Tren Baru Perhotelan Saat Pandemi, dari Kapsul hingga Glamping

Pandemi Covid-19 mengubah hampir semua sendi kehidupan termasuk di sektor pariwisata berikut properti yang berkaitan dengannya. Belakangan muncul fenomena hotel kapsul dan glamping ata berkemah dengan gaya tinggi alias glamour.

M. Syahran W. Lubis

3 Apr 2022 - 19.43
A-
A+
Tren Baru Perhotelan Saat Pandemi, dari Kapsul hingga Glamping

Ilustrasi glamping atai berkemah glamour./Tiket com

Bisnis, JAKARTA – Selama beberapa bulan terakhir, setelah pandemi Covid-19 melandai meski belum sungguh-sungguh pergi, muncul revenge travel di seantero dunia alias balas dendam untuk berlibur selama lama terkungkung di rumah.

Di Indonesia, fenomena ini tampak dari mulai kembali macetnya kawasan Puncak di Jawa Barat serta mulai ramainya kawasan pariwisata di Bali. Hal serupa tampak di Yogyakarta dan Bandung.

Aksi “balas dendam” ini berdampak positif bagi perkembangan sektor pariwisata termasuk properti di dalamnya seperti subsektor perhotelan. Namun, kebangkitan ini harus terus disertai dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat.

Di tengah revenge travel ini, muncul pula fenomena baru yaitu hotel kapsul. Ini menjadi peluang baru bagi properti yang berkaitan dengan bisnis pariwisata. Menurut kajian tiga konsultan/periset yakni Alvara, Invesnture, dan Ivosights, hotel kapsul bukan hanya muncul di kota-kota besar, melainkan juga diprediksi akan hadir di kota-kota kecil yang berdekatan dengan Destinasi Super Prioritas yakni Danau Toba, Borobudur, Mandalika, Labuan Bajo, dan Likupang.

Bobobox misalnya, salah satu operator hotel kapsul, sangat agresif dan ekspansif jutsru pada masa pandemi Covid-19. Mereka juga banyak berinovasi dengan juga menawarkan glamping alias glamour camping dengan nama Bobocabin hingga campervan (Bobovan).

Kehadiran hotel kapsul semacam ini menguntungkan bagi wisatawan yang tak terlalu banyak memiliki dana, karena rate yang disodorkan juga jauh lebih murah dibandingkan dengan hotel konvensional.

Tren berkemah dengan nuansa glamour atau kemewahan ini akan menjadi tren pasca-pandemi, karena wisatawan makin memiliki keterikatan dengan alam serta pola hidup yang lebih sehat dan green lifestyle.

Tanah Lot di Tabanan, Bali, salah satu destinasi utama./Antara

Dalam perkembangan seperti itu, glamping menjadi salah satu opsi yang menarik. Selarang pelancong mengarah ke tendah berdesain unik dengan pertukaran udara yang lancar. Minat itu pun didorong oleh keinginan bertualang dengan konsep berkelanjutan atau berwawasan lingkungan.

Para wisatawan mencari konsep liburan dengan tetap menerapkan social distancing dengan tiada kerumunan dan minim sentuhan, serta mencari atraksi wisata berbasis natur, ecotourism, welness, adventure (NEW-A) yang semua itu terakomodasi di glamping.

Sekarang semakin banyak operator glamping khususnya di destinasi-destinasi unggulan seperti Bali, Yogyakarta, Bandung, Danau Toba, dan Banyuwangi.

Di tengah persaingan bisnis perhotelan yang makin ketat, muncul berbagai inovasi untuk mencari diferensiasi dan menguatkan positioning hotel. Salah satu konsepnya adalah mengawinkan pariwisata dengan industri kreatif melalui penggunaan berbagai produk yang mempunyai intellectual property (IP).

Tujuan wisata Danau Toba di Sumatra Utara./Antara

Hal ini antara lain dilakukan oleh Hotel Cartel di Bandung yang sangat mengedepankan kekayaan intelektual dan kamar-kamarnya secara apik dibungkus dengan unik. Hotel itu menggandeng IP kreator lokal Indonesia seperti Dagelan, Tahilalats, Museum of Toys, Bumi Langit Universe, Gatot Kaca, dan Gundala. Hasil karya IP creator itu menghiasi setiap kamar hotel tersebut.

Ekosistem pariwisata dan ekonomi kreatif yang tengah dikembangkan di lima Destinasi Super Prioritas nantinya dapat memperkaya pengalaman wisatawan yang kemudian bisa meningkatkan spending dan lama tinggal mereka sehingga terwujud pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan.

Kunci Pemulihan

Saolah satu kunci pemulihan sektor pariwisata pada masa pandemi adalah insentif di sisi demand atau konsumen, baik yang diberikan pemerintah maupun perusahaan penyedia jasa wisata. Pemberian insentif atau subsidi kepada konsumen untuk berwisata akan menciptakan angin segar bagi pelaku industri pariwisata.

Sebut saja program Work from Bali sehingga instansi-instansi pemerintah dan BUMN-BUMN diarahkan untuk berkegiatan di Bali. Destinasi-destinasi lainnya pun ingin kebagian program ini. Work from Destination atau workcation akan menjadi tren yang diminati konsumen, khusus segmen bisnis melalui wisata insentif.

Hotel kapsul/Bukalapak

Ada pula satu kegiatan wisata yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan yakni wellness tourims atau wisata minat khusus untuk menjaga kebugaran. Ini berpotensi terus berkembang selama dalam proses menuju era kenormalan baru, bahkan juga setelah pandemi berlalu.

Kita ambil contoh Solo yang berpotensi dikembangkan menjadi destinasi wisata herbal, karena memiliki banyak produksi minuman berbahan dasar alami. Selain jamu-jamuan, terdapat pula potensi aromaterapi, meditasi, makanan sehat, hingga jelajah alam, dan jelajah kota yang layak dikembangkan.

Kemudian potensi wisata kebugaran di Yogyakarta selain jamu adalah tradisi pijat ala Jawa, beksan meditasi, terapi seni, makanan sehat, retret, juga seperti Solo jelajah alam dan kota.

Begitu pula dengan Bali yang tengah bersiap untuk menjadi setinasi wisata kesehatan. Selain menyiapkan objek wisata untuk layanan kecantikan, Pulau Dewata berencana mengembangkan wisata olahraga khusus yoga dan meditasi di Pulau Nusa Dharma.­

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: M. Syahran W. Lubis

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.