Free

Top 5 News: Tren Penutupan Tambang Nikel Hingga Hubungan RI-China

Anjloknya harga nikel telah memaksa sejumlah pertambangan di negara-negara tutup. Jika penutupan pabrik nikel terus terjadi, Indonesia perlu melakukan sejumlah langkah, terutama untuk menjaga eksistensi nikel di pasar global sekaligus mempertahankan penghiliran di dalam negeri.

Nindya Aldila

19 Feb 2024 - 10.25
A-
A+
Top 5 News: Tren Penutupan Tambang Nikel Hingga Hubungan RI-China

Bisnis, JAKARTA - Mulai bergugurannya sejumlah tambang nikel di negara lain yang diakibatkan oleh anjloknya harga serta kelebihan pasokan komoditas mineral logam tersebut di pasar global diyakini tidak akan berpengaruh terhadap pasar nikel di dalam negeri.

Kendati demikian, Indonesia tetap harus mencermati dengan saksama penutupan tambang nikel di negara lain karena jika terjadi terus menerus, tentunya akan menyebabkan ketidakseimbangan antara permintaan dan pasokan nikel dunia.

Sejauh ini, Indonesia bisa dibilang masih memegang kendali pasar nikel global, dengan menyumbang lebih dari separuh pasokan atau sekitar 3,4 juta metrik ton pada tahun lalu. Namun, jika penutupan pabrik nikel terus terjadi, Indonesia perlu melakukan sejumlah langkah, terutama untuk menjaga eksistensi nikel di pasar global sekaligus mempertahankan penghiliran di dalam negeri.

Selain soal tantangan penghiliran nikel, terdapat pula informasi komprehensif lainnya yang menjadi pilihan BisnisIndonesia.id pada Senin (19/2/2024). 


1. Menerka Nasib Nikel Indonesia Kala Tambang Global Mulai Berguguran

Secara keseluruhan Indonesia diyakini memiliki sumber daya nikel yang mencapai 17,7 miliar ton bijih dan 177,8 juta ton logam, dengan jumlah cadangan 5,2 miliar ton bijih nikel dan 57 juta ton logam.

Selain itu, terdapat beberapa wilayah yang memiliki kandungan nikel, tetapi belum dieksplorasi (greenfield) yang tersebar di wilayah Indonesia bagian timur, seperti Provinsi Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku, Maluku Utara, Papua, hingga Papua Barat.

Dengan cadangan nikel yang melimpah saat ini baik untuk nikel kadar tinggi (saprolit) sebanyak 3,5 miliar ton dan nikel kadar rendah (limonit) sebanyak 1,5 miliar ton, Indonesia pun kini menjadi buruan investor yang ingin mendapatkan komoditas mineral logam tersebut. 

Kendati cadangan nikel Indonesia disebut-sebut mencapai 23% cadangan di dunia, sekaligus menjadi yang terbesar, tanpa adanya kegiatan eksplorasi yang masif, cadangan nikel yang ada saat ini diperkirakan bisa habis dalam waktu dekat. 


2. Pintu Masuk Investor Asing di Proyek Jargas Terbuka Lebar

Pemerintah terus mendorong pemanfaatan gas bumi di dalam negeri, salah satunya melalui program jaringan gas (jargas) rumah tangga. Selain akan mendekatkan akses energi kepada masyarakat, optimalisasi pemanfaatan gas bumi di dalam negeri juga berpotensi mengurangi subsidi dan impor gas minyak cair (liquefied petroleum gas/LPG).

Sejalan dengan itu, pemerintah pun melakukan sejumlah perbaikan, mulai dari menyiapkan insentif harga gas hingga memberikan kesempatan kepada perusahaan swasta nasional maupun asing untuk dapat ikut terlibat dalam pengerjaan salah satu proyek strategis nasional (PSN) tersebut.

Selama ini, pelaksanaan proyek yang diharapkan dapat mengurangi ketergantungan impor dan subsidi elpiji tersebut bisa dikatakan tersendat-sendat. Besarnya biaya pembangunan pipa dan infrastruktur yang dibangun langsung menuju rumah menjadi salah satu kendala yang membuat lambannya proyek percepatan pemanfaatan gas bumi itu.


3. Masa Depan Penghiliran Sawit dan Emitennya

Masa depan cerah hilirisasi minyak sawit terancam direnggut imbas aturan deforestasi dari Eropa (EUDR). Padahal, kinerja industri olahan minyak sawit berpotensi tumbuh mencapai US$107,02 miliar atau setara Rp1.688 triliun pada 2028. 

Berdasarkan perhitungan Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) mencatat potensi tersebut tumbuh 70% dalam waktu 5 tahun ke depan atau naik dari kinerja tahun 2023 yang mencapai US$62,9 miliar. 

Plt. Ketua Umum DMSI Sahat Sinaga mengatakan masih banyak pekerjaan rumah dari sisi riset teknologi pengolahan, skema bisnis hingga pengembangan pasar ekspor non-tradisional.  


4. Prabowo Presiden, Indonesia Makin Lengket Sama China?

Hubungan internasional terkait urusan bisnis dan investasi antara Indonesia dengan China diyakini bakal makin mesra dan erat pasca keluarnya hasil Pemilihan Umum (Pemilu) 2024.

Pasalnya, hasil sementara dari berbagai survei menunjukkan bahwa pasangan capres-cawapres 02 Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka sejauh ini unggul dalam perolehan suara.

Meskipun hasil sementara tersebut belum menjadi jaminan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 akan berlangsung satu putaran, dan juga belum jaminan pasangan itu akan menang pada putaran kedua.


5. Keunggulan Sementara Prabowo-Gibran Sedot Aliran Modal Asing Meski Rupiah Loyo

Aliran dana dari investor asing membanjiri pasar modal Indonesia di saat perhelatan pesta demokrasi pada tahun ini. Sayangnya rupiah justru menunjukkan pelemahan seiring dengan pengumuman data perdagangan. 

Bank Indonesia (BI) mencatat aliran masuk modal asing sebesar Rp4,07 triliun di pasar keuangan domestik pada pekan ketiga Februari 2024. 

Aliran deras dana asing ini setelah sejumlah lembaga survei memperkirakan Pemilu 2024 akan berlangsung satu putaran dengan keunggulan pasangan Prabowo-Gibran yang mengkampanyekan keberlanjutan. 


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Nindya Aldila

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.