Transaksi Aset Kripto Per April 2024 Capai Rp 211 Triliun, Edukasi Digenjot!

Mengutip data Badan Pengawas Berjangka Perdagangan Komoditi (Bappebti), jumlah investor mencapai 20 juta investor kripto dengan total transaksi mencapai Rp211,1 triliun hingga April 2024.

Tim Redaksi

4 Jun 2024 - 20.39
A-
A+
Transaksi Aset Kripto Per April 2024 Capai Rp 211 Triliun, Edukasi Digenjot!

Ilustrasi aset kripto./Istimewa

Bisnis, JAKARTA – Investasi aset kripto di Indonesia mengalami pertumbuhan pesat dan telah mencapai nilai transaksi Rp211,1 triliun pada 2024. Serba-serbi pun menyeruak, pentingnya edukasi hingga aset kripto pilihan investor.

Mengutip data Badan Pengawas Berjangka Perdagangan Komoditi (Bappebti), jumlah investor mencapai 20 juta investor kripto dengan total transaksi mencapai Rp211,1 triliun hingga April 2024.

Pertumbuhan investor dan nilai transaksi tersebut tercermin pula dalam kinerja Bitcoin pada Mei 2024. Bitcoin (BTC) sempat melesat mencapai US$ $70,275 pada perdagangan Senin (3/6/2024) dan melanjutkan kenaikan pasca BTC berhasil menutup bulan Mei dengan hasil positif dengan kenaikan sebesar 11,07%. Dengan pencapaian tersebut BTC berhasil mematahkan tren Sell In May yang telah terjadi dalam 3 tahun terakhir.

Seiring pertumbuhan investor dan perputaran investasi kripto di Indonesia, PT Bursa Komoditi Nusantara (CFX), bursa kripto yang teregulasi di Indonesia menekankan pentingnya edukasi terhadap investor. CFX terus mendukung dan mengapresiasi berbagai kegiatan edukasi dan literasi mengenai aset kripto, salah satunya melalui dukungan penuh CFX pada kegiatan Bulan Literasi Kripto (BLK) 2024 yang terselenggara sepanjang Mei 2024.

Direktur Utama CFX Subani mengatakan BLK merupakan bagian penting perjalanan mengedukasi masyarakat dalam rangka meningkatkan pemahaman tentang investasi kripto. CFX meyakini rangkaian edukasi yang telah dijalankan dalam BLK ini berdampak positif tidak hanya bagi partisipan yang mengikuti, melainkan dapat bisa mendorong kemajuan industri kripto di Indonesia.

BLK 2024 merupakan inisiasi dari Asosiasi Pedagang Aset Kripto Indonesia-Asosiasi Blockchain Indonesia (Aspakrindo-ABI). Mengusung tema “Exploring Crypto for Tommorrow’s Landscape”, berbagai kegiatan BLK 2024 mulai dari opening hingga roadshow yang diisi berbagai kegiatan workshop, seminar, webinar, dan diskusi panel dengan menghadirkan berbagai narasumber berpengalaman yang mampu menarik ribuan peserta.

Baca Juga :

 

CFX juga turut andil berpartisipasi dalam kegiatan BLK 2024 di antaranya menjadi pembicara dalam acara yang diadakan oleh Aspakrindo di Yogyakarta bertema “Tren Narasi Kripto Pasca Halving”. Direktur CFX Lukas Lauw hadir memberikan informasi mengenai bursa kripto, perannya, serta ekosistem di dalamnya.

Kegiatan lainnya, CFX mengadakan seri diskusi EduKripto bertemakan “Yuk Berkenalan dengan Ekosistem Kripto” dengan menggandeng Badan Pengawas Berjangka Perdagangan Komoditi (BAPPEBTI) yang dihadiri oleh Kepala Biro Pembinaan dan Pengembangan Perdagangan Berjangka Komoditi BAPPEBTI Tirta Karma Senjaya, serta dua lembaga Self-Regulatory Organization (SRO) yakni PT Kliring Komoditi Indonesia (KKI) dan PT Kustodian Koin Indonesia (ICC), serta melibatkan anggota bursa yakni Pluang.

“Rangkaian kegiatan Bulan Literasi Kripto 2024 resmi berakhir di penghujung bulan Mei 2024. Meski begitu, komitmen CFX untuk mendukung kegiatan edukasi dan literasi akan terus berjalan sebagai bagian inisiatif untuk memperkuat pemahaman masyarakat tentang investasi aset kripto," ungkapnya, dikutip Selasa (4/6/2024).

Aset Kripto Pilihan

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Coinvestasi kepada 1.086 responden pada Desember 2023 sampai Januari 2024 yang dipublikasikan oleh Indonesia Crypto Network berjudul “Latest Survey: 5 User Behaviors of Indonesian Crypto Investor” mengungkapkan, dana alokasi masyarakat Indonesia untuk berinvestasi crypto sebesar 53% menghabiskan lebih dari Rp500.000. 

Kepala Biro Pembinaan dan Pengembangan Perdagangan Berjangka Komoditi (PBK) Bappebti Tirta Karma Senjaya mengungkapkan di tengah berbagai tantangan yang ada, transaksi investasi kripto di Indonesia pada kuartal I/2024 diisi dengan data yang menarik. 

"Di mana, lima besar aset crypto yang mendominasi perdagangan kripto di Indonesia adalah USDT, BTC, PEPE, SHIBA INU, dan DOGE. Terdapat pergeseran pilihan aset dibandingkan dengan kuartal IV/2023 lalu di mana koin seperti RNDR dan SOLANA ada di lima besar aset yang diperdagangkan bersandingan dengan BTC dan ETH," jelasnya.

Fenomena ini lanjutnya, menjadi tantangan bagi Bappebti agar tetap memberikan edukasi menyeluruh bagi investor kripto, menyiapkan ekosistem yang memberikan keamanan, dan mengimbau para pedagang kripto menjaga iklim kondusif dan stabilitas layanan.

Lebih jauh, Bappebti dipercaya oleh pemerintah meregulasi aset kripto menyoroti aspek yang masih menjadi tantangan industri. Pertama, terkait ruang lingkup investasi kripto dari hulu ke hilirnya yang sangat luas, sehingga hal ini menjadi tantangan yang cukup besar bagi Bappebti bisa meregulasi secara baik.

Namun, Bappebti juga tetap memberikan ruang eksplorasi dan inovasi bagi industri maupun pendukung ekosistemnya, serta memberikan keamanan dan kenyamanan investasi bagi para investor. Menurut Tirta, menjadi tantangan dan tanggung jawab bersama khususnya pemerintah agar bisa mengatur terkait dengan penggunaan blockchain ini. 

"Kami yakin dari sisi hulu ini akan memberikan keuntungan besar bagi Indonesia jika dikembangkan lebih jauh lagi. Tentu saja kami akan menggandeng pemerintah dan kementerian lembaga terkait supaya bersama-sama membangun industri crypto dari hulu ke hilir,” tambahnya.

Baca Juga :


Tantangan Kripto

General Counsel PINTU Malikulkusno Utomo menjabarkan tantangan yang dihadapi oleh industri kripto Indonesia dari sisi pedagang. Menurutnya, terdapat dua tantangan. 

Tantangan pertama, senada dengan pernyataan dari Bappebti mengenai aturan dari hulu hingga hilir. Alasannya, investasi kripto bergerak sangat cepat dan dinamis dengan berbagai use cases yang muncul setiap harinya. 

"Investasi perdagangan spot hanyalah salah satu produk, sementara banyak hal lain seperti Decentralized Finance (DeFi), NFT, Web3, dan produk crypto lainnya yang menjadi tantangan seluruh pihak,” katanya.

Adapun, tantangan kedua mengenai edukasi di tengah meningkatnya jumlah investor dalam waktu cepat. Para perantara perdagangan aset kripto, seperti PINTU memiliki komitmen terus melakukan edukasi kepada masyarakat yang sudah bisa dilihat dari berbagai kegiatan komunitas seperti webinar, roadshow ke berbagai kampus dan memanfaatkan berbagai platform. 

"Namun, kami justru melihat ada sarana lain untuk edukasi yaitu langsung mencoba berinvestasi crypto. Hal tersebut menjadi bagian dari perjalanan self-learning investor bahwa terdapat berbagai risiko di dalam investasi crypto. Jadi investor yang sudah mencoba diharapkan secara perlahan melakukan riset hingga menentukan profil risiko dan alokasi persentase dana yang akan diinvestasikan ke aset crypto,” jelasnya.(Hafiyyan, Rinaldi Azka)


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Rinaldi Azka
Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.