun ini, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyetujui work program & budget (WP&B) 2024 untuk target lifting minyak di level 596.000 barel oil per day (bopd) atau lebih rendah dari target yang ditetapkan dalam APBN di level 635.000 bopd.

Begitu juga dengan target salur gas untuk 2024 dalam WP&B, berdasarkan hasil diskusi dengan kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) disepakati pada level 5.544 juta standar kaki kubik per hari (MMscfd). Target itu juga lebih rendah dari batas minimal yang diamanatkan APBN di level 5.6785 MMscfd. 


2. Target Ganda Ekspor Mobil Hibrida Toyota

Toyota Motor Manufacturing Indonesia atau TMMIN optimistis mampu menggandakan volume ekspor mobil hibridanya pada tahun ini. Dua sisi pasar menjadi penopangnya.

PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) menyatakan ekspor mobil hibridanya pada 2023 ditargetkan mencapai 20.000 unit, naik sekira 100% dibandingkan dengan capaian pada 2023 di kisaran 10.000 unit.

Saat ini, Toyota punya dua model berteknologi hibrida rakitan Indonesia, yakni Innova Zenix Hybrid, dan Yaris Cross Hybrid.

Innova Zenix Hybrid pertama kali diluncurkan pada November 2022. Selain untuk memenuhi pasar domestik Indonesia, generasi ketujuh Toyota Kijang tersebut juga dikapalkan ke pasar mancanegara, termasuk varian yang berteknologi hibrida.

Adapun Yaris Cross Hybrid diluncurkan pada pertengahan 2023. Model crossover terbaru Toyota ini juga dirakit untuk memenuhi pasar global, di samping pasar domestik Indonesia.

Sepanjang tahun lalu, Kijang Innova Zenix Hybrid mencatatkan angka ekspor hampir 3.000 unit. Adapun Yaris Cross Hybrid mencatatkan angka pengapalan lebih dari 6.400 unit. Keduanya mengontribusi ekspor hampir 10.000 unit.


3. Gerak Lambat Pelonggaran Bank Indonesia

Bank Indonesia kemungkinan masih akan mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate pada pertemuan Rabu mendatang, seiring dengan ekspektasi melonggarnya tekanan terhadap rupiah. 

Menurut survei Reuters terhadap 30 ekonom pada 5-11 Januari, memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga acuan 6,00% untuk pertemuan ketiga berturut-turut, seperti dilaporkan Bisnis.com pada Jumat (12/1/2024). 

Catatan inflasi yang melandai dan sudah sesuai dengan target bank sentral, masih belum bisa menjadi faktor penurunan suku bunga lantaran stabilitas rupiah masih perlu dikawal.

Inflasi dalam 7 bulan berturut-turut yang berada dalam target bank sentral tahun 2023 sebesar 2,0% hingga 4,0%. Per Desember 2023, inflasi berada di level 2,61% secara tahunan (year-on-year/YoY). Angka ini turun lebih tajam dari yang diperkirakan. 

Hal ini sebagian disebabkan oleh kenaikan suku bunga bank sentral antara Agustus 2022 dan Oktober 2023 sebesar 250 basis poin secara kumulatif.

Ekonom Bank Danamon Irman Faiz mengatakan kondisi inflasi tidak akan menjadi masalah bagi BI untuk sementara waktu. Faiz melihat, BI akan lebih fokus kepada stabilitas rupiah ketimbang inflasi. 

"Ada peluang bagus untuk rupiah menguat lebih jauh dari level saat ini namun terhalang oleh ketidakpastian kebijakan The Fed,” ujarnya, dikutip dari Reuters, Jumat (12/1/2024).


4. Gerak Cepat Pemerintah Menggait Investasi Kilang LPG

Asa pemerintah untuk bisa menekan hingga melepaskan Indonesia dari belenggu impor gas minyak cair (liquefied petroleum gas/LPG) dengan memacu produksi bahan bakar tersebut di dalam negeri kian kuat.

Setelah ditemukannya sejumlah lapangan minyak dan gas bumi (migas) di Indonesia yang diidentifikasi berpotensi mengandung bahan baku gas seperti propana (C3) dan butana (C4) atau rich gas yang dapat diolah menjadi LPG, pemerintah bergerak cepat menarik investasi baru untuk kilang LPG.

Terlebih, pemerintah sebelumnya juga telah mendorong kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) migas agar mengoptimalkan investasi dan pengolahan lebih lanjut dari rich gas menjadi LPG, apalagi Indonesia juga memiliki cadangan rich gas yang belum dioptimalkan. 

Seperti yang dilaporkan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) baru-baru ini, setidaknya ada 12 lapangan migas yang berpotensi mengandung C3 dan C4 sebagai bahan baku LPG. 

Adapun, sejumlah lapangan potensial itu di antaranya Lapangan Senoro-Toili (JOB PHE-Medco), Pulau Gading (PHE Jambi Merang), Lemang (Jadestone), dan Pandan (Tropik Pandan). 

Adapun, untuk menarik investasi baru pada pembangunan kilang LPG, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) diketahui tengah mengkaji kemungkinan skema bisnis klasterisasi untuk pembangunan kilang LPG baru atau pengembangan nantinya.


5. Ekspansi Pede Mobil Listrik BYD

Penjualan mobil listrik di pasar dunia sepanjang Januari-Oktober 2023 meningkat signifikan. Sepuluh besar merek kompak mencatatkan laju positif, namun tidak sedikit di antaranya kehilangan pangsa.

Mengutip laporan SNE Research, pengiriman mobil listrik baterai dan hibrida plug-in di lebih dari 80 negara sepanjang 10 bulan pertama 2023 meningkat 36,4% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya menjadi 10,995 juta unit.

BYD membukukan pertumbuhan sebesar 66,1% YoY menjadi 2,275 juta unit. Akselerasi penjualan yang sangat meyakinkan membuat perusahaan kendaraan listrik terkemuka di China memperkuat kepemimpinannya di pasar mobil listrik.

BYD sukses memperbesar penguasaan kue pasarnya 3,7 poin persentase menjadi 20,7%. Hal ini berkat variasi line-upnya, termasuk Song, Yuan Plus (Atto3), Dolphin, dan Qin.

Selain itu, BYD mencatat pertumbuhan 10 kali lebih tinggi dibandingkan tahun lalu, mengekspor hampir 80.000 unit ke wilayah lain selain China.

Tesla, yang berada di peringkat kedua merek mobil listrik paling laris, juga berhasil memacu penjualannya dengan signifikan hingga membuat pangsa pasarnya membesar.

Pabrikan asal Amerika Serikat ini berhasil melejitkan pengiriman mobilnya hingga 45,5% pada periode Januari-Oktober 2023 menjadi 1,43 juta unit.

Berkat laju penjualan yang lebih kencang, Tesla memperbesar pangsa pasarnya hampir 1 poin persen menjadi 13,1%. Hal ini terpacu oleh model utama Tesla, yakni Model 3 dan Y, yang menikmati laju penjualan kencang. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Yanita Petriella

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.