Tugas Berat Menjaga Keterjangkauan Tarif Internet pada 2022

Bisnis internet di sektor ritel atau perumahaan masih akan bertumbuh pesat pada 2022. Di tengah potensi pertumbuhan tersebut, penyedia jasa internet harus dapat menjaga kualitas layanan dan harga layanan agar tetap stabil.

Leo Dwi Jatmiko
Dec 26, 2021 - 2:30 PM
A-
A+
Tugas Berat Menjaga Keterjangkauan Tarif Internet pada 2022

Pemilihan router yang tepat menjadi penting dalam mendukung teknologi, spesifikasi dan fitur yang mendukung layanan internet./istimewa

Bisnis, JAKARTA — Upaya menjaga kualitas dan keterjangkauan harga layanan internet bakal menjadi isu menantang di industri telekomunikasi pada 2022, seiring dengan permintaan dan trafik data yang diproyeksi terus menguat pada tahun depan. 

Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) Muhammad Arif mengatakan bisnis internet di sektor ritel atau perumahaan masih akan bertumbuh pesat pada tahun depan. 

Di tengah potensi pertumbuhan tersebut, penyedia jasa internet harus dapat menjaga kualitas layanan dan harga layanan agar tetap stabil.

“Kualitas layanan dan kestabilan harga saya rasa yang harus dijaga,” kata Arif, Minggu (26/12/2021). 

Dia menilai persaingan yang ketat antarpenyedia layanan internet atau internet service provider (ISP) telah mendorong pada harga layanan yang sangat terjangkau bagi masyarakat.  

(BACA JUGA: Layanan Internet di Indonesia Makin Murah)

Merujuk survei yang dilakukan oleh Cable.co.uk pada 2019, rata-rata harga layanan internet tetap di Indonesia senilai US$29,01 atau sekitar Rp414.400 per bulan. 

Indonesia menempati urutan ke-53 dari 211 negara dengan harga layanan internet termurah. 

(BACA JUGA: Operator Kompak Amankan Risiko Lonjakan Trafik Data saat Nataru)

Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) Ririek Adriansyah mengatakan layanan internet tetap (fixed broadband) pada 2021 sudah menjangkau lebih dari 10 juta rumah. 

Penetrasi internet di masyarakat masih akan berlanjut pada 2022 karena gaya hidup setelah pandemi dan saat pandemi tidak jauh berbeda. Secara umum, industri telekomunikasi diprediksi pada tahun depan tumbuh 3 persen secara year on year (YoY). 

(BACA JUGA: Incar Korporasi, OneWeb Boyong Satelit Orbit Rendah ke Indonesia)

“Jadi secara umum industri telekomunikasi pada tahun depan masih akan tumbuh single digit, perkiraan kita sekitar 3 persen secara tahunan,” kata Ririek.

Dibandingkan dengan 2021, secara persentase lalu lintas data pada tahun depan diprediksi naik dua digit. 

Dalam kaitan itu, Ketua Umum Indonesian Digital Empowering Community (Idiec) M. Tesar Sandikapura mengatakan penggunaan internet dalam jumlah besar saat ini telah menjadi kebutuhan. 

Sejumlah aktivitas bekerja dan belajar dilakukan dari rumah yang membutuhkan internet. 

Perangkat dan aplikasi pun sudah berkembang dan makin boros dalam saat mengonsumsi data. Konsumsi data yang makin tinggi ini, menurut Tesar, jangan sampai diikuti dengan harga tarif yang makin mahal.

“Jadi walaupun tarif tidak naik, konsumsi data masyarakat makin tinggi masalahnya. Sama dengan 5G nanti, bisa jadi dia lebih murah, tetapi karena cepat habis jadi mahal,” kata Tesar. 

Sebagai gambaran, pada kuartal III/2021, lalu lintas data operator seluler naik cukup signifikan dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. 

Telkomsel mencatatkan lalu lintas data sebesar 10,04 juta terabyte (TB) naik 50,4 persen secara tahunan, sementara itu Indosat mencatat lalu lintas data sebesar 4,83 juta TB naik 39,2 persen.  XL Axiata mencatatkan lalu lintas data sebesar 4,68 juta TB naik 34,1 persen secara tahunan. 

Tesar menganalogikan 10 tahun lalu, data sebesar 3 GB  dengan harga Rp100.000 sudah cukup untuk satu bulan. 

Saat ini kuota sebesar 3 GB hanya cukup untuk 57 hari. Alhasil, jika harga dahulu diterapkan saat ini, maka satu orang bisa menghabiskan dana sekitar Rp400.000 untuk internet. 

Nilai tersebut, menurut Tesar, akan membebani masyarakat di tengah upaya pemerintah untuk mendorong percepatan transformasi dan adopsi digital di masyarakat. 

Dia mengatakan dalam menaikkan tarif harus sesuai dengan skala keekonomian. Menurutnya, terlalu mahal jika seseorang harus menghabiskan uang hingga Rp200.000 per bulan, untuk pemakaian internet yang biasa saja. 

“Jadi tidak bisa bicara tarif, kalau mau kita ukur dari pemakaian internet di rumah, berapa besar rata-rata dalam 1 bulan,” kata Tesar.

Tesar juga meminta Kementerian Komunikasi dan Informatika memperhatikan tarif yang diberikan operator kepada masyarakat. Menurutnya, beberapa operator terus menaikkan tarif layanan di tengah kebutuhan masyarakat akan internet yang makin tinggi. 

Kondisi tersebut berisiko membebani masyarakat. “Dibandingkan dengan tahun lalu, sekarang lebih mahal,” kata Tesar. 


TANTANGAN EKSPANSI

Pada perkembangan lain, pandemi Covid-19 yang belum terkendali menjadi hambatan terbesar bagi para penyedia infrastruktur telekomunikasi dalam menggelar jaringan sepanjang 2021. 

Angka positif Covid-19 di Tanah Air sempat memuncak pada pertengahan 2021 membuat perusahaan penyedia jaringan sulit masuk ke pasar korporasi, baik untuk menggelar jaringan, atau sekadar melakukan kegiatan pemasaran. 

Ketua umum Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi (Apjatel) Jerry Siregar mengatakan sepanjang 2021 ini, bisnis penyedia infrastruktur telekomunikasi masih kurang terlalu berjalan dengan normal.

Penyedia infrastruktur kesulitan untuk masuk pasar korporasi dan perusahaan.

“Hal ini sangat berdampak langsung pada anggota yang fokus pasarnya di korporasi dan perusahaan dan lain sebagainya,” kata Jerry. 

Dia menambahkan meski mengalami kesulitan untuk masuk pasar korporasi, permintaan beralih ke pasar ritel. Aktivitas bekerja dan belajar dari rumah membuat permintaan terhadap layanan internet tetap di segmen ritel menjadi meningkat. 

Selain itu, jika dibandingkan dengan tahun lalu, pendapatan penyedia infrastruktur dan jasa telekomunikasi mulai mengalami peningkatkan. Dia belum dapat menyebutkan jumlah peningkatan tersebut.

“Ada pergerakan dan kebaikan dari perolehan pendapatan karena tampaknya Covid-19 sudah mulai terkendali,” kata Jerry. 

Menurutnya, agar pelaku industri telekomunikasi dapat memberikan layanan internet yang lebih baik dan memangkas kesenjangan digital, pada tahun depan Apjatel akan meningkatkan komunikasi, kolaborasi dan kerja sama dengan seluruh pemangku kepentingan. 

Apjatel akan menjalin komunikasi dan kerja sama dengan sesama asosiasi, pemerintahan pusat dan daerah dalam peningkatan pelayanan dan perluasan layanan jaringan kepada masyarakat. 

Dari sisi korporasi, PT Mora Telematika Indonesia (Moratelindo) berencana mendorong layanan internet tetap Oxygen ke luar Jabodatabek pada tahun depan. 

Moratelindo melanjutkan strategi tahun ini untuk mengembangkan Oxygen, dengan menjangkau lebih banyak pelanggan pasar ritel dan pasar korporasi di daerah baru pada tahun depan. 

Presiden Direktur Moratelindo Galumbang Menak mengatakan ekspansi layanan Oxygen di luar Jabodetabek sudah dimulai sejak tahun lalu atau 2020. Untuk tahun depan, perseroan akan tetap fokus mendorong layanan ke luar Jabodetabek. 

“Dengan rencana tersebut kami berharap pelanggan rumah akan naik sekitar 50—75 persen pada 2022,” kata Galumbang. 

Sekadar informasi, saat ini layanan Oxygen telah tersedia di Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok, Bekasi, Medan, Jambi, Denpasar, Pontianak dan Pangkal Pinang. 

Per Oktober 2021 jumlah pelanggan Oxygen diklaim telah mencapai 100.000 pelanggan, Moratelindo menargetkan jumlah pelanggan Oxygen tumbuh dua kali lipat tahun depan menjadi 200.000 pelanggan. 

Tidak hanya itu, sambung Galumbang, Moratelindo juga berharap secara lalu lintas data naik lebih dari 25 persen di segmen korporasi, ritel dan pemerintahan. 

“Sementara untuk pendapatan mungkin hanya belasan persen [naik secara tahunan] karena tren penurunan harga selalu terjadi. Khususnya di wholesale dan korporasi,” kata Galumbang. 

Editor: Wike Dita Herlinda

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar