Tsunami Aceh, Pelajaran Menghadapi Bencana Akibat Gempa

Ratusan rumah, juga ratusan gedung pemerintah, serta ribuan jalan mengalami kerusakan. Tsunami juga menyebabkan ribuan orang harus mengungsi. Perserikatan Bangsa Bangsa mencatat setidaknya ada 170 ribu korban tewas dalam peristiwa tersebut.

Redaksi

26 Des 2021 - 15.40
A-
A+
Tsunami Aceh, Pelajaran Menghadapi Bencana Akibat Gempa

Tsunami menghancurkan Aceh pada 26 Desember 2004/Instagram-Ridwan Kamil.jpg

Bisnis, SOLO - Istilah tsunami yang semula hanya dikenal sebagai bagian dari pelajaran geografi di bangku sekolah di Indonesia menjadi fakta yang menyeramkan di Aceh. Tepatnya, pada 26 Desember 2004, Aceh direndam gelombang tsunami dahsyat.

Hal itu bermula dari gempa bermagnitudo 9,3 yang melanda Aceh. Gempa yang disusul tsunami tersebut meluluhlantakkan Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Gempa bumi dahsyat itu terjadi selama 10 menit, berpusat di Samudra Hindia pada kedalaman 10 km di dasar laut. 

Beberapa saat kemudian, tsunami datang menyapu daratan. Ketinggian air mencapai sekitar 30 hingga 51 meter. Bencana besar tersebut mengakibatkan banyak korban jiwa. Dalam waktu 30 menit, sapuan air laut menenggelamkan pesisir Aceh dengan kecepatan 100 meter per detik. 

Ratusan rumah, juga ratusan gedung pemerintah, serta ribuan jalan mengalami kerusakan. Tsunami juga menyebabkan ribuan orang harus mengungsi. Perserikatan Bangsa Bangsa mencatat setidaknya ada 170 ribu korban tewas dalam peristiwa tersebut. PBB pun menetapkan bencana di Aceh pada 26 Desember 2004 itu sebagai bencara kemanusiaan terbesar yang pernah terjadi. 

Ahli mengatakan bencana di Aceh pada 2004 adalah gempa terbesat ke-5. Dampak gempa dan tsunami di Aceh juga dirasakan beberapa negara lain. Berdasarkan pemberitaan di tahun 2004, gempa dan tsunami Aceh menyebabkan Teluk Bengali, India, Srilanka, dan wilayah Thailand mengalami dampak yang mengerikan. 

Bencana besar itu pada tahun 2009 direkam dalam Museum Tsunami Aceh yang terletak di Kota Banda Aceh. Arsitek museum tersebut adalah Ridwan Kamil yang saat ini menjabat Gubernur Jawa Barat. Seperti dikutip Tempo, Kang Emil mengingatkan kembali fungsi utama bangunan Museum Tsunami Aceh. 


Bangunan tersebut bukan sekadar merekam peristiwa bencana alam yang begitu dahsyat pada masa itu, namun juga bermanfaat untuk evakuasi jika sewaktu-waktu terjadi bencana. 

"Jangan lupa fungsi utama gedung ini (Museum Tsunami Aceh) untuk penyelamatan," kata Ridwan Kamil di Banda Aceh. 

Beberapa unsur penyelamatan yang terdapat pada bangunan itu, menurut dia, antara lain atapnya yang terbuat dari beton supaya kokoh dan banyak tangga yang tersusun sampai ke belakang bangunan. 

Ridwan Kamil mengatakan ribuan orang bisa berlindung pada bangunan museum itu apabila terjadi bencana. 

"Ini konsep bangunan yang responsif terhadap bencana," ujarnya. 

Selain dua fitur evakuasi tersebut, Museum Tsunami Aceh juga memiliki ruang terbuka supaya pengunjung dapat memilih masuk ke dalam gedung atau di luar saja.(Restu Wahyuning Asih)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Saeno

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.