Tren Bertumbuh Premi, Masuknya Asuransi Digital

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat premi asuransi jiwa mengalami rebound dan bertumbuh pada Januari 2024. Hal ini menumbuhkan harapan akan kesadaran masyarakat memanfaatkan asuransi.

Tim Redaksi

6 Mar 2024 - 08.52
A-
A+
Tren Bertumbuh Premi, Masuknya Asuransi Digital

Ilustrasi asuransi./BISNIS-ARF

Bisnis, JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan bahwa premi asuransi jiwa mengalami rebound pada awal tahun 2024. Tercatat, premi asuransi jiwa tumbuh 8,24% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tertekan -5,25%.

Hal itu disampaikan Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono mengatakan bahwa premi asuransi jiwa mampu mencapai Rp17,34 triliun pada Januari 2024 dibandingkan posisi yang sama 2023 (year-on-year/yoy) hanya Rp16,02 triliun.

Ogi menambahkan bahwa pertumbuhan juga terjadi pada premi asuransi umum dan reasuransi yang mencapai 30,09% yoy menjadi Rp18,91 triliun dari sebelumnya Rp14,53 triliun.

“Premi asuransi jiwa tumbuh 8,24% yoy serta premi asuransi umum dan reasuransi tumbuh 30,09% yoy,” kata Ogi dalam Konferensi Pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) OJK Bulanan Februari 2024 secara daring, Senin (4/3/2024). 

Dari sana, pendapatan premi asuransi komersial mencapai Rp36,25 triliun atau meningkat 18,63% yoy. Senada, OJK mencatat aset industri asuransi komersial naik 3,87% yoy menjadi Rp903,07 triliun pada Januari 2024.

“Kinerja tersebut didukung oleh permodalan yang solid di mana industri asuransi jiwa dan asuransi umum mencatatkan risk-based capital [RBC] masing-masing 447,68% dan 344,32%,” ungkapnya.

Sedangkan untuk asuransi wajib, OJK mencatat nilai aset terkait program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM) mencapai Rp4,41 triliun.

Beralih ke asuransi sosial, total aset BPJS Kesehatan per Januari 2024 mencapai Rp106,20 triliun, atau turun dibandingkan posisi yang sama 2023 senilai Rp114,43 triliun.

Pada periode yang sama, Ogi menyampaikan bahwa total aset BPJS Ketenagakerjaan mencapai Rp738,05 triliun. Asetnya mampu tumbuh 13,08% dibandingkan posisi Januari tahun lalu.

“Aset BPJS Ketenagakerjaan  itu terdiri dari aset yang terkait dengan program asuransi sebesar Rp187,48 triliun atau naik 11,92% dan aset yang terkait dengan program pensiun sebesar Rp629,31 triliun, naik 13,28% yoy,” pungkasnya.

Baca Juga : Memasuki Musim Mudik Lebaran, Perlukah Rumah Diasuransikan? 

Asuransi Digital

Asuransi kesehatan dan jiwa mulai digandrungi oleh para masyarakat. Hal ini karena adanya asuransi digital yang informasi dan pengajuannya bisa diperoleh masyarakat lebih mudah.

Head of Digital Marketing BCA Life Vera Lisnan menerangkan biasanya pengajuan asuransi ini tidak terkait dengan momen tertentu seperti ramadan dan lebaran. Dia menjelaskan asuransi ini dibutuhkan tidak seperti membeli makanan yang langsung membeli jika tertarik. 

Dalam asuransi, masyarakat akan menimbang dan berpikir kembali apakah membutuhkan asuransi atau tidak. "Kalau asuransi digital ini, sudah masuk belum tentu langsung beli, mereka berpikir-pikir dulu, baru direminder mereka baru pembelian," ujarnya, dikutip Selasa (5/3/2024).

Baca Juga : Premi Industri Asuransi Umum 2023 Naik Dobel Digit ke Rp103,86 Triliun 

Vera melanjutkan, pengajuan asuransi sebenarnya cukup merata, sehingga tidak ada kenaikan dalam tren tertentu. Dia bilang, justru asuransi ini dibutuhkan masyarakat setiap waktu, jika masyarakat memang butuh asuransi, maka dia langsung mengajukan. 

Apalagi, masyarakat juga akan menimbang kembali premi yang dibayarkan dalam asuransi tersebut. Dalam hal ini, Vera menyebut, BCA Life memberikan premi yang sangat murah bagi asuransi kesehatan dengan premi yang dibayarkan hanya Rp14.000 per bulan. 

Selain itu, pengajuan asuransi di BCA Life juga tanpa harus medical check up. Vera menambahkan, asuransi digital bagi generasi milenial saja. Pasalnya, pengajuan asuransi secara digital bisa untuk usia 64 tahun. 

"Salah satu efek digital secara asuransi ini masih awareness, salah satu contohnya, terpapar informasi di media sosial, ada produk asuransi, pasti produknya dipelajari sebenarnya itu salah satu awareness, tergantung dari penjualan, walaupun ada yang nggak cocok asuransi, sehingga mencari produk lain," kata dia.(Rika Anggraeni, Aziz Rahardyan)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Rinaldi Azka
Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.